Lompat ke isi

108 Pendekar Gunung Liang San Seri II/KIU BUN LIONG SU TJIN MENDJADI PA ONG DI TJHIAK SIONG LIM. LO TIE DJIM MEMBAKAR HABIS KELENTENG WA KWAN SIE.

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas

KIU BUN LIONG SU TJIN MENDJADI
PA ONG DI TJHIAK SIONG LIM. LO TIE
DJIM MEMBAKAR HABIS KELENTENG
WA KWAN SIE.



Siapa jang melanggarnja, Sengsara menanti segera. Siapa jang menentangnja, musna bihari itu djuga. Kebersihan hati rakjat jang taat akan hukum, tak dapat menghindarkan dirinja Petjinta bangsa dan negeri hidup penuh tanda tanja? Dimanakah keadilan?

(Sandjak Feng Wei Min 1511-1530)

Lo Tie Djim lari dari djalan dibalik gunung melalui semak2 dan menerobos hutan2 belukar untuk menudju kekota Tongking.

Betapa sulit dan sukarnja perdjalanan jang dilaluinja kali ini . . . . . . . . . . .

Setelah 3 hari 3 malam Lo Tie Djim menerobos hutan belukar, dengan penderitaan jang amat berat. Maka pada hari jang keempat legalah hatinja, sebab sudah nampaklah kini sinar matahari jang panas dan tjemerlang. Segera ia mempertjepat larinja, karena perutnja dirasa amat lapar.

Sungguh senangnja bukan alang kepalang, sebab dihadapannja terlihat sebuah kelenteng tua, Pikirnja mungkin dikelenteng, ini, ada penghuninja, aku tidak djadi mati kelaparan . . . .

Tiba didepan kelenteng Lo Tie Djim mendjadi ketjewa, sebab di-mana² terlihat sawang Temangga jang menempel di-pintu², daun djendela dan tembok² tua jang bengkah². Suasana sunji sepi. tidak ada suasana desah napas Manusia Pintu tua itupun tertutup dengan rapat Lo Tie Djim mendobrak pintu itu dan bermaksud untuk beristrirahat di dalam. Tiba didalam ruangan kelenteng keadaannja sama djuga, Lo Tie Djim berseru dengan njaring:

“Adakah penghuninja kelenteng ini ? Aku Lo Tie Djim permisi untuk beristirahat!” berulang kali Lo Tie Djim berteriak-teriak sampai tenggorokkannja hapir kering. Namun tidak ada djawaban sama sekali. Sedang Lo Tie Djim membersihkan debu² lantai untuk tidur. Tiba² hidungnja mentjium bau masakan jang harum, sehingga ia tidak djadi mendjatuhkan dirinja, tetapi terus lontjat bangun dan lari kebelakang. Sampai di ruang belakang kelenteng tua itu Lo Tie Djim melihat 4-5 orang tua2 jang sedang duduk mengantuk. Orang2 tua itu wadjahnja putjat, badannja kurus kering dan pakaiannja tjompang tjamping, Lo Tie Djim mendekat san bertanja:

"Apakah jang kalian sedang kerdjakan? berulang kaliaku ber-teriak² permisi tetapi mengapa tak seorangpun dari kalian jang mendjawab?"

Hwe sio tua 4-5 orang itu memandang ke arah Lo Tie Djim dan menggojang-gojangkan tangannja . mereka tetap menutup mulut dan tak mau bitjara.

Lo Tie Djim: aku akan pergi kekota Tongking, karena amat letih dan lapar, bolehkah kiranja aku beristirahat disini?

Dan dapatkah kau menerimaku untuk menjediakan sedikit makanan dan minuman?

Salah seorang dari para Hwe Sio tua itu menjdawab segera :

„Kami sudah tiga hari ini tidak ada makanan, mana bisa menjediakan makanan untukmu.”

Lo Tie Djim:

Kamu berbohong ! „Aku mentjium bau masakan jang harum Bila kau tak mau menjediakan sedikit untukku aku akan mengambilnja sendiri!”

Tanpa menunggu djawaban lagi, langsung menudju kedapur. Disana nampaklah sebuah pantji besar jang sedang dipanasi diatas sebuah anglo besar. Lo Tie Djim membuka tutupnja, isi dalam pantji itu adalah bubur daging.

Karena tidak ada sendoknja, terpaksa Lo Tie Djim menghirup dengan mulutnja.

4-5 orang Hwee Sio tua itu mengedjar kedapur, tetapi sudah terlambat, sebab Lo Tie Djim telah memakan bubur kuah itu dengan lahapnja. Para Hwee Sio tua itu mengeluh dan tak dapat berbuat apa².

Tiba² masuklah seorang Biokong dan menghampiri Lo Tie Djim.

Para Hwee sio itu lalu berkata kepapa Lo Tie Djim:

“Inilah Oei Thian Yok Tjha Sitombak bertjagak mengarungi langit, bernama Khiu Too Djin alias Siauw It.”

Belum habis kata² Hwee sio tua itu, tiba² muntjul lagi seorang jang berwadjah agak hitam, badannja kekar dan tinggi besar.

Hwee Sio itu lalu memperkenalkan lagi pada Lo Tie Djim:

“Inilah Sing Thiat Hoo, si Lengan besi namanja Tjhui Too Sing.”

Kedua orang² gagah jang disebutkan oleh Hwee sio itu hanja memandang kearah Lo Tie Djim sedjenak, kemudian lonjat keluar melalui tepi tembok kelenteng sebelah kanan.

Lo Tie Djim amat tjuriga melihat gerak gerik orang² asing jang tak dikenalnja ini.

Maka tjepat² ia meninggalkan para Hwe sio tua itu, dan menggendjot tubuhnja mengikuti djejak Khiu Too Djin dan Tjhui Too Sing.

Kedua orang itu lari terus kearsh belakang kelenteng, djalanan ketjil jang dilalui ini ber-kelok² seperti liang ular

Lo Tie Djim berpikir, ini adalah djalan rahasia jang djarang diketahui umum. Aku pertjaja pasti disini sarang orang² golongan Hek Too Aliran sesat atau djalan hitam.

Apa jang diperkirakan oleh Hoohan kita ini ternjata betul.

Kedua orang itu setelah melihat kanan kiri dan kebelakang tidak ada orang jang mengikuti, langsung mereka berlontjat masuk kedalam sebuah ruangan dan tjepat² menutupkan pintunja.

Lo Tie Djim jang mengikuti sambil beremdap-endqp, setelah mengetahui jang diikutinja masuk kedalam ruangan, tjepat² Lo Tie Djim menggendjot tubuhnja naik keatas genteng. tubuhnja jang tinggi besar itu djatuh bagaikan daun rontok kebumi, hampir tidak menerbitkan suara apapun. Ini membuktikan bahwa ilmu mengentengkan tubuh dari Lo Tie Djim sudah tjukup matang. Lo Tie Djim sedikit menggeser sebuah genteng untuk melihat kebawah. Maka terlihatlag didalam ruangan itu diatur buah medja besar dan tiga tiga buah kursi. diatas medja itu disadjikan hidangan jang bermatjam2. Kursi jang tengah, duduklah seorang Hwee Sio jang tinggi gemuk, disampingnja duduk seorang nona jang berwadjah tjantik. Kedua orang jang diikuti Lo Tie Djim itu setelah memberi hormat pada Hwee sio; gemuk itu terus mengambil tempat duduk di samping wanita tjantik, Terdengarlah suara nona muda itu bertanja pada Hwee sio ;

„Kenapa ajahku tidak datang² ?"

Tjhui Too Sing mendjawab :

„Sabarlah nona, sebentar lagi Kim toaya pasti datang."

Nona muda itu menundukkan kepala dan menangis.

Melihat hal ini Lo Tie Djim tidak tahan lagi, pasti komplotan manusia2 sesat ini akan mentjelakakan ajah dan anak gadisnja, Lo Tie Djim berlontjat turun dan menggedor pintunja.

Khiu Too Djin tjepat2 membukakan pintu dan mempersilahkan Lo Tie Djim masuk. Hwee Sio gendut itu mempersilahkan Lò Tie Djim mengambil tempat duduk dan bertanja

„Loheng datang darimana ? Mengapa

bisa datang kemari ?"

Lo Tie Djim;

"Saja datang dari gunung. Thoo Hwa San, dan akan melandjurkan perdjalananku, menudju kekota Tongking. Disini aku melibat hal² ang mentjurigakan, maka aku datang ingin mengetahui.

Hwee sio gendut itu tertawa dan bertanja /

Apakah jang kau tjurigakan ? Ha. . . .hahah. . .haha..

Lo Tie Djim:

Kelenteng ini letaknja sangat terpentjil bisa djadi untuk tempat sarang penjamun. Aku lihat keadan jang sunji sepi, djuga 4-5 orang Hwee sio tua jang segan berbitjara padaku.

Katanja disini tidak ada tersimpan barang makanan, tetapi semuanja dusta. Didapur ada sepantji bubur daging dan disini, lihat ! Dia tas medja ini penuh dengan hidangan² jang, lezat haha. haha.. Hwee sio gedut itu menjeringai dan berkata:

"Kau tidak mengetahui keadaan jang sebenarnja, seperti jang kau tjeritakan, Hwee sio tua² itu adatah pendjudi, pemabuk dan suka bermain wanita. Maka Looheng, mereka telah kuhukum tidak kuberikan makan minum 4-5 hari.

Mereka takut berbitjara kepadamu, mungkin mengira kau adalah salah seorang tamu ku. Haha. . . .. hahaaa . ..ahaha. . . ." Khiu Too Djin dan Tjhui Too Sing ikut tertawa ter-gelak².

Lo Tie Djim:

"Bila demikian akulah jang berprasangka buruk. Minta ma'af dan permisi. Hwee sio gendut itu memerintahkan Tjhui Too Sing mengantar keluar Lo Tie Djim. Setelah Lo Tie Djim keluar, pintu ruangan itu tertutup lagi dengan rapat.

Lo Tie Djim tidak segera meninggalkan kelenteng jang misterius itu, tetapi dia langsung kembali kedapur kelenteng untuk menemui 4-5 orang Hwee sio tua 2 itu untuk meneliti kebenarannja.

Setelah Lo Tie Djim mendjumpai para Hwee sio jang kurus 2 itu, lalu menegurnja:

„Pantas kalian kurus kering dan akan mati. Aku tahu kalian sebenarja manusia2 jang bedjat, pendjudi, pemabuk, dan jah sungguh kelewatan Usia kalian sudah rata2 setengah abad lebib, tetapi masih suka djuga bermain wanita hahaha. . .hahaha. . .hahaha Hukuman untuk kalian tidak diberi makan 4-5 bari itu malahan terlalu ringan. Menurut aku. kalian harus dihukum gant ung Ba. . .haa. . . hahaha... haha..

4-5 orang Hwee Sio tua2 jang kurus kering itu, demi mendengar tuduhan Lo Tie Djim mendjadi hilang rasa kantuknja Mereka berdjingkrak bangun dan kontan membantah:

„Mana boleh djadi, kami adalah orang2 jang mengikuti Aliran Peh loo atau djalan uhan, segala kara 2 jang kau lontarkan kepada kami itu adalan fitnah ! Pantas kau djuga gendut, pastilah kau kambratnja bergadjul buaja hidung belang itu. Oh. Thian, Thian, semoga orang 2 seperti dia itu mendapat hukumanmu."

Lo Tie Djim mendjadi melengak, ia menegaskan :

„Djangan sembarang omong ! Aku bukan manusia hidung belang, buaja tjabul ! Hei! Aku bertanja. apakah kalian benar 2bukan pendjudi, pemabuk dan rojal? „Para Hwee Sio tua? itu membanting bantingkan kakinja, mereka amat marah:

"Mana bisa! Mana boleh djadi! Itu fitnah! Fitnah kotor dan kedji. . . . .ketahuilah kami adalah orang2 jang tekun mendjalankan ibadah. Kau diperdaja oleh si gendut jang pandai bermuslihat itu. Nona muda itu datang bersama ajahnja, tetapi dengan tangan kedji 2 orang kaki tangan sigendut jakni Khiu Too Djin dan Tjhui Sing telah membunuhnja. Dan anak gadis jang tinggal itu pasti akan didjadikan bulan² an ...... oh, kau terlalu gampang ditipu.

Mendengar keluhan dan tjerita dari Hwee sio tua ini berbalik Lo Tie Djim mendjadi naik darah, Geramnja:

"Binatang! Berani benar mempermain kan Toayarnu Baiklah aku akan menjerbu sarang mesum itu dan membunuh semua jang berundak kotor. "Selesai mengutjapkan kata². Lo Tie Djim lalu menggendjot tubuhnja untuk menudju ruang jang baru sadja ia tinggalkan (teks tidak terbaca) disana ia dapatkan pintu telah terkun ji Jengan rapat. Sadarlah Lo Tie Djim bahwa si Gendut itulah sebenarnja biang keladi dari pada kemesuman dan kekotoran. Kontan Lo Tie Djim menghadiar daun pintu itu dengan ilmu pukulannja jang dasjat Tay Lek Kim Kong Tjhiu atau pukulan geledek dari arhat mas Bergemuruhlah suara daun pintu iang lepas dari engselnja, belum Lo Tie Djim melangkahkan kakinja masuk telah muntjul seorang jang langsung menjerang dengan golok terhunus Setelah dielakkan serangan mendadak itu dan diteliti, ternjata sipenjerang ini Tihui Too Sing adanja.

Makin meluaplah amarah Lo Tie Djim, serunja:

„Kebetulan hari ini tuan besarmu bertemu dengan kau manusia rendah, bagimu hari ini adalah hari terachir untuk kau mengenjam kehidupan didunia. Sebentar lagi aku akan mengirimkan arwahmu kehadapan Giam Lo Ong si Malaikat pentjabut njawa, haha........ haha......... haha. hahaha........“

Dihina dan diedjek setjara demikian mendidihlah darah Tjhui Too Sing ia melantjarkan serangan² jang ganas dengan go oknja Djurus² jang dilantjarkan itu sebenarnja amat ganas dan kedji seperti Kong Poo Tjhian Too, Thie Gie Thuo Too dsb.........

Behera djurus telah berlalu dengan tjepat, bukannja Lo Tie Djim mendjadi keteter, bahkan sipenjerang itu sendirilah jang makin sibuk. sebab ternjata kalah unggul dan kalah lihay.

Tjhui Too Sing lalu ber-teriak² memanggil kontjonja !

“ Khiu Lauwko tjepat bantu aku untuk menangkap pengatjau ini, hajo, djangan sedji2 lagi ! “

Dari dalam ruangan segera muntjul Khiu Too Djin dengan sendjatanja jang berat Oei Thian Yok Tjua atau sendjata bertjagak tiga jang menggetarkan angkasa. Melawan dua orang jang tidak ringan ini, Lo Tie Djim mendjadi agak keteter, sebab2nja perutnja masih terlalu lapar, maka untuk mengerahkan tenaga jang besar rada sulit. Beberapa djurus kemudian Lo Tie Djim lalu menjampok sendjata2 Khiu Too Djin dan Tjhui Too Sing, begitu kedua penjerangnja itu mundur, tjepat2 Lo Tie Djim menggendjot tubuhnja keluar kalangan dan terus angkat kaki. Khiu Too Djin dan Tjhui Too Sing melihat lawannja lari, tidak mau mengedjar, mereka balik kedalam kamarnja dan menutup pintu rapat2.

Lo Tie Djim lari sampai kurang lebih- 300 meter tatu menghentikan larinja, sebab-ternjata Pauwhoknja jang berisi pakaian dan uang masih tertinggal diruang depan kelenleng misteriu itu.

ia berpikir .. .. kalau aku meneruskan perdjalananku, akan sulit djadinja, sebab tidak ada bekal dan tidak ada serep pakaian. lebih baik aku kembali dan mengambil Pauwhokku lagi...

Demikianlah Lo Tie Djim lalu memutar tubuhnja untuk kembali kekelenteng jang misterius tadi. Lari belum sepuluh langkah sampailah disebuah perempatan djalan Didepan ada berkelebat sesosok tubuh jang mentjurigakan Maka merandek dan meneliti dengan waspada. Orang itupun tjepat2 melompat ke-balik pohon. Lo Tie Djim lalu ber-endap endap mendekati pohon itu, setelah berhadap hadapan ternjata jang berada dibalik pohon itu adalah Kiu Bun Liong Su Tjin Ke-dua2 nja ber-rangkul2an dan sama tertawa terbahak bahak. Kata Su Tjin si Sembilan Naga Sakti :

„Sedjak berpisah dikota Kwan See, tidak terasa Waktu telah lewat hampir 4 bulan. Selama itu aku terus mentjari suhuku Ong Tjin tetapi sampai saat kinipun belum berdjumpa. Loheng kenapa kau bisa berada disini? Aku girang bertemu denganmu, haha, ,.... hahaha ......... Lo Tie Djim :

„Aku dari gunung Thoo Hwa San bersama Lie Tiong, Tjiu Thong dan para Liauw loonja, Karena aku berdjandji untuk tinggal di kota Tongking, maka kutinggalkin mereka. Sutee disini aku mampir dikelenteng Wa Kwan Sie untuk ngaso. Tidak tahu kalau kelenteng itu djadi sarang kemaksiatah D. . .ana berdiam komplotan bergadjul jang suka mempermainkan anak2 gadis....... aku terlalu lapar, dikelenteng itu baru makan_ sedikit bubur, mnnntjullah orang2 jang mentjurigakan. Aku ikuti dan kuselidiki dengan teliti, haha; : : haha... . betullah dugaanku. Tadi aku telah bertempur melawan dua musuh kosen. Sutee, kalau aku tidak kelaparan, belum tentu aku lari.“

Kiu Bun Liong Su Tjin membuka Pauwhoknja dan berkata :

“ Loheng, kebetulan didalam Pauwhok-masih tersimpan beberapa potong roti kering. Marilah kita makan bersama. Keduanja lalu duduk dibawah pohon itu dan makan ber-sama2.

Sambil makan Sutjin mengutarakan maksudnja :

” Loheng, aku nanti ikut bersamamu menghantam kawanan bergadjul itu. Biar dunia ini bersih dari segera kenadjisan dan ketjabulan. “

Lo Tie Djim mengangguk-anggukkan kepadanja :

“ Betul. betul, kalau bukan kita jang mau bertindak. Siapa lagi ? Sutee.ketahui lah kini pemerintah Song hanja sibuk dengan pembelian perdamaian Para penguasa tidak memikirkan kehidupandan penghidupan rakjat. Kedjahatan meradja lela, kebobrokan merata disemua Japisan rakjat .... Hajolah kita berdjuang membasmi kedjahatan. Kita dilahirkan sebagai Hoohan2 sedjati harus memberantas kesemuanja ini. Bila tidak kita berdosa terhadap rakjat dan Tuhan. Hahaha... . haha... .“

Su Thin: “ Loheng, kata2mu selalu membakar semangat, haha... .ha“ Lo Tie Djim: ,, Hajolah Sutee! Djangan sampai terlambat. Aku berchawatir akan nasib anak gadis jang telah disekapnja tadi.“

Sutjin berdiri dan meringkaskan pakaiannja.

„ Hajolah !“

Berdua mereka berlari tjepat untuk kembali kekelenteng Wa kwan Sie jang misterius itu. Tiba didepan gang bertemulah mereka dengan Khiu Too Djin dan Tjhui Too Sing. Lo Tie Djim menggeram :

„ Kini Toayamu sudah makan kenjang, dan saatnjalah untuk menghantarkan arwah kalian kelangit jang ketudjuh “

Tanpa banjak bitjara Khiu Too Dijin lalu menghunus Oai Thian Yok Tjhanja pertempuran segera terdjadi dengan sengitnja

Tjhui Too Sing jang menghunus goloknja dan akan menerdjaug mengerojok Lo Tie Djim, didahului Sutjin jang melantjarkan serangan²Koaynja dengan hebat Beberapa djurus kemudian terdengarlah pekik ngeri dari Tjhui Too Sing, sebab pukulan jang dasjat dari Lo Tie Djim telah mengenai batok kepalanja sehingga hantjur mumur. Khiu Too Djin bingung untuk melarikan dirinja, namun Sutjin si Sembilan naga Saku bukanlah anak kemarin sore Djurus² jang dahsjat dari Koayanja, Thay Tju Tjo Tjie atau Sang Pangeran membuat anak panah, tusukkan ini dilantjarkan keulu hati Khiu Too Djin, dan serangan ini tanpa reserve lagi. sebab saking tjepatnja. Maka menjusullah. djeritan jang mengerikan dari Khiu Too Djin, tubuhnja menggeletak, dan arwahnja menghadap Giam Loo Ong......

Selesailah sudah pertarungan jang hanja memakan beberapa saat, dan berdjalan beberapa djurus sadja.

Lo Tie Djim dan Kiu Bun Liong lalu melemparkan majat2 itu kedalam djurang di lamping gunung. Kemudian masuklah keduanja untuk mentjari sigendut dan nona tadi, 4-5 orang Hwee Sio tua2 itu sangat ketakutan dan djatuh pingsan, Lo Tie Djim berkata kepada Sutjin :

„Habisi sadja orang? jang ketor ini, mereka inilah kambratnja si Gendut tjabul.“

Sutjin tanpa ajal lagi membabat kepala bagaikan membabati rumput, sekaligus menggelindinglah 5 kepala Hwee Sio itu.

Disana didjumpainja, bahwa nona itu telah mendjadi majat jang terapung didalam sumur. Lo Tie Djim memberikan keterangan keterangan pada Sutjin:

„Saiang, terlambat, jah, kita datang terlambat. Nona ini saking takut kepada para bergadjul itu telah membunuh dirinja masuk kedalam sumur. Su Tee tunggulah disini, aku memeriksa lebih landjut. Lo Tie Djim lontjat keatas Wuwungan kelenteng dan bersuara dengan njaring:

„Buaja hidung belang lekas keluar ! Bila kau tetap umpatkan diri, kelenteng ini akan saja bakar.“

Berulangkali Lo Tie Djim ber-teriak², namun tidak ada balasan. Maka segera ia mengendjot tubuhnja untuk turun dan memberi perintah pada Sutjin

„Kita tjari kaju2 kering dan bakar habis kelenteng jang misterius ini. Kalau kelenteng ini tetap berdiri, aku chawatir akan muntjul orang² sesat lagi dan didjadikan sarang.”

Sutjin dan Lo Tie Djim segera mengumpulkan kaju² kering dan membakar kelenteng Wa Kwan Sie.

Sutjia :

„ Kelenteng ini memang tidak pantas didiami lagi.”

Setelah api itu ber-kobar2, maka Lo Tie Djim dan Kiu Bun Liong Sutjin meninggalkan kelenteng Wa Kwan Sie itu dalam keadaan masih terbakar.

Mereka lalu berdjalan lebih 3 Km, dihadapannja ada sebuah kedai nasi. Tjepat² keduanja memasuki kedai itu dan memesan beberapa matjam masakan serta arak.

Sambil makan minum dengan asjiknja, tiba² Lo Tie Djim lalu memandang kearah djalan raja, matanja redup dan saju.

Sutjin mengerti maksud Lo Tie Djim jang akan segera melandjutkan perdjalanannja. maka ia lalu memanggil pelajan dan membajar djumlah jang dimakannja.

Lo Tie Djim berkata pada Sutjin

Aku harapkan kau djuga bisa berkumpul dengan kami !

Lie Loheng dan adik Tjiu Thong sebenarnja menginginkan aku tinggal bersamanja, mereka tidak mengerti maksudku, maka pada suatu hari kutinggalkan mereka .... haha ......haha ha.... Tatkala mereka sedang sibuk menghadang seorang saudagar muda, aku tanpa berpamitan lagi. Aku lari dari balik gunung.

Dan Sutee, mungkin sudah saatnja bahwa kita ditugaskan oleh Thiap untuk membasmi segala kedjahatan. Maka pemusnahan kelenteng Wa Kwan Sie adalah tindakan kita jang pertama.....eh, aku melantur, Sutee kau sebenarnja akan kemana? Dan dimana tempat tinggalmu?”’

Kiu Bun Liong Sutjin mendjawab :

„ Aku tinggal di Siauw Hwa San, disini aku mentjari Suhu Ong Tjin, namun telah berminggu - minggu aku mentjari, tiada bertemu djuga. Loheng sukakah kau mampir ketempatku ?”

Lo Tie Djim:

” Aku segera pergi kekota Tongking, Satoe lain kesempatan sadja aku menengokmu di Siauw Hwa San.”

Lo Tie Djim lalu mengangkat Pauwhoknja dan ambil selamat berpisah dengan Sutjin.

Sutjin; „ Loheng selamat djalan, dan sampai berdjumpa lagi ! Djangan lupa kirim surat kepadaku !“

Sutjinpun mengangkat Pauwhoknja dan melambai-lambaikan tangan untuk Lo Tie Djim dengan langkah lebar mengikuti djalan raya untuk menudju kekota Tongking.

Setelah kurang lebih 8 hari, sampailah Lo Tie Djim di Tongking. Beberapa kali ia bertanja kepada penduduk, achirnja dapat diketemukan sebuah kelenteng besar jang memakai mereka; „ TAY SIAN KOK SIE “ dengan huruf tinta mas.

Legalah hati Lo Tie Djim, sebab beaja dan bekalnja kebetulan sudah habis. Tjepat² Lo Tie Djim mengetuk pinta kelenteng jang tebal dan kokoh itu. Dari dalam segera keluar seorang teetju jang membukakan Pintu dan mempersilahkan masuk.

Belum Lo Tie Djim menempelkan pantatnja keatas kursi, dari dalam terdengar suara langkah kaki jang berat. Lo Tie Djim menoleh, dan nampaklah dihadapannja seorang Hwee Sio tinggi besar dengan wadjah angker Hoohan kita menduga ini pasti ketua kelenteng Tay Siang Kok Sie, tjepat² Lo Tie Djim berdiri dan Kiong Tjhiu Merekahlah senjum jang lebar dimulut Hwee Sio itu.

Lo Tie Djim :

“ Tiangloo, saja datang dari Ngo Tay San. Suhu dari Ngo Tay San telah wakan serta seputjuk surat untuk Tiang loo. “ Segera merogoh kedalam sakunja. dan mengeluarkam seputjuk surat jang diterima segera oleh Tiangloo Tay Siang Kok Sie. Setelah Tiangloo itu membatja isi surat dari Lo Tie Djim, ia mengerutkan alisnja dan berdiam diri.

Lo Tie Djim merasa djengah dan kurang enak, ia menduga pasti didalam surat itu diterangkan akan segala hal icwal pribadinja. .... heija, bagaimana Tiangloo ini akan menilai diriku terserahlah ? Demikian Lo Tie Djim melamun.

Tiangloo itu lalu mempersilahkan Lo Tie Djim duduk, kemudian bergegas masuk kedalam

Didalam kelenteng jang lebar dan besar ini dihuni oleh ratusan Hwee Sio dan tjalon² Hwee Sio. Segera Tiangloo itu mengumpulkan murid²nja untuk merundingkan Lo Tie Djim.

Tiangloo :

” Para teetju, hari ini Suhengku dari Ngo Tay San telah menitipkan seseorang kepadaku. Aku membatja surat Suhengku itu sangat terkedjut, sebab di terangkan dengan djelas sifat² dan segala hal ichwalnja. Dia adalah bekas komandan keamanan kota Kwan See, tetapi karena membunuh seorang Wan Gwee, maka larilah dia......

Apakah karena insjaf ataukah karena takut ditangkap oleh alat² negara Dia telah sudi mentjukur rambutnia dan akan mendjadi Hwee Sio. Karena hal inilah aku mengumpulkan “kalian untuk berunding.”

Seorang teeiju berkata:

“Suhu, kalau benar dia bekas membunuh orang, sebaiknja kita tolak sadja. Mengapa kita harus mentjari penjakit?”

Tiangloo:

“Heija. . . . . sulit. . . . sulit. Kalau aku menolak, aku malu pada Subengku, Tetapi kalau kuterima dia terlalu bengal, kesar kepala dan kasar . . . .”

Semua berdiam diri untuk memikirkan antara dua: Diterima atau Ditolak:

Setelah agak lama maka berkatalah Tiangloo itu dengan perlahan:

“Kalau dia mau, baik kita terima sebagai pengawas kebun sadja, barangkali akan dapat merubah keadaan dan dapat menjelamatkan kita dari gangguan² paubalongok.” Para teetju serentak berseru. “Betul, betul! Pikiran suhu sudah tepat sekali! Bukankah diantara kita sudah tidak ada seorang jang sanggup mendjaga kebun itu. Suhu Pantjalongok itu ratusan djumlahnja dan rata2 mereka mengerti ilmu silat. Barangkali orang baru itu burgeenja tinggi dan bisa memberantas maling2 ketjilan ini, haha..... haha....”

Semuanja tertawa, sehingga Tiangloo itupun tertawa girang. Segera diperintahken Lo Tie Djim masuk dan diberikan keterangan:

„Tie Djim, aku telah membatja surat dari Suhengku, Suheng menerangkan bahwa aku harus menolongmu, memberikan tempat dan pekerdjaan....... djuga mendidikmu. Untuk pertama kali aku akan menempatkan kau dibelakang biara ini sebagai pengawas perkebunan. Ketahuilah Ti Djim bahwa kami ratusan djiwa ini semuanja menggantungkan hasil kebun untuk makannja setiap hari. Tetapi selalu ada sadja gangguan² dari penduduk disekitar sini, jang kerdjanja hanja sebagai pantjalongok, maling ketjil²an Mereka selalu datang pada saat panen...... djumlahnja ratusan. Sehingga kami tinggal memperoleh sisa² nja sadja jang tidak seberapa.......“

Lo Tie Djim menggeram:

„Lagi² aku mendengar hal² jang tidak adil dan benar, Suhu aku terima baik pekerdjaan itu Dan aku sanggup menanggulangi maling² tjilik itu.“

Para teetju dan Tiangloo Tay Siang Kok Sie amat girang mendengar pernjataan dari Lo Tie Djim.

Tiangloo Tay Siang Kok Sie lalu memberikan beberapa pendjelasan pada Lo Tie Djim


„Kebun kami terletak dibelakang kelenteng Luasnja kurang lebih 15 Bau. Dalam kebun itu kami menanam kentang, sajur majur, ubi, djagung dan buah²an.

Sebenarnja hasilnja tjukup untuk menghidupi kami se Wihara ini, namun seperti jang kami terangkan tadi, tiap panenan ratusan penduduk jang malas bekerdja itulah jang merusak dan mentjuri hasil kebun kami..... heija ... sungguh manusia² jang durhaka.

Lo Tie Djim:

„Suhu, apakah tidak ada jang mendjaga kebun itu ?“

Tiangloo itu menggelah napas dan mendjawab:


„Beberapa kali itu selalu mengalami gangguan jang hebat, Jang baru berhenti seminggu ini, oh amat kasihan, kakinja telah mendjadi tjidera, karena mengadakan perlawanan jang heibat Sampai hari ini belum ada diantara murid²ku jang berani mendjaga kebun itu.“


Lo Tie Djim tertawa lebar :

„Djangankan ratusan ..... Suhu. tatkala aku djadi komandan keamanan dikota Kwan See, pernah memimpin satu kompi serdadu melawan ribuan kaum begal,dan sedikitpun aku tidak gentar Regu kami dapat menghantjur-leburkan barisan perampok² jang tak tahu diri itu, Kini kebetulan aku mendapat tugas mendjaga kebun itu, nah Suhu, aku menerima baik tugas itu.“

Tiangloo berpaling pada seorang teetju dan berkata:

„Antarkanlah Tie Djim kebelakang, tudjukan tempat ia harus berdjaga !“

Teetju itu mengangguk dan menggapai pada Lo Tie Djim. Lo Tie Djim memberi hormat pada Tiangloo dan menjeret pauwhoknja mengikuti Teetju itu jalan kebelakang Kebun jang luas dari kelenteng Tay Siang Kok Sie ini terletak dibelakang kelenteng, djarak kira2 setengah Km. Memang kebun ini amat luas sajang tidak ada tembok atau pagar jang kuat.

Pinggiran kebun itu hanja dibatasi dengan pagar bambu jang sudah tak terurus. Dikebun ini penuh dengan pohon2 djeruk' Yang-liu dan 3/4 tanah ditanami sajur2an, Sawi, bajam, tomat, kentang, ubi, katjang, labu dll. Setelah me-lihat2 sekelilingnja Lo Tie Djim lalu bertanja pada Teetju jang mengantarkannja itu

„Datang darimanakah pantjalongok2 jang sering mengganggu tanam2an ini ?” Teetju itu mendjawab dengan lantang dan sengit ;

“Mereka selalu membobol pagar jang dibagian barat itu. Oh, sungguh mendjemukan, mereka tahu sadja bila kita akan panenan, sebab maling2 itu adalah penduduk didaerah sini sendiri. Sajangnja diantara kami tidak seorangpun jang mengerti ilmu silat, sehingga mereka berani mempermainkan.“ Lo Tie Djim tertawa gembira, katanja :

„Apakah engkau ingin beladjar ilmu silat“

Teetju itu senang sekali dan tak henti hentinja memandang kepada Lo Tie Djim se-akan2 ia kurang pertjaja pada Lo Tie Djim. Sebab memang Lo Tie Djim potongan nja gede gendut, djadi aneh kalau memiliki ilmu silat jang tinggi.

Lo Tie Djim tertawa ter-bahak2 katanja :

„Siauwlian [anak muda] kau lihat ! Pedangku ini beratnja 45 kg, dan tongkat besiku ini beratnja 62 kg. Mulai hari ini pantjalongok2 itu tidak akan dapat berbuat seenaknja lagi. Aku akan menghadjarnja sampai mereka menjadi lunak,“

Siauw Teetju itu setelah omong2 agak lama lalu mengadjak Lo Tie Djim kedapur untuk makan bersama