Lompat ke isi

108 Pendekar Gunung Liang San Seri I/SIAUW PA ONG MENTJARI DJODOH LO TIE DJIM BIKIN GEGER DUSUN THO HWA TJHUN.

Dari Wikisumber bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
108 Pendekar Gunung Liang San Seri I
SIAUW PA ONG MENTJARI DJODOH LO TIE DJIM BIKIN GEGER DUSUN THO HWA TJHUN.


SIAUW PA ONG MENTJARI DJODOH
LO TIE DJIM BIKIN GEGER DUSUN
THO HWA TJHUN



  Angin musim Rontok menghembus dengan dah
  sjatnja
  meniup air sungai jang bergelombang dengan ke-
  rasnja diatas batu karang.
  dajung dan sampan dilemparkan dan dihantjurkan
  pulanglah segera. pulanglah kamu!
  disini, ... apakah jang kaulakukan ?



花和尚樹拔堂根起

Lo Tie Djin mentjabut sebatang pohon yang Liu sampai se-akar2nja.

Lo Tie Djim menerima baik, bahwa dia harus berangkat kekota Tongking. Setelah ambil selamat berpisah dengan Tio Wan Gwan, Ong Kim ajah dan anak segera ia mengambil Pauwhoknja [Bungkusan jang berisi pakaian, uang dlsb]. Tidak lupa Lo Tie Djim mam

pir kelenteng Bun ju, berpamit kepada Ti angloo dan kawan²nja.

Tiangloo berpesan :

Tie Djim didalam perdjalanan kau harus ber-hati² bila bertemu dengan gunung, kau kau harus singgah dan minta idjin pada keruanja untuk dapat meneruskan perdjalananmu. Bila bertemu dengan pasar dan warung arak, hendaknja kau dapat menahan diri untuk tidak mabuk2an. bila kau telah sampai kekota Tongking dan berdjumpa dengan Liem lauwtee, engkau harus bekerdja sama, saling tolong-menolong.

Lo Tie Djim walaupun orangnja berwatak kasar, tetapi berkepribadian luhur dan mulia, maka ia sangat terharu atas nasehat-nasehat dari ketua kelenteng Buntju itu.

Sebelum berangkat, masih djuga Tiangloo jang baik hati itu menambahkan pesan2nja pada Lo lie Djim. Tiangloo :

"Tie Djim, baik² diperdjalanan, kini engkau telah memasuki suatu kehidupan jang baharu,

Semoga Thian melindungi perdjalananmu, dan semoga berhasil tjita2 dan perdjuanganmu. . . . . . .

Sampun bertemu lagi, sampai bertemu lagi!

Kalau ada waktu tulislah surat pada kami!;. . . ."

Lo Tie Dim menguatkan hatinja untuk tidak mengutjurkan air mata, tjepat2 ia mengangkat Pauw-hok, kemudian memberi Pat dan berangkatlah ia menudju kekota Tongking. . . . . . . .

Lo Tie Djim tidak langsung menudju kedjalan besar, tetapi memoelok kebarat untuk menghampiri alat2 endjata jang ia pesan 5 hari jang lalu ditukang besi.

Tiba disana terus mengambil pedang dan tongkatnja, setelah membajar lunas berangkatlah Lo Tie Djim melalui djalan ketjil djalan jang djarang dilalui oleh orang², sebab pikir Lo Tie Djim, djalan jang ketjil inilah jang aman. . . . . . . . .

Para Hwee sio muda dikelenteng Buntju amat girang, atas ke pergian Lo Tie Djim bahwa mereka bernjanji2 dan ber-ramai2 membersihkan ruang bekas untuk tidur Lo Tie Djim.

Pintu2 jang rusak diperbaiki, tembok2 jang gugur dibetulkan, bahkan semua ruangan dikapur dan ditjat dengan warna kuning

Tengah harinja mereka berpesta dengan riang gembira..

Kembali pada Lo Tie Djim jang melalui djalan ketjil untuk kekota Tongking.

Ber-hari² Lo Tie Dim berdjalan, bila malam berhenti untuk beristirahat, dan pagi hari sampai sore terus berdjalan. . . . .

Tidak pernah Lo Tie Djim lupa dengan kegemarannja setiap memasuki rumah makan atau kedai dalam perdjalanan, selalu minum arak se-puas²nja

Beberapa hari kemudian sampailah Lo Tie Djim kesebuah padang jang luas, pada saat itu hari amat terik, sehingga sangat sedikit orang jang berlalu-lalang. Karena kepanasan Lo Tie Djim bingung untuk mentjari tempat berteduh, namun disini tidak ada sebuah rumahpun.

Setelah lari ketempat sebuah bukit, terlihatlah didepan padang jang luas ini ada sebuah dusun, maka tjepat^2 ia turun dan melandjutkan perdjalananja.

Tiba disebuah dusun ketjil. Lo Tie Diim mendjadi agak beran Ratusan penduduk sedang sibuk beramai ramai, ada jang membawa ajam, beras, dsb. . . -

Karena herannja Lo Tie Djim ingin sekali mengetahui apa jang terdjadi, ia mendekati salah seorang dan, bertanja:

„Apakah kalian pengungsi dari Tiongkok Utara?“

Penduduk jang ditanja itu mendjadi tertawa ter-gelak djawabnja;

„Loheng, tidak tahukah bahwa Lauw Wan Gwee sedang Tjohoosu, sebentar malam perajaan temanten itu akan diadakan.“

Lo Tie Djim agak malu kemudian ia bertanja pula :

„Adakah disini sebuah rumah penginapn untuk bermalam?“

Penduduk itu meng-geleng2kan kepala dan mendjawab:

„Sajang didusunku jang ketjil ini, tidak ada sebuahpun rumah penginapan, hanja bila Loheng sudi meminta tolong pada Lauw Wan Gwee, beliau adalah seorang jang suka menolong, apabila ada orang2 jang kemalaman didusun ini. Tjobalah pergi kesana!“

Lo Tie Djim mengutjapkan terima kasih, dan bergegas pergi kerumah Lauw Wan Gwee.

Tidaklah sukar untuk mentjari gedung Lauw Wan Gwee, gedungnja terbesar dan termewah didusun ini. Segera Lo Tie Djim menghampiri pintu muka dari gedung Lauw Wan Gwee dan berdjalan masuk.

Lauw Wan Gwee amat heran ada seorang tamu tak dikenalnja, ia bertanja dengan segera;

“Siapakah Tootiang jang mulia ? Dan keperluan apakah datang mengundjungi kami jang rendah ini?” Lo Tie Djim merangkan kedua tangannja untuk memberi penghormatan, kemudian ia berkata,

"Aku bernama Lo Tie Djim dari kelenteng Buntju kota Kwan See saat ini aku sedang dalam perdjalanan untuk menudiu kekota Tongkhia, tetapi sampai dusun sini sudah terlalu sore. sehingga saja bermaksud untuk sumpang bermalam dirumah Lauw Wan Gwa. Diperkenankah?“

Lau wan gwee berdiam sedjenak kemudian mendjawab ;

"Aku memang sering memberikan pertolongan pada pedagang2 dan peladjar2 jang kemalaman didusun sini, tetapi saat ini. . . . . . . . . .maaf, saja tak dapat memberikan tempat jang lajak, karena semua kamar2 penuh dengan sanak famili dan bandai taulan jang membantu keperlua kami. . . . . . . . .}"

Lauw wan gwee itu menundukkan kepala dan meneteskan air mata.

( bersambung)

SIAPAKAH SIAUW PA ONG

_____________________?

BAGAIMANAKAH NASIB LO TIE DIIM ?

Dan kisah2 selandjutnja ?

* Batjalah djilid ke 2 *