108 Pendekar Gunung Liang San Seri I/Kiu Bun Liong Su Jjin melarikan diri dari kota Hwa Im Kwan pada tengah malam buta.
Kiu Bun Liong Su Jjin melarikan diri da-
ri kota Hwa Im Kwan pada tengah ma-
lam buta.
Lo Tie Djim dengan tangan kosong merobohkan Teng Kwan Sie.
Kemana balam terbang.
Meninggi langit raja.
Lihatlah rimba sana.
Tempatnja sentosa.
Seekor burung hanja.
Namun tahulah dia
Mana tempat berteduh.
Jang aman dan tentram.
[ Hs ].
Tidak djauh dari kota Jan An Hu ini, ada sebuah gunung jang dinamai Siauw Hwa San.
Gunung Siauw Hwa San ini disekelilingnja penuh tumbuh pohon² jang amat lebat, dan tempat jang amat sunji ini sangat strategis untuk bersembunji para pelarian pelarian jang di jari² oleh tentara keradjaan.
Seperti halnja 3 saudara angkat jang kini mendiami puntjak gunung Siauw Hwa San ini, mereka adalah bekas bekas pedjabat kerajaan Song jang dianggap bersalah dan untuk menghindari bukuman terpaksa mereka mengambil tindakan jang mereka anggap benar, jakni merampas harta² dan barang berharga dari para bangsawan, radja² muda, dan pegawai² kerajaan.
Sehingga pemerintahan keradjaan mengumumkan siapa jang dapat menangkap pendjahat² gunung Siauw Hwa San itu akan diberi hadiah besar.
Siapakah jang disebut pendjahat? gunung Siauw Hwa San itu ?
- Seorang bekas pelatih silat (Kauw Su) daro kemiliteran kota Jan An Hu bernama Tiu Bu
- Thiao Kan Ho Tan Tat.
- Pek Hwa Tjoa Jang Tjhun.
Sudah sekian lama tidak ada bangsawan² maupun saudagar² kaja jang lewat gunung ini, maka ketiga Ok pa ini tak mendapatkan mangsanja
Maka mereka berniat untuk masuk kota Jan An Hu.
Pada suatu malam, ketiga Okpa itu memasuki kota Jan An Hu, mereka memasuki rumah jang besar dan agak terpentjil, Dan rumah ini adalah kediaman Kiu Bun Liong Su Tjin, maka malam itu terdjadilah pertempuran antara Sur Tjin lawan 3 Okpa, lama mereka berhantam sebab Su Tjin adalah seorang pemuda jang gagah dan tangguh, ditambah dengan bantuan penduduk disekitar rumah Su Tjin, maka terpaksa Tju Bu dan Jang Tjhun memberi tanda dan kabur. tetapi Tan Tat jang melawan Su Tjin tak ada kesempatan dan ke longgaran untuk lolos, sehingga achirnja ia dapat ditangkap hidup²
Lama Tju Bu dan Jang Tjhun menunggu, Tetapi Tan Tat tidak muntjul achiroja dengan lesu dan marah kedua Oxpa itu kembali kegunung Hwa San.
Pada malam berikutnja kembali Tju Bu dan Jang Tjhun menjerbu rumah Kin Bun Liong Su Tjin untuk membebaskan Tan Tat, kembali malam ini Su Tjin bertempur dengan Tju Bu dan Jang Tjhun Mereka sama sama kuat sebingga pertempuran berlangsung dari malam sampai mendekati fadjar. Achirnja Kiu Bun liong Su Tjin melontjat mundur dan berseru: "Aku tidak akan menjerahkan Tan Tat pada kerajaan, dan mari kita achiri pertempuran ini"
Adjakan Su Tjin iai diterima baik oleh Tju Bu dan Jang Tjhun, maka Tan Tat dibebaskan.
Malam ini mereka berempat makan minum dan mentjeritakan hal ichwal masing².
Tju Bu sambil menuangkan arak ke mangkoknja berkata: "Dengan pertempuran dengan sdr Su Tji dapatlah kita ketahui bahwa sebenarnja kekuatan kita kurang tangguh, Sudikah sdr Su Tjin ikut berserikat dengan kami ?
Su Tjin tersenjum dan mendjawab :
"Itulah sebabnja aku tidak menjerahkan Tan Tat pada pemerintah, karena aku memang berniat menggabungkan diri bersama kalian."
Tju Bu bertiga merasa sangat girang, maka setelah musjawarah mereka memutuskan untuk angkat saudara, gembira sama dirasakan, derita sama dipikul.
Penguasa kota Jan An Hu me-nanti² pengiriman seorang Okpa gunung Siauw Hwa Sau jang mengedjutkan, bahwa Kiu Bun Liong Su Tjin telah berserikat dengan berandal² Siauw Hwa San. Maka dikerahkan 500 serdadu untuk menggulung komplotan itu.
Didalam rumah Su Tjin mereka masih makan minum dengan girang. tatkala mendengar lolong dan salak andjing dipintu dusun, sadarlah mereka apa jang mungkin terdjadi.
Su Tjin berkata: "Sdr²ku tak usah chawatir aku telah bertekad bersatu dengan kalian, maka marilah bersama? kita melarikan diri."
Tju Bu setelah dari luar melihat datangnja tentara kerajaan itu menerangkan :
"Sdr ku Su Tjin kami telah membawakan dalam kesengsaraan, baik kami bertiga menjerahkan diri dan sdr ku dapat tinggal aman disini.
Su Tjin marah dan mendjawab dengan tjepat ;

Ketahuilah aku Kiu Bun Liong si 9 naga tidak mempunjai sifat jang demikian."
Tju Bu dengan rasa malu mendjawab ;
"Maafkan kami sdr ku kami sedih engkau ikut terlibat kesukaran, dan bukan kami berprasangka atas dirimu."
Su Tjin dengan njaring "Marilah kita ringkas barang² jang berharga untuk kita bawa lari, dan rumah i n akan kubakar, dengan demikian kita mudah menerobos kepungan."
Tatkala itu barisan kuda tentara keradjaan sudah sampai dihalaman rumah Su Tjin, mereka berlontjatan turun, dan segera mengadakan pengepungan.
Su Tjin keluar namun dihadang oleh 2 serdadu sedang ditangan mereka siap dengan pedang dan tombak.
Su Tjin membentak ;
"Malam² kalian bikin ribut rumah orang, atas perintah siapa kalian datang kemari ?"
Salah seorang serdadu keradjaan tertawa dingin dan mendjawab:
"Tidak usah banjak lagak, Pemerintah telah menerima laporan bahwa kau telah berkomplot dengan bandit gunung Siauw Hwa San, maka tidak usah kalian bersembunji, perintan Kiu Bun Tee Tok untuk segera meringkus kalian, menjerahlah kalau ingin selamat".
Su Tjin dengan tenang berseru :
"Baik, tunggu diluar! Saja ada soal penting jang perlu kami rundingkan !!!
Tju Bu, Tan Tat, Yang Tjhun dan Su Tjin segera berunding. Su Tjin: Saudara² ku malam ini adalah saat penentuan mati hidup kita, maka aku putuskan untuk kita sama² melawan dan bunuh semua serdadu jang menghalang²i langkah kita.
Serdadu² keradjian Song mulai melantjarkan serangannja, suara bergeseknja pedang² jang keluar dari kerangka, berdentjingnja, sendjata² tadjam dan hiruk pikuk teriakan² untuk serbu
Su Tjin si 9 naga segera memberi perintah pada budjangnja
„Tjepat kumpulkan dan ringkas barang² jang berharga, kau Yung Jok lari dan bawa barang² ini, rumah ini akan kubakar. Saudara ku ber-siap²lah dengan terbakarnja rumah ini serdadu² itu akan panik dan katjau, dengan demikian mudahlah kita untuk memetjahkan kepungan dan melepaskan diri !“
Benarlah apa jang diduga oleh Su Tjin. sebab begitu api berkobar gemparlah para serdadu itu, mereka ber-teriak² karena panas dan pada saat mereka kebingunan itulah Su Tjin bersama 3 saudara angkatnja menerdjang, mengamuk bagai harimau kehilangan mangsanja, dalam sekedjap puluhan serdadu berteriak ngeri putuslah njawanja.......
Kepungan tentara keradjaan itu mendjadi agak longgar, sebab mereka merasa djerih dan takut mendekat pada keempat djagoan gunung Siauw Hwa San itu, dengan demikian mudahlah keempat saudara itu menggunakan kesempatan jang baik untuk melarikan diri.
Pimpinan pengepung demi melihat buruannja telah lari, amat gugup dan berteriak njaring, „Hajo kedjar, bila kita pulang dengan hampa maka hukuman berat akan kita terima.“
Ratusan serdadu jang masih hidup mendengar peringatan komandannja jang kepanikan ini, mendjadi sadar, maka meluruklah mereka untuk mengedjar 4 dara dari gunung Siauw Hwa San !
Tatkala fadjar mulai menjingsing, sampailah 4 saudara dibawah kaki gunung Siauw Hwa San, sehingga mereka merasa berbesar hati, segera mengerahkan sisa semangat untuk segera mendaki puntjak Siauw Hwa San.
Anak buah Tju Bu sangat girang atas kedatangan tjukong²nja dengan selamat, mereka lalu datang bergantian untuk memberikan penghormatan serta berkenalan dengan Kiu Bun Liong Su Tjin. Tju Bu memerintahkan anak buahnja untuk menjembelih babi, diadakan djamuan setjara meriah dan besar²an.....
Setelah beberapa hari tinggal di Siauw Hwa San, pada suatu hari Su Tjin menemui ketiga saudara angkatnja dan berkata ; „Saudara²ku, aku tidak merasa ketjewa aku ikut bersamamu kemari, ake benar² ichlas dan rela atas musnanja rumah tanggaku. Malahan bila kalian setudju, aku ingin menggabungkan kalian dengan guruku Ong Kauw Tho [Ong Tjin].
Bagaimanakah pendapat saudara²ku dalam hal ini ?
Tju Bu dan saudara²nja serempak mendjawab ;
„saudara Su Tjin, kau telah mengorbankan se-gala²nja. maka baiklah engkau tinggal di Siauw Hwa San sadja bersama kami, namamu telah ikut tjemar dan mendjadi buronan pemerintah, chawatir bila kau turun gunung akan menemui kesukaran² dan membahajakan diri.
Su Tjin ; „Bukankah aku ingin mentjari kehidupan mewah, tetapi aku amat rindu kepada guruku maka perkenanlah aku turun gunung untuk mentjari guruku Bila nanti aku bertemu, maka akan kuadjak beliau bergabung bersama kita, dengan demikian bukankah persatuan kita akan mendjadi lebih kuat?“
Tju Bu mengelah napas pandjang: „Jah ....... tidak ada suatu perdjamuan tanpa achir
Dan tidak ada pertemuan tanpa perpisahan Saudara Su Tjian dengan oerat terpaksa kami melepaskan ber-hati²lah diperdjalanan sebab kau seorang diri....“
Tju Bu lalu memerintahkan adiknja untuk memberikan 50 tail perak dan sedikit arak untuk bekal dalam perdjalanan, Dengan penuh keharuan, sétélah ber-pelukan berpisahaniah mereka, Su Tjin dengan hati mantep turun gunung untuk mentjari suhunja.
Pada suatu hari tibalah disebuah kota jang bernama Kwan See, maka berhentilah ia dan memasuki sebuah warung makan. Sambil makan minum ia lalu memanggil pelajan, dan mengadjukan pertanjaan :
„Tahukah engkau dengan seorang pendjaga benteng jang bernama Ong Tjin ? Aku dalam perdjalanan telah bertanja puluhan kali kepada penduduk disini, tetapi tak seorangpun jang mengetahui, barangkali Lauwhia tahu“.
Pelajan itu setelah berpikir sedjenak lalu memberikan djawaban : „Dikota Kwan See int banjak orang jang her Ske Ong, ada 5 atau 6 komandan pendjaga benteng jang Shenja Ong, maka aku tak tahu Ong Toa jang mana jang kau maksud ?......
Belum habis pelajan itu bersoal djawab, maka tiba² muntjul, seorang pendjaga beateng pula jang masuk ke warung itu.
Orang jang baru masuk ini tububnia tinggi besar, perutnja gendut matanja lebar dan tangannja kasar, sehingga begitu orang melihat sudah tahu bahwa se—tidak²nja orang ini pasti memiliki bugee jang tinggi.
Pelajan itu setelah melihat orang tinggi besar itu lalu berkata pada Su Thin : „Baiklah saudara bertanja pada suhu ini, barang kali suhu ini mengerti dan kenal dengan jang kau tjari.”
Orang tinggi besar ini adalah Lo Tie Djim jang tjinta akan keadilan, walaupun orangnja kasar telapi djiwania adalah mulia.
Tatkala ia mendengar ada orang jang mentjari Ong Kauw Tho, segera ia menghampiri sipenanja matanja dengan tadjam mengawasi.
Lo Tie Djim lalu menegur : „Hei kau siapa ? Kau mentjari Ong Tjin ada keperluan apa ?“
Su Tjin berdiri dari tempat duduknja, ia memberi salam dan sambil tertawa ia mempersilankan Lo Tie — Djim duduk bersama untuk bersama makan minum.
Mendengar suara tawa dan gerak gerik Su Tjin. Lo Tie Djim segera ingat siapa orang ini, maka dengan tertawa lebar ia lalu berseru ;
„Kalau aku tak salah liat kau adalah Kiu Bun Liong Su Tjin“ Su Tjin dengan tertawa riang mengangguk: „Ja akulah Su Tjin.-
Saudara Lo kenalkah kau dengan guruku Ong Tjin?
Lo Tie Djim lalu memberikan keterangan ; „Ong Tjin bertugas sebagai komandan keamanan di Kota Yan An Hu, ja mengepalai pos kelima, tetapi pada saat ini ia mendapat tugas rahasia jang amat penting, aku tidak tahu ia dikirim kemana bersama anak buahnja ? Saudara kita makan dan minum dula se-puas²nja.”
Lo Tie Djim dengan lahapnja menggasak hidangan jang dihadapinja, kemudian menuangkan arak danditenggaknja dengan rakusnja.
Melihat ini Su Tjin pun timbul seleranja maka dengan riang ja menemani Lo Tie Djim makan dan minum arak se—puas²nja
Selesai meraka bersartap, maka Su Tjin bersama Lo Tie Djien lalu meninggalkan warung makan itu, sedang mereka berdjalan, tiba² mendenger seseorang pendjual obat2an jang meneriakkan obat²annja, mendengar suara ini Su Tjin menghentikan langkahnja dan mengawasi pendjual obat itu. Su Tjin; „Pendjual obat ini adalah suhuku pula, 12 tahun jang lalu beliau memimpin aku untuk mempeladjari ilmu silat dan sedikit obat²an, saudara Lo kita tunggu sampai ia datang.“
Lo Tie Djim segera menghentikan langkahnja dan bersama Su Tjin menantikan datangnja pendjual obat itu.
Tidak lama kemudian sampailah pendjual obat itu ketempat dimana Su Tjin bersama Lo Tie Djim menanti.
Memang benar pendjual obat ini adalah Lie Tiong, puluhan tahun jang lalu pernah mendjadi gurunja Su Tjin, maka amatlah girang kini dapat berdjumpa dikota Kwan See tanpa diduga semula.
Su Tjin segera menghampiri dan berkui dihadapan gurunja, „Suhu sudah sekian lama kita tidak bertemu, aku girang melihat suhu masih seperti sedia kala, tetap segar dan bersemangat.“
Lie Tiong membangunkan muridnja dan sambil tertawa ia berkata „Su Tjin aku heran kau berada dikota Kwan See, akan kemana ? Dan ada urusan apa?“
Su Tjin memberikan keterangan: „Suhu, aku datang kekota ini ingin mentjari suhu Ong Kauw Tho, saudara Lo ini tahu dimana tempat tinggal beliau, marilah suhu bersama kami omong² dulu sebab sudah sekian tahun kita tidak bertemu !“
Lie Tiong menolak : „Baiklah kau bersama Lo Tie Djim minum² dulu aku akan me djual obat²anku, nanti aku kembali kemari.“
Lo Tie Djim ikut bitjara : „Hajolah, djangan kau menolak lagi obat anmu bisa didjual setiap saat, tetapi pertemuan dengan murid adalah djodoh, maka hajo kita bersama² masuk Diay Kwan lagi sambil makan minum dan omong², ha ha ha ha.....“
Lie Tiong terpaksa menjimpan obat annja dan sama² Su Tjin dan Lo Tie Djim memasuki Djay K [Rumah makan besar ].
Mereka bertiga mengambil tempat satu medja duduk berhadapan, segera Su Tjin memesan bebe matjam masakan dan arak.
Tidak lama kemudian, hidangan telah datang, maka mereka sambil makan ber-tjakap² dengan asjik.
Sedang mereka bertjakap-tjakap, tiba² terdengar suara jang memilukan.
Mendengar tangisan jang memilukan hati ini, bertiga djadi terkesiap, mereka menghentikan makanannja dan mendengarkan dengan tjermat, Lo Tie Djim jang kasar dan tidak sabaran segera memanggil pelajan rumah makan itu; „Hei, pelajan kemari !“
Pelajan itu segera meninggalkan pekerdjaannja dan menghampiri Lo Tie Djim:„Suhu akan pesan apa lagi ?“
Lo Tie Djiem dengan suara njaring berkata: Aku ingin minta keterangan dari kau, siapakah jang menangis itu ? Mengapa berada dirumah makan ini dan kenapa dia menangis ? Apa ada sesuatu jang gandjil ? Hajo beri keterangan padaku ?
Pelajan itu segera memberikan keterangan: „Tji-angkun, jang sedang menangis itu adalah seorang anak perempuan ia datang kemari bersama ajahnja jang telah landjut usianja, tentang sebab musababnja aku tahu, baiklah kuadiak kemari, dan Tjangkun sendir sa menanjakan soalnja dengan djelas.“
Lo Tie Djim : „Baik, hajo segera bawa mereka mari, aku ingin tahu sebab musababnja.“
Pelajan itu segera lari masuk dan tidak lama mid an keluar bersama dua orang jakni ajah dan anak perempuan jang menangis itu. Orang tua itu berusia ±60 tahun, tubuhnja kurus dan wadjahnja putjat, pakaiannja kotor dan penuh tambal².
Anak perempuan jang menangis itu berusia ±20 tahun, walaupun pakaiannja kotor dan kojak², namun masih dapat terlihat wadjah aslinja jang putih dan manis Kedua ajah dan anak itu dengan agak takut² menghadap pada Lo Tie Djim, mereka memberikan salam penghormatan setjara Kang Onw orang tua itu lalu memberikan keterangan :
„Tjiangkun jang mulia, kami adalah pengungsi jang datang dari utara. Sebab² pengungsian kami adalah meluapnja air bandjir dari Hoang Hoo jang amat dahsjat, puluhan ribu penduduk jang kehilangan tempat bernaung dan mata pentjaharian. Ratusan ribu hektar tanah sawah ladang jang dilanda, sehingga sematjam kami jang hidup sebagai kaum petani tak dapat berdaja lagi. . . . .
Kami sekeluarga hanja terdiri dari 3 orang, jakni aku istriku dan satu²nja anakku ini.
Kata² djaman purba mengatakan : „Bo Su Tjay Djin, Sing Tju Tjay Thian“, manusia berdaja upaja. tetapi penentuan ditangan Tuhan, setibanja dikota Kwan See ini istriku terserang penjakit djantung (uluhati) berulang kali memuntahkan darah. . . . . ..“
Orang tua ini menghentikan tjeritanja, dari kedua matanja mengalirlah air mata tua jang sangat mengharukan hati, setelah batuk² sesaat mulailah ia meneruskan tjeritanja:
Segala barang berharga jang kami bawa, telah kami djual untuk memanggil tabib dan membelikan obatnja, namun segala daja upaja kami ini sia². . .. . . jah, apa mau dikata kalau sudah mendjadi Suratan takdir.
Maka selang beberapa hari pulanglah istriku keharibuan Tuhan Jang Maha Kuasa . . . .“ Orang tua ini menundukkan kepalanja dan mengutjurlah air matanja dengan deras, pun anak perempuannja tangisnja makin mendjadi.
Melihat hal ini Lie Tiong, Su Tjin dan Lo Tie Djim sangat beriba hati, segera Lo Tie jim dengan suara lemah bertanja pula :
- „Tetapi mengapa anak perempuanmu menangis amat pilu ?“
Orang tua itu setelah batuk² sebentar lalu melandjutkan lagi;
- „Tjiangkun, jang lebih tjelaka adalah pada saat istriku meninggal dunia, terpaksa kami memindjam beaja pada The Wan gwe, orang terkaja di kota Kwan See ini, pekerdjaan The Wan gwee di samping mendjual daging babi djuga renten. . .Kami tidak mengerti banjak tentang The Wang-gwee ini, achirnja setelah lewat 2 minggu mulailah datang tagihan² jang terus menerus. Tjiangkun kami tidak berdaja....“
Lo Tie Djim, Lie Tiong dan Su Tjin sangat tertarik mendengarkan tjerita si empek tua ini, sampai - sampai Lo Tie Djim jang berdjiwa tidak sabaran menggebrak medja dan berseru njaring:
- „Lalu apa jang diperbuat The Wan gwee kepada kalian?“
Su Tjin; „Sabar saudara Lo, biar biar Lo Djin Kee ini membasahi lehernja dulu, empek mari minum dulu!“ Su Tiin menjodorkan setjangkir teh pada orang tua itu, dan Li Tiong pun memberikan tempat duduk kepada ajah dan anak jang malang itu.
Setelah minum beberapa teguk, orang tua itu mengatur tempat duduknja dan menjambung kisah jang di deritanja :
- „The Wan gwee itu berulangkali menagih kepondok kami, .. .. .. pada suatu hari aku sedang keluar rumah untuk mentjari kenalan jang mungkin bisa memberikan pertolongan kesukaran jang kami derita, sehingga jang berada dirumah hanjalah anakku perempuan Tjhiang Hiang ini. Hari itu anakkulah jang menemui The Wan Gwee.
Menurut tjerita anakku hari itu The Wangwe tidak marah² seperti hari² biasa kalau ia menagih, ia bersikap lunak dan banjak senjum, tetapi Tjiangkun senjumnja adalah senjum iblis !“
Lo Tie Djim menggeram; „Hem,. . . . . . Teruskan ! aku akan mendengarkan sampai djelas, bila kutahu akan perbuatan The Wan Gwee jang se-wenang² terhadap rakjat miskin, hem aku Lo Tie Djim bila tidak dapat menjingkirkannja dari muka bumi, aku tidak mau hidup lebih lama lagi.“
Orang tua itu dengan sengit dan bernafsu melandjutkan kisahnja, „Ja, Tjiangkun jang mulia, bedebah itu telah meraju anak gadisku ini, ia akan melunaskan hutangnja, bila sadja aku merelakan anakku ini untuk didjadikan istri mudanja. . . . . .. akan tetapi bila kami menolak, antjamnja kami pasti akan mengalami hal jang mengerikan..
Oleh hal inilah anakku menangis terus, . . . . .kami tidak berdaja, dan hanja tangis sadjalah untuk melonggarkan sesak napas dan mentjurahkan rasa kekesalan hati. . . .. .“ Orang tua itu dengan lesu lalu meneteskan air mata tuanja.
Lo Tie Djim dengan kepalnja menghantam medja sekuat tenaga, suara brak jang sangat keras disusul dengan petjahnja piring mangkok jang riuh, membuat semua pengundJung restoran itu terperandjat semua.
Lo Tie Djim berdiri dan berkata dengan njaring:
„Lo Djin Kee hari ini aku Lo Tie Djim akan membereskan persoalan jang tidak adil ini, dimana rumah The Wan Gwee itu ?
Orang tua itu dengan tubuh bergemeter menundjuk kan dimana kediaman The Wan Gwee.
Setelah mengetahui dengan djelas. Lo Tie Djim lalu berpesan kepada Su Tjin dan Lie Tiong: „Tunggu aku akan membereskan The Wan Gwee dulu. “ Lalu berpaling kearah orang tua itu, „Lo Djin Kee ini sedikit beaja terimalah untuk kau dan anakmu, pergunakanlah sebagai ongkos dalam perdjalananmu, Saudara Su Tjin kau bila ada uang bantulah sedikit !“
Su Tjin merogoh sakunja dan mengeluarkan 100 tail diangsurkan kepada orang tua itu, „Ini Lo Djin Kee untuk penambah ongkos dalam perdjalananmu, baik² didjalan, dan ber-hati²lah, sebab sekarang ini djaman penuh kekatjauan, banjak orang hidupnja sekarang ini menjimpang dari Kebenaran. Ja, aku do'a kan semoga Thian melindungi kau berdua.“
Lie Tiong ditanja oleh Lo Tie Djim apakah akan membantu djuga, dengan muka agak malu Lie Tiong mendjawab: „Saudara Lo, aku belum ada uang, sebab dagangan obat²anku belum terdjual, biarlah aku membantu obat²an sadja. Kemudian Lie Tiong mendekati empek tua itu dan memberikan beberapa bungkus obat-obatan. Orang tua dan anak gadisnja itu kembali berlutut untuk menghaturkan terima kasihnja.
Lo Tie Djim lalu berpesan, „Lo Djin Kee baik kau segera kembali kepondokmu, tjepatlah tinggalkan kota jang tidak aman ini, soal butangmu pada The Tao, akulah nanti jang membereskan, legakan hatimu.” Lo Tie Djim lalu mengadjak Su Tjin dan Lie Tiong meninggalkan restoran itu.
Setelah ketiga orang budiman itu pergi, maka ajah dan anak gadis itupun tjepat² meninggalkan warung itu dan kembali kepondoknja. segera membajar uang sewa pondoknja, dan meringkaskan barang² dan pakaiannja.
Tetapi sebelum ajah dan anak itu meninggalkan pondoknja, tiba² muntjul mata² The Tao, segera menghalang²i ajah dan anak. mereka dorong mendorong jang lain mendorong masuk, kekatjauan ini sampai terdengar djongos hotel itu jang segera lari untuk memisahkan, tetapi mereka terus masih saling seruduk, sangat ribut dan ramai, karena merekapun saling memaki memukul.
Untunglah pada saat itu Lo Tie Djim datang kepondok itu.
Melihat hal ini Lo Tie Djim mendjadi naik darah, mata² The Wan Gwee itu dihampirinja dan sekali pukul tepat mengenai dadanja, tanpa ampun mata² The Tao itu roboh sambil berteriak menjajatkan, dimulutnja menjembur keluar darah merah jang kental. . .. . .
Pemilik hotel dan para djongos mendjadi gugup dan panik, tetapi Lo Tie Djim sambil bersilang tangan berseru;
„Persoalan ini akulah jang bertanggung djawab, dan tidak merembet-rembet kalian Aku minta tolong kau urus mata² The Tao ini, dan segala pengobatannja akulah jang tanggung“
Setelah berkata demikian Lo Tie Djim melempar 50 tail kepada pemilik hotel itu dan pergi. . . . . . . . . . . .
Pada sore harinja Lo Tie Djim kembali keposnja, ia meringkaskan segala pakaiannja, sebab keesokan harinja ia akan mengadili The Wan Gwee jang djahat dan se-wenang² itu.
Malam telah larut, tetapi Lo Tie Djim tidak dapat segera tidur, pikirannja dikatjaukan oleh segala peristiwa jang dialami dan jang akan dilakukan.
Aku bukan seorang laki² kalau tidak dapat membereskan urusan ini, soal ini harus dilaksanakan sebab menjangkut prihal perikemanusian dan keadilan. . . .. .
Lo Tie Djim melamun terus. . . . . .dan tanpa terasa mungkin karena lelahnja tahu² ia tertidur dengan pulasnja diatas bangku.
Pagi sekali, djalan² ramai sekali, para pedagang jang berlalu lalang sedang mempertjakapkan si empek dan anak gadisnja jang mendapatkan pertolongan seorang pendjaga benteng jang bernama Lo Tie Djim. . . .
Orang jang dipukul dihotel itu tidak tertolong lagi, pagi hari ini telah menghembuskan napasnja jang penghabisan. . . . . dst. . . .
Mendengar berita ini, hati Lo Tie Djim bertjekat.
„Tjelaka.....! ” Lo Tie Djim mengeluh pandjang . . . . ..
Bila tidak tjepat² aku menindak The Wan gwee, urusan ini bisa gagal dan berantakan.
Maka tjepat² ia bangun. setelah mentjutji mukanja, ia - membawa semua pakaiannja dan uang simpanannja.
Dengan langkah lebar² dan mantep ia menudju kekediaman The Wan gwee.
Setelah berdjalan agak djauh, tibalah Lo Tie Djim disebuah perempatan ia mulai ber-tanja² kepada penduduk disitu, dan achirnja dapatlah ditemui rumah The Wan gwee jang dijari.
The Wan gwee adalah seorang lintah darat disamping berdagang daging babi, sehingga ia mendjadi orang jang terkaja dikota Kwan See ini Orangnja perawakannja sedang, kepalanja agak ketjil dan wadjahnja litjin berminjak, perutnja gendut sebab hidupnja serba ketjukupan, bila ber-tjakap² matanja selalu berdjelilatan menundjukkan isi hatinja jang tidak djudjur dan penuh tipu muslihat.
Rumah The Wan gwee terletak tidak djauh dari perempatan djalan raja kota Kwan See, redungnja besar bertingkat tiga, dan dihalaman samping rumahnja itulah setiap harinja ramai orang untuk mendjualkan daging babinja atau orang² jang datang untuk membeli.
Hari inipun tempat pendjualan daging babi dari The Wan gwee itu masih ramai dengan orang² jang datang membeli, didalam nampak 7 - 8 pembantu The Wan gwee, dan ditengah-tengah ruangan ia duduk bertjokol dikursi jang bertindak sebagai kasir.
Lo Tie Djim segera melangkah masuk, berdiri diantara para pembeli, setelah ditanja oleh seseorang pembantu The Wan gwee, Lo Tie Djim lulu buka suara : ”Aku minta ditimbangkan 10 Kg daging babi jang bersih, djangan sampai ada urat dan kulitnja. Dan aku tidak mempertjajai kau, saja minta The Wan gwee sendiri jang menimbangnja.“ The Wan gwee jang sedang meng-hitung² dengan Swipoa, demi mendengar ada orang jang pesan daging babi agak lumajan, segera menghentikan hitungannja dan turun dari kursinja ia berdjalan lambat² dan memandang kepada Lo Tie Djim, kemudian ia menganggukkan kepala dan bertanja;
― „Tjiangkunkah jang memesan 10 Kg daging babi ?“
Lo Tie Djim menganggukkan kepala.
The Wangwee tersenjum dan menjambung kata2nja :
― „Memang benar apa jang Tjiangkun tjurigakan,
sebab atjapkali pembantuku itu mentjuri tjara
menimbangnja,ha haha. . . . haha . . . .Tjiangkun
memang lihay, . . . haaa. . . ha.. . . hahaah. . .
The Wan Gwee lalu menjibakkan tangannja, sehingga para pembantunja, minggir semua, kemudian ia mengambil pisau pemotong daging jang besar dan mulai me-motong² daging sendiri.
Kemudian ditimbang dan berbitjara kepada Lo Tie Djim:
― „Tjiangkun lihatlah ! Ini 10 Kg saja hangatin
haha . . . . haha. . . . untuk Tjiangkun murah
sedikit tidak apa. . . .“
Lo Tie Djim pesan lagi :
„Timbangkan lagi untuk saja, 10 Kg kulit babi, awas djangan sampai tjampur dengan daging, 10 Kg harus kulit babi jang bersih.”
The Wan Gwe; „Hahaha .. haha .. ha. baik² saja pilihkan kulit jang banjak lemaknja... haha...
Sambil tertawa The Wan Gwee mulai lagi mengiris iris kulitan babi, kemudian ditimbang dan kemudian ditimbang dan menundjukkan pada Lo Tie Djim.
„Tjiangkun, lihatlah aku kasih murah, timbangannja saja hangatin betul, haha . . . haha ... haha ... hahhah pesan apa lagi ?“
Lo Tie Djim dengan keras berkata lagi: „Timbangkan untuk saja 10 Kg tulang babi jang masih muda, awas djangan sampai ada daging dan kulit maupun urat2 jang menempel.”
Mendengar suara keras dari Lo Tie Djim ini, achirnja Wan Gwee itu mendjadi marah, sebab pesanannja amat gandjil, djadi terang bahwa pembelinja kali ini adalah orang jang mentjari gara².
Dengan wadjah gusar The Wan Gwee membentak
„Kau djangan main gila diwarungku ini ! Hei pe-pelajan usir orang gila ini!”
The Wan Gwee menjeruduk pada Lo Tie Djim dengan mengatjungkan bendo babinja. Tetapi Lo Tie Djim dengan tenang menantikan datangnja ajunan pisau itu, dan sekali kibas dengan menggunakan tipu tangkisan dan pukulan Kim Eng Tjie le atau Garudamas mematuk ikan, membuat pisau The Tao terlempar djauh, dan dengan tendangan Djit Gwat That atau menending rembulan dan matahari tepat mengenai perut The Wan-Gwee jang gendut itu, tidak ampun lagi The Tao jang beratnja hampir 96 Kg terbanting keras dilantai dan tidak berkutik lagi.
Lo Tie Djim belum merasa puas, ia mendekati tubuh The Tao jang jang sudah tidak berdaja itu, sambil dimulutnja mengotjeh :
„Kau lintah darat, hari ini Toa Ya mu datang mengadili, Perbuatanmu sungguh diluar perikemanusiaan Kau membuat banjak rakjat hidup menderita, aku tahu sendiri empek Ong Kim dan anak gadisnja, kau peras dan kau masih djuga inginkan anak perempuannja. . . . Hei sungguh lintah darat dan buaja laknat kau ! Kini terimalah pukulanku biar tahu rasa.“
Lo Tie Djim dengan kepalannja jang besar menghadjar kepala The Tao, tjelaka ! Karena terlalu bernafsu, sehingga pukulan itu terlalu keras, tidak ampun lagi kepala The Wan Gwee hantjur, darah dan otaknja berbamburan dilantai jang bersih mengkilap itu. . . . . .
Para pembantu ber-teriak² ; „The Wan Gwee dibunuh orang, The Wan Gwee dibunuh orang . . . ..“
Istri The Wan Gwe keluar sambil men-djerit² ; Tolong .... tolong . ... toloooong , . . . suamiku dibunuh orang ...,“ ia menangis sedjadi²nja.
Lo Tie Djim ambil langkah seribu, ia lari terus tanpa menengok kiri kanan.
Orang² jang akan membeli daging babi pagi hari itu bubar, seperti semut tersiram air.
Mereka pulang dan t'dak lepas mempertjakapkan peristiwa jang terdjadi dirumah The Wan Gwee.
Banjak diantara mereka jang merasa senang, sebab The Wan Gwe: banjak membuat kesengsaraan pada rakjat, Ada jang berkata ;
„Ini adalah putusan Thian, sebab perbuatan The Tao silintah darat dan buaja buntung itu telah melewati batas Sjukur, sjukur ada seorang Hohan jang berani bertindak adil dan membasmi kedjahatan . . . . . Ja, sjukur ,.. .. sjukur, sehingga anak tjutju kita tidak mengalami lagi pemerasan dan kemaksiatan . . . .
Siantjay . .. .. siantjay . . .. siantjay . . . .”
Kedjadian ini segera dilaporkan kepada pedjabat keaman dikota Kwan See. Komandan keamanan kota itu segera memerintahkan untuk menangkap mati atau hidup pada Lo Tie Djim, dimana-mana gambar Lo Tie Djim ditempelkan, dipohon-pohon, tembok² papan² pengumuman, bahkan dihotel-hotel dan warung. Sehingga hampir seluruh kota Kwan See semua lapisan rakjat tahu akan apa jang terdjadi.
Semua lapisan rakjat tahu akan apa jang telah terdjadi
Kembali pada Lo Tie Djim jang lari tanpa arah tudjuan, setelah matahari hampir tenggelam dibalik gunung, mulailah agak lega hatinja.
Ia mulai berdialan lambat², sebab seharian penuh lari melalui hutan² tanpa makan dan minum. Kini terasa amat letih dan lapar.
Baru berdjalan sebentar, ia berpapasan dengan pedagang pedagang jang ingin masuk kota Kwan See. Lo Tie Djim mendengar dengan djelas apa jang mereka tjakapkan.
Pembunuhnja bernama Lo Tie Djim, orangnja tinggi besar dan bekas pendjaga benteng kota Kwan See. Gambarnja dipasang di-mana², saja pertjaja kalau tidak lekas keluar kota Kwan See ini, sebentar lagi pasti dapat di tangkap.
Lo Tie Djim bertjekat, tielaka ! kemana aku akan menjembunjikan diri ? Lo Tie Djim berdjalan sambil berpikir . .. . . . . .
Kalau aku bermalam kepenginapan semua orangpun mengenal aku . . . . .
Pada saat² jang membingungkan itu, tiba² ia melihat sebuah kuil on, Sungguh Taian benar² Maha Pengasih. aku melinat sebuah Kelenteng. bila aku sembunji didalam Kuil itu. mungkin para serdadu dari kota Kwan See tidak dapat menangkap diriku . . . . .Demikian Lo Tie Djim mendjadi gembira tatkala melihat didekat pintu gerbang bagian Timur ada sebuah Kelenteng tua.
Ia lalu mempertjepat langkahnja menudju ke Kelenteng tua itu.
Setelah tiba didepan pintu kelenteng tjepat² ia mengetuk pintunja.
Jang lama musnah, masapun berubah.
Dan diatas puing keruntuhan, mekarlah Kehidupan Baru.
- * * * *
TIO WAN GWAN MEMBANGUN KEMBALI KUIL BUN TJU
LO TIE DJIM MEMBIKIN KATJAO DI GUNUNG NGO TAY SAN.
Kemuliaan dan kehinaan kedua-duanja
mendatangkan rasa kechawatiran.
Keberuntungan dan kesusahan itu ada-
lah sang aku jang membuatnja.
Kehinaan sangat ditakuti oleh manusia,
maka mengenawatirkan.
Kemuliaanpun mendatangkan kecha-
watiran bagi manusia, sebab
manusia jang memiliki kemuliaan ta-
kut kalau² kemuliaan itu lepas dari
padanja.
Maka kedua-duanja mendatangkan
rasa tjemas dan chawatir dalam diri
manusia jang masih menoudjol akunja.
(Kirana)
Tanpa sedji lagi Lo Tie Djim segera njelonong masuk kedalam kuil Hwe Sio itu menjapa dengan suara jang lemah lembut:
,,Kau datang dari mana? Melihat wadjahmu agaknja engkau di-kedjar2 oleh alat2 negara, benarkah?"
Lo tie Djim memberikan salam pay pada Hwe Sio itu dan mendjawab dengan gugup:
,,Benar sekali dugaan Tiangloo, aku jang rendah bernama Lo Tie Djim, tugasku adalah mendjaga keamanan kota Kwan See sebagai pendjaga benteng di pos ke 8, aku telah melarikan diri karena membunuh mati The Wan Gwee . . . . . . . . . ."
Hwee Sio itu nampaknja terperandjat;
,,O mi too hud, siantjay, siantjay. . . . . . . . . ." sambil bermanteram Hwee Sio itu menutupkan kedua tapak tangannja kemukanja, kemudian perlahan2 ia membuka tangannja kembali dan matanja tak lepas mengawasi pada Lo Tie Djim.
Lo Tie Djim tjepat menjambung tjeritanja:
,,Tiangloo djangan berprasangka terhadap diriku, jang kubunuh itu adalah manusia djahat, pemeras rakjat dan buaja darat. . . . . . . . . ."
Hwee Sio itu mulai mengangguk-anggukkan kepalanja dan dibibirnja nampak senjumaja merekah.
Hwee Sio : ,,Aku sangka engkau seorang jang djabat dan tak berprikemanusiaan, Bila engkau adalah Honan jang bertindak adil bidjaksana, aku bergirang hati dan bersjukur
Ketahuilah Lo Tie Djim bahwa sebelum aku mensutjikan diriku sebagai Hwee Sio, aku adalah pembasmi djahatan dan puluhan kali aku melakukan, pembunuhan tetapi semuanja itu kini telah berlalu . . . . "
Lo Tie Djim;,, Bila demikian pikiran Tiangloo dan saja adalah sama.'
Hwee Sio itu tertawa ter-bahak2:,,Hahahha. . . haha..... baiklah Lo Tie Djim kau sembunji dikelenting ini
Aku pertjnja Thian akan melindungi manusia² jang bertindak benar, dan serdadu² itu tak akan mungkin dapat menangkapmu"
Lo Tie Djim menghaturkan terima kasih, kemudian ia mengikuti Hwee Sio itu masuk kedalam ruangan untuk beristirahat.
****
Pada suatu hari datanglah Ong Kim dan putrinja jang djuga menjembunjikan diri didaerah perbatasan itu, berkundjung ke Kelenteng Bun Tju untuk bersembahjang kepada Thie [ Tuhan ], sebab djiwa tuanja serta putrinja telah tertolong.
Pada waktu Ong Kim dan putrinja memandjatkan do’a; suara ini terdengar dengan djelas oleh Lo Tie Djim jang sedang membersihkan kamarnja.
Segera Lo Tie Djim keluar dan mengintip orang jang sedang bersembahjang itu. Alangkah senangnja hati Lo Tie Djim tatkala melibat bahwa Ajah dan anak jang telah ditolongnja itu dalam keadaan selamat.
Segera ia mendekati dan setelah orang tua dan anak perempuannja selesal melakukan upatjara sembahjang, Lo Tie Djim lalu menjapanja:
„Lo Djin Kee aku bergirang berdjumpa dengan kau dan putrimu, aku tidak tahu mengapa kalian bisa berada didaerah perbatasan ini?“
Ong Kim dan putrinja segera mengenali tuan penolongnja, segera mereka berlutut memberikan hormatnja.
Lo Tie Djim repot menerima penghor matan jang terlalu ber—lebih²an itu, ia segera membangunkan empek tua itu dan ber-sama² duduk saling menanjakan kisah masing² ...
Ong Kim ; „Ong Thiangkun setelah aku lari meninggalkan kota Kwan See bersama anakku, sampailah diperbatasan pintu timur ini pada saat itu hari telah larut malam, kami bingung untuk mentjari tempat bermalam sebab ternjata didaerah simi tidak ada rumah penginapan, tiba² kami melihat sebuah gedung jang besar dengan penerangan jang sangat terang kami berdua menudju kegedung itu untuk menumpang bermalam. Pemilik gedung itu bernama Tio Wan Gwan, kami diterimanja dengan baik dan ramah . . . . . .
Dan lama kami tinggal digedung Tio Wan Gwan itu sebab aku djatuh sakit. . . . . .
Didalam keadaan sakit itulah segala beban makan kami se-hari² serta pengobatan², semuanja diberikan oleh io Wan Gwan itu.
Achirnja kami ajah dan anak berunding dan memutuskan untuk anakku mengabdi pada Tio Wan Gwan jah tidak ada djalan lain Tjiangkun, Tio Wan Gwan tidak mau menerima anakku sebagai budaknja, tetapi malahan diberi kehormatan, kini anakku mendjadi istri Tio Wan Gwan.“
Lo Tie Djim segera memberi Kiongtjhiu; „Terimalah hormatku untuk mengutjapkan selamat bahagia semoga kalian hidup berbahagia senantiasa, haha. . . ha ha ... ha ha ha. . . .“
Ong Kim dan anaknja berbareng menjahut, „Terima kasih, terima kasih, kesemuanja ini bisa terdjadi berkat pertolongan Tjiangkun.“
Lo Tie Djim tjepat mendjawab : „Bukan, bukan, aku hanjalah pelaksana, ketentuan dan hal² jang terdjadi pada diri manusia itu adalah kehendak Thie (Tuhan) Maka bersjukur dan bersembah sudjudlah kepada Thie.“
Ong Kim dan anaknja : „Siantjay, siantjay Tjiangkun kami harap sudilah kiranja Tjiangkun mengunjungi rumah kami. . . . . “
Lo Tie Djim; "Dimanakah kediamanmu ?"
Thing Hiang; "Tidak djauh dari kelenteng Buntju ini, bila djalan kaki kira² hanja 400 langkah kurang lebih."
Lo Tie Djim; "Baiklah aku besuk datang kerumah mu djangan lupa sediakan aku arak sebanjak²nja,"
Ong Kim; "Kami akan menjediakan satu gutji besar, sebab kami tahu kegemaran Tjiangkun adalah minum arak, sehingga orang² menjebutkan Tjiangkun Lo Tie Djim adalah setan arak, haha.. . . haha. haha...“
Lo Tie Djim pun ikut tertawa ter-gelak²
Demikianlah pertemuan jang tidak di-sangka² telah terdjadi antara Ong Kim dan anak perempuannja bersama tuan penolongnja diperbatasan pintu Timur dalam Kelenteng tua Buntju
Setelah jukup mereka bergurau dan mentjeritakan riwajat masing² berpisahanlah mereka.
Malam harinja Lo Tie Djim menemui Tiangloo penghuni Kelenteng Buntju, dan mengutarakan isi hatinja
Tiangloo : „Baiklah Lo Tie Djim, bila kau akan mengundjungi Tio Wan Gwan sampaikan pula salam dariku, aku kenal baik pada Tio Wan Gwan itu. Djuga tjeritakan keadaan Kelenteng tua ini, banjak kaju-nja jang telah lapuk dan batu² temboknja petjah² dan merekah karena lama tidak diurus.“
Lo Tie Djim : „Suhu, semuanja akan saja sampai kan nanti.“
Kemudian Tiangloo tua dan Lo Tie Dim masuk kedalam. Tidak lama kemudian masing-masing masuk kedalam kamar tidurnja, sebab hari telah larut malam.
Pada keesokkan harinja Lo Tie Djim pagi² benar telah meninggalkan Kelenteng Buntju untuk menudju ke tempat Ong Kim Dan benar djuga keterangan jang diberikan oleh Tjniang Hang bahwa djaraknja amat dekat dengan Kelenteng tua itu.
Setelah Lo Tie Djim berdiri didepan pintu gedung itu, segera mengetuk pintu dengan pelan, takut kalau² ada orang lain jang mengenali wadjahnja.
Tidak lama pintu terbuka. dan dari dalam nampak Ong Kim alan dan anak dengan gembirra menjambut kedatangan Lo lie Djim.
O ng Kim dan anaknja serta budjang² nja sibuk untuk mendjamu Lo Tie Djim bintang penolong jang telah menjelamatkan diri dan anaknja dari tjengkeraman lintah darat The Tao.
Sedang Lo Tie Djim bersama Ong Kim dan anak perempoeannja berpesta pora, tiba² sajup² terdengar suara langkah kaki puluhan orang diluar gedung, Lo Tie Djim menghentikan makannja dan mendengarkan dengan teliti.
Maka dapatlah ditangkap suara² orang² diluar gedung itu dengan djelas ;
„Tangkap sadja burung telah masuk sangkar itu! Itulah Lo Tie Djim sipembunuh hajo kepung dan tangkap hidup atau mati !
Lo Tie Djiem amat terkedjut dan berdiri dengan angkernja.
Ong Kim tjepag tjepat menenangkan suasana dan berkata pada Lo Tie Djim;
„Tjiangkun djangan chawatir aku akan minta tolong pada Tio Wan Gwan untuk mendjelaskan pada orang² itu, duduklan dengan tenang ! Oh maaf penjambutan dikediamanku ini agak mengedjutkan hati Tjiangkun“ Ong Kim berpaling pada puterinja : „Kau Temani dulu Lo Tjiangkun, aku akan membereskan huru hara diluar itu.“ Segera Ong Kim melangkah keluar. .
Ong Kim tjepat mendjumpai pada Tio Wan Gwan dan memberikan keterangan atas diri Lo Tie Djim.
Tio Wan Gwan mengetahui nasib jang menimpa Hohan kita itu. merasa terharu dan beriba bati, segera ia bertindak menghadapi penduduk jang djumlahnja kurang leoin 40 orang mereka ramai² mengadakan pengepungan gedung Tio Wan Gwan.
Tio Wan Gwan berdiri dipendapa dan berkata pada puluhan penduduk itu; Para penduduk jang sedia nja mengepung dan ingin menangkap Lo Tie Djim itu, setelah mendengar pendjelasan Tio Wan Gwan dan pembagian uang derma mereka lalu serempak berseru :
,,Bagus, bagus, bila Lo Tie Djim adalah penolong rakjat, kamipun akan mendukungnja dan melindunginja. . . . .
Tio Wan Gwan sangat girang mendengar pernjataan rakjat ini, ia segera lari masuk kedalam dan mengambil sekotak uang logam.
Setiap penduduk jang bergerombol itu dibagikannja masing2,10 tail. Lo Tie Djim menjaksikan bahwa pengepung pengepungnja telah bujar, ia lalu menghadap pada Tio Wan Gwan dan mengutjapkan terima kasihnja
Tio Wan Gwan menasehatkan Lo Tie Djim untuk sembunji sadja didalam Kelenteng, dan berdjandji untuk sesekali menengoknja.
Lo Tie Djim lalu berpamit pada Ong Kim ajah dan anak beserta Tio Wan Gwan
Beberapa hari kemudian, pagi2 benar datanglah Tio Wan Gwan mengundjungi Kelenteng Buntju untuk melakukan upatjara sembahjang kemudian Tio Wan Gwan menemui Lo Tie Djim:
,,Lo Tjiangkun, dewasa ini daerah Kwan See makin tidak aman bagi keselamatanmu, sebab pemerintah telah menjebar polisi rahasia untuk menangkap dirimu."
Lo Tie Djim:,,Baiklah aku segera meninggalkan tempat ini.
Tio Wan Gwan: Oh Lo Tjiankun jara itu akan tidak menguntungkan Pintu2 kota dan perbatasan didjaga dengan ketat sekali, sehingga bagaimanapun djuga berbahaja sekali menerdjang pendjagaan iang keras ini. Aku menasehatkan bila Lo Tjiangkun suka meneri manja ?"
Lo Tie Djim tjepat mendesak :"Apakah saran Tio Wan Gwee, bila baik aku akan senang hati
menerimanja.
Tio Wan Gwan: "Dibelakang kelenteng Buntju ini adalah tempat wihara, disitu berkumpul puluhan orang2 jang mensutjikan diri. Lo Tjiangkun' aku kenal baik pada ketua wihara itu, masudku pada saat pengepungan jang ketat
ini didjalankan oleh pemerintah, sebaiknja Lo Tjiang Kun menjamar sebagai Hwee Sio, sukakah kiranja Lo Tjiangkun untuk sementarawaktu hidup sebagai Hwee Sio ?"
Lo Tie Djim: "Bila Tio Wan Gwee dapat mengusaha
kan, djalan itupun akan kutempuh, demi ke
selamatan djiwaku, haha... hahaaa.
Tio Wan Gwan lalu masuk dan menemui ketua wihara, setelah berunding ketua wihara itu suka menerima Lo Tie Djim
Tio Wan Gwan lalu mengadjak Lo Tie Djim menghadap pada Lo Suhu itu.
Ketua Hwee Sio; "Lo Tie Djim mulai saat ini engkau
harus mentjukur rambutmu, supaja betul2
mendjadi seorang Hwee Sio. "
Lo Tie Djim menerima sadja apa jang diperintahkan da ri ketua wihara itu, ia lalu digiring kebelakang dan ram butnja ditjukur sampai litjin mengkilap. Para Hwee Sio muda melihat wadjah dan potongn tubuh Lo Tie Djim sangat lutju semuanja menggoda dan mentertawakan.
Tio Wan Gwan sangat bergembira, kemudian ia memasrahkan Lo Tie Djim pada ketua wihara itu dan pulang.
Ketua wihara itu menengok Lo Tie Djim jang sedang diukur ia lalu memerintahkan untuk berewok Lo Tie Djim dibersihkan sekali. Lo Tie Djim berkaok njaring : ” Suhu, berewok ini djangan ditjukur!”
Ketua wihara : ,, Djangan membantah, kau harus bersih seperti Hwee Sio jang lain2, hajo bersihkan berewok ! ”
Lo Tie Djim sampai. akan menangis, sebab menjajangkan berewoknja
Ketua itu lalu berbitjara pada Lo Tie Djim :
,,Namamu Tie Djim jang berarti berilmu tinggi. Tie Djim kewadjiban setelah kau kuterima sebagai penganut rochaniawan disini adalah :
1. Setiap pagi2, sore dan malam harus pai hio. (Membakar dupa dan bersudjud pada Tuhan)
2. Tidak boleh mengganggu dan menganiaja. Hwee Sio, Hwee Sio sepersaudaraan.
3. Harus saling menjinta dan tolong menolong.
Lo Tie Djim meng-angguk2kan kepalanja jang gundul.
Ketua wihara itu menambahkan ;
,,Ada 5 larangan jang harus kau patuhi, dengarkan :
1/. Tidak boleh berkelakuan djahat.
2/. Tidak boleh menginginkan milik orang lain,
3. Tidak boleh menikah.
4. Tidak boleh makan daging dan minum arak.
5 Tidik boleh berbohong harus djudjur
Inilah larangan2 jang harus kau taati supaja kau dapat tinggal diwihara ini dengan aman ”
Lo Tie Djim menerima sadja semua jang diutjapkan ke tua wihara.
Ketua wihara itu lalu memerintahkan seorang Hwee Sio muda untuk menundjukkan pada Lo Tie Djim sebuah kamar untuk tempat tidurnja.
Lo Tie Djim begitu masuk kamar, segera naik keatas balai terus tidur.
Para Hwee Sio muda jang melihat Lo Tie Djim tidur merasa tidak senang, semua mengolok-olok dan marah² ;
“ Hai, orang baru ini belum saatnja untuk tidur, kau hurus beladjar membatja kitab sutji dulu, hajo bangun “
Lo Tie Djim ; “ Djangan berisik, aku mau tidur, Hajo pergi “
Para Hwee Sio muda mendjadi marah, mereka ber-ramai2 menghadap Tiangloo dan lapor akan apa jang mereka alami.
Siauw Hian salah seorang teetju melapor :,,
Suhu. orang baru itu sangat galak dan kasar,
sore² telah naik kerandjang dan tidur.
Kami sekalian menjuruhnja bangun dan beladjar Liamking,
tetapi ia membentak dengan suara jang amat kasar....."
Tiangloo : " Murid2ku sekalian, biarlah Lo Tie Djim
beristirahat dan tidur. Ketahuilah.
dia adalah seorang baru disini.
Kalau kita bersikap ramah dan welas asih,
berarti kita mengadjarnja tentang kebadjikan,
biarlah ia tidur sebab dia datang dari tempat
jang djauh, dan disini lambat laun ia akan
mendjadi baik. Marilah murid²ku kita Liamking !'
Tiangloo itu segera memeramkan matanja untuk konsentrasi, dan taklama dari mulutnja meluntjurlah kalimat² dari ajat² Kita Sutji. Para teetju serentak ikut pula duduk bersemedi dan mengikuti pembatjaan ajat² Kitab Sutji dari Sang Sing Djin. . . . .
Suara itu bergema sampai tengah malam, bagaikan suara nafiri di lembah sunji, sajup² sampai djuga ketelinga Lo Tie Djim.
Tetapi bagi Lo Tie Djim jang tidak mengenal arti kata² hikmah dalam Kitab Sutji itu. baginja suara² Liamking ini malahan seperti njanjian sehingga tidak lema kemudian tertidurlah ia dengan pulas.
Pagi² sekali Lo Tie Djim telah bangun dari tidurnja karena dirasa parutnja amat sakit dan mulas.
Lo Tie Djim lontjat dari pembaringannja karena ingin sekali buang air besar. Tetapi malang bagi dia. Pintu² semua masih terkuntji dengan rapat, ia berdjalan kian kemari sambil menahan sakit
Achirnja karena tidak tertahan lagi, Lo Tie Djim lalu djongkok dibalik ruang ibadah itu, menutup pintunja dan berhadjat........
Lo Tie Djim setelah menguras isi perutnja merasa segar, kembali ia masuk kedalam kamarnja dan tidur lagi.
Pada pagi hari para teetju dari wihara itu pergi ke ruang ibadah, seperti hari² biasanja sebelum makan pagi, selalu dilakukan sembajang bersama
Kali ini djalannja persembahjangan agak katjau masing² mentjium bau ko oran manusia jang amat menusuk. Satu sama lain ber pandang²an dan achirnja beberapa jang tidak tahan terus lari keluar
Djustru diluar ruang ibadat inilah beberapa teetju itu melihat seonggokan kotoran manusia. Tjepat² mereka lari dan lapor kepada Tiangloo.
„Suhu, orang baru itu sungguh biadab, ia berak dibelakang ruang ibadah, sehingga kami pagi hari ini tidak tenang mendjalankan upatjara sembabjang. . . . . bau busuk itulah jang mengganggu kami, Suhu usir sadja orang baru itu!“
Tiangloo dengan sabar mendjawab murid² nja ;
„Dia belum mengetahui dimana kamar ketjil dari wihara ini, sehingga kita tidak dapat mempersalahkannja.
Djangan ribut² bersihkan ber-ramai², nanti aku berikan nasehat padanja !“
Pagi hari itu Ketua wihara membangunkan Lo Tie Djim, disuruhanja mandi kemudian diadjak makan bersama.
Sambil makan ketua wihara jang baik hati memberikan nasehat² pada Lo Tie Djim. Lo Tie Djim merasa sangat malu dan berdjandji untuk menaati segala peraturan didalam wihara ini.
Sedjak hari itu Lo Tie Djim nampak sangat radjin tiap hari bangun pagi² dengan bersemangat menimba air, untuk mengisi bak² mandi, membersihkan ruang ibadah dan menjapu halaman wihara jang luas itu.
Tiangloo merasa amat tenang melihat perubahan Lo Tie Djim ini, namun selang beberapa hari kemudian mulai lah Lo Tie Djim kumat.
Pada suatu hari, seperti biasanja ia selalu bangun jang terpagi kali ini langit masih nampak sangat gelap, maka Lo Tie Djim berpikir ber-djalan² diluar sebentar. Ia lalu menggunakan ilmunja Pek Hoo tjhong thian atau burung bangau menembus langit, menggendjot tubuhnja jang besar itu naik keatas genteng Sampai diatas dilandjutkan dengan ilmunja Beng Hauw Lo Shia atau Harimau buas turun gunung lontjat ketanah dengan tangkasnja Sesampai diluar kelenteng ia menhirup udara se-puas puasnja sambil berguman:
„Aku Lo Tie Djim sungguh sial, bila lama² aku mengeram dalam wihara ini, aku akan mendjadi seorang bantji jang takut hidup. Heija, sampai² ilmu silatku kurasakan mundur karena tidak pernah kulatih. ..... . .” tiba² ia melihat seorang jang memikul dua gotji arak, orang ini memang pembuat arak dan tiap seminggu sekali mengirim kewarung makan.
Hari ini sungguh tidak disangka oleh Lo Tie Djim kalau berdjumpa dengan pendjual arak. Maka seleranja timbul, sifat²nja sebagai setan arak kumat setjara mendadak. Lo Tie Djim berteriak memanggil orang itu :
Hoi, Lopek berhenti dulu, aku ingin membeli beberapa tjawan “ Orang tua pemikul arak itu menghentikan langkahnja, tetapi tatkala melihat bahwa jang memanggil nja adalah seorang Hwee Sio, tjepat² ia memikul gotji dan lari.........
Lo Tie Djim sangat penasaran ia menggendjot tubuhnja dengan ilmunja Lie Hi Tho Tju atau ikan bader memuntahkan mutiara, sekali lontjat sambil mengulurkan tangannja untuk mentjengkeram tengkuk pedagang arak itu dan empek tua pedagang arak itu tidak berdaja untuk melepaskan diri.
Lo Tie Djim berkata: ” Aku bukannja tidak mau bajar, ini terimalah uangnja dan berikan aku beberapa tjawan.
Sudah puluhan hari aku tidak mentjium bau arak, kini rinduku pada arak akan terkabul.. . hahaa.. . . . . haha. . . . lopek tjepat berikan beberapa tjawan untukku!”
Pedagang arak itu sangat ketakutan dan herdiri tergugu
Lo Tie Djim marah; “Tulikah kau ? Gagukah kau ? Hei, bila tak mau mendjual aku nanti ambil sendiri !” Pedagang arak itu ketakutan dan menjahut dengan suara ter-putus² :
“ Buku... bukan. . . . . . . . . kah kau seorang. . . . . ., Hwo ; ; ; ; hwee sio, - - - peraturan diwihara ini sangat keras . . . . . . . kami tidak . . . . boleh . . . . . mendjual arak . . . . pada Hwee Sio . . . . . . . . . ."
Lo Tie Djim; ”Djangan takut, aku jang tanggung urusan ini.“ Dengan tidak sabar Lo Tie Djim lalu membuka tutup gotji arak itu, dan dengan nafsunja menghirup sampai puluhan tjawan arak.
Pedagang arak itu karena takut akibat dari tindakan Lo Tie Djim maka tjepat2 ia mengulurkan kedua tangannja untuk mendorong Lo Tie Djim. Lo Tie Djim sambil minum, badannja bergeser untuk Siam atau menghindarkan diri dari serangan, kemudian dengan tjepatnja kaki kirinja bergerak naik tepat mengenai bebokong pedagang arak itu, tanpa ampun lagi pedagang arak itu terdjerembab djatuh ketanah. Lo Tie Djim sambil tertawa meninggalkan pedagang arak itu.
Fadjar telah menjingsing, halaman kelenteng itupun telah banjak Hwee Sio muda2 jang sibuk mengurus tanam2an, menjapu dan menjirami bunga2. Pada saat itulah Lo Tie Djim masuk dengan tubuh sempojongan karena arak mulai merangsang ditubuhnja.
Para Hwee Sio itu menjaksikan ,gerak gerik dan wadjah Lo Tie Djim jang merah padam tambahan lagi Lo Tie Djim sambil berdjalan sambil bernjanji tidak keruan. Sudah pastilah bahwa Lo Tie Djim telah melanggar larangan dari wihara, ia telah membawa minuman keras.
Serempak para Hwee Sio muda itu mengambil tongkat dan menghadang tidak memperkenankan Lo Tie Djim mengindjak ruang kelenteng itu.
Tetapi Lo Tie Djim sudah tidak sadar akan dirinja lagi, ia menerdjang semua jang menghalang-halangi djalannja, kaki dan tangannja bergerak dengan djurus2 jang amat dahsjat. Twie San Ao Ting atu gunung Thayasan roboh menindih Sun Swei Thwee Tjhuan atau mengikuti aliran air mendorong perahu ..... Im Yan Tong Tju Kiok atau tendangan persatu panduau antara kekuatan negatip dan positip.... 2...
tongkat2 para Hwee Sio muda itu terbang terpental manakala bentrok dengan kaki tangan Lo Tie Djim
Suasana mendjadi amat katjau dan sangat berisik, sehingga Tiangloo atau ketua wihara kelenteng Buntju itu keluar untuk melihat apa jang terdjadi,
Para Hwee Sio nampak ketua keluar, segera mundur dan dengan suara ter-putus2 mereka melapor :
,,Suhu, orang baru itu telah melanggar larangan jang ke 4, ia telah berani meminum minuman keras dan akan mengotori tempat sutj ini,...... "
Lo Tie Djim jang mengamuk seperti kerbau gila, menampak Tiangloo jang saleh dari wihara kelenteng Buntju itu, samar2 sadarlah ia, dan dengan per-lahan2 menghampiri Tiangloo, kemudian berlutut untuk minta maaf, Lo Yie Djim denan suara parau :
,,Suhu, ampunilah diriku jang telah melakukan pelanggaran. . . . djanganlah suhu mengusirku karena aku Lo Tie Djim baru pertama kali melanggar larangan diwihara ini, aku berdjandji untuk merubahnja”
Tiangloo berkata dengan penuh kesabaran :
,,Lie Djim, baiklah kali ini kau kuberi ampun. Tetapi lain kali hendaknja kau benar2 beladjar untuk mendjadi seorang rochaniawan jang baik, Pergilah mandi dan segera ikut ber-sama2 sembahjang. "
Tiangloo tua itu terus menggapaikan tangannja ke arah Hwee Sio muda2 untuk masuk keruang ibadah.
Dua tiga bulan telah berlalu sedjak peristiwa Lo Tie Djim mabuk arak dan hendak diusir Selama itu Tiangioo dan para Hwee Sio meneliti tingkah laku dan sifat-sifat Lo Tie Djim, tetapi dilihat ternjaia banjak berubah baik, maka achirnja para Hwee Sio dun ketua wihara itu merasa berlapang hati, sebab Lo Tie Djim dapat mendjadi baik.
Beberapa hari kemudian. ; ; ; . . . suatu pagi hari Lo Tie Djim bangun pagi2 benar. Karena hawa udara pagi ini amat segar, maka Lo Tie Djim bermaksud ingin ke luar dan berdjalan2 sebentar
Ia buru2 masuk kakamarnja dan mengambil uang simpanannja, kemudian lari2 ketjil dan melalui halaman kelenteng terus menggendjot tubuhnja dengan ilmu silat Lie Hie ta ting atau ikan gabus meletik, badannja terajun sampai melewati pagar besi jang tingginja kurang lebih satu setengah meter, begitu sepasang kakinja mengindjakkan tanah, maka ia teruskan dengan ilmu silatnja meringankan tubuh, lari sekuat2nja. . . . . . . . . .
Sambil berlari Lo Tie Djim berpikir: . . . . . . . Seorang
- Hohan harus berbuat jang luhur untuk kebahagiaan rakjat jang menderita. Aku ingat betul kata2 purba jang berbunji. . . . . . . . . . Ing Siung, hohan ik sen tjhu she, khek tjing rhen che she pu khek too tek, ik too tek pien she mei than . . . . . . . . . . ja, betul2 . . seorang hohan kelahirannja di bumi ini harus dapat menggontjangkan dunia perbuatan2 jang mulia merupakan keharusan dan dilakukan tanpa pamrih . . . . . . . . sekali berpamrih . . . . maka . . . . . akan dikatakan Ketjap sadja . . . . . haha . . . . . hahaaaa . . . . . . . . . . Aku Lo Tie Djim harus segera meninggalkan kelenteng tua itu, atau aku akan mendjadi keledai gundul untuk selama2nja . . . . . . tjisk . . . . aku harus mempunjai rasa kepada diri sendiri, rasa pertjaja untuk mampu meneruskan perdjuangan hidup dan membela silemah . . . . . . . . . ."
Demikianlah lamunan Lo Tie Djim, sehinagaga tanpa terasa ia telah sampai kesebuah pasar, jang djaraknja kurang lebih 5 Km dari kelenteng Lo Tie Djim segera menghentikan larinja, ia lalu memasuki sebuah kedai kedai. Setelah mengambil tempat duduk lalu memesan makanan dan arak. Pemilik kedai itu mendjadi tertjengang, katanja;
„Tootiang, kami telah diperintahkan oleh Tiang-loo diwihara kelenteng Buntju untuk tidak mendjual arak kepada para Hwee Sio. Maka harap Tootiang mengerti hal ini.“
Lo Tie Djim agak mengkal hatinja, tjepat² ia meninggalkan warung itu dan melandjutkan djalannja. Pergi agak djauh Lo Tie Djim berfikir, semua warung² didekat kelenteng Buntju ini telah diberi larangan oleh Tiangloo. baik aku pergi agak djauh, barangkali warung jang terpodjok itu belum mengetahui larangan ini. Tjepat-tjepat ia melangkahkan kakinja menudju kesebuah warung jang letaknja diudjung dusun bagian timur kota,
Belum sampai kekedai jang ditudju itu, tiba² telinganja mendengar suara besi² jang ditempa. Lo Tie Djim mengikuti dari mana suara itu datang, ia melangkahkan kakinja kearah datangaja suara itu, tidak antara lama sampailah kesebuah pandai besi.
Tukang pandai besi itu sedang sibuk membuat alat-alat sendjata, maka Lo Tie Djim mendekat dan berbitjara pada salah seorang pandai besi itu;
Hei, tukang pande aku pesan, buatkan sebual, pedang dan sebuah tongkat besi jang beratnja ±100 Kg. Pandai besi itu tertawa :
„Aku belum pernah mendapatkan pesanan jang demikian beratnja. Tooliang, Kwantoo [Golok besar] jang paling tinggi 81 Kg beratnja, seraiknja Tootiang pesan jang beratnja antara 40 sampai 50 Kg“
Lo Tie Djim dengan suara keras menjahut ;
„Itu kurang berat untuk saja, kau suka melajani atau tidak?“
Tukang tukang pandai besi itu ketakutan dan dengan suara jang gugup mendjawab:
„Maaf Totiang diangan tjepat2 naik darah, kami akan membuatkan jang tooliang minta .... oh ... berapa beratnja?
Lo Tie Djimm: Dengar sampai djelas! Buatkan untuk saja sebuah pedang jang tadjam, dan sebuah tongkat besi jang beratnja 62 Kg ... dan ini uang mukanja 500 yen. Berapa hari djadi. ?"
Tukang pande besi itu memikir sebentar kemudian memberikan djawab;
„Totiang. paling tjepat 5 hari baru bisa djadi."
Lo Tie Djim; „Baik, buat jang bagus dan djangan lupa ukuran beratnja !"
Tukang pande besi: „Baik, baik, buatan kami pasti memuaskan hati Tootiang, djangan chawatir . . . ."
Lo Tie Djim lalu meninggalkan tempat itu dan melandjutkan perdjalanannja Belum beberapa langkah sampailah kesebuah rumah makan. Dimuka pintu rumah itu terpanjang sebuah papan daftar makanan jang berisi segala masakan dan ber-matjam² arak jang tersohor.
Lo Tie Djim timbul seleranja untuk minum arak, ia mulai ketagihan maka tjepat? masuk dan dengan suara keras memesan :
„Beri aku 10 tjawan arak jang baik !"
Pemilik warung itu mengawasi Lo Tie Djim dan mendjawab dengan bingung :
„Bukankah Hwee Sio dilarang meminum minuman keras?"
Lo Tie Djim: „Aku bukan Hwee Sio Buntju, aku datang dari kota Kwan See. hajo lekas berikan aku 10 tiawan arak, djangan chawatir. . . . tidak apa²!"
Pemilik warung; „Ja. ja, baiklah saja sediakan".
Segera pemilik warung itu masuk, dan tidak lama keluar lagi sambil membawa beberapa tjawan arak jang di taruh depan Lo Tie Djim. segera diletakkan Lo Tie Djim si setan arak, telah mengekang dirinja sampai tahan 34 bulan, kini mentium bau arak jang menghambar dari tjawan2 jang berada dihadapannja, segera lupa larangan dari Tiangloo, ia menenggak 10 tjawan arak itu dengan rakusnja.
Kemudian ia memanggil pemilik warung itu.
"Lauwhia, sediakan lagi 3 tjawan. dan masih tersediakah daging babi ? Masakkan untuk saja beberapa kati!"
Pemilik warung mendjawab ;
"Tootiang, kalau arak masih ada, tetapi sajang persediaan daging kami telah habis .... hanja .... hanja .. ada daging ......."
Lo Tie Djim tjepat memotong perkataan pemilik warung itu :
"Daging apa kah?"
Pemilik warung: "tinggal daging Huk jang baru sadja kami potong, apakah Tootiang djuga suka ?"
Lo Tie Djim tertawa: "Daging Huk aku djuga suka, haha ... hahahaa ...." Masakkan 5 kat dan bakar 5 kati, agak tjepat untuk teman minum arak!"
Pemilik warung: "Baik, baik...." lalu masuk dan mamasak pesanan dari Lo Tie Djim.
Tidak lama apa jang dipesan telah masak semua, maka Lo Tie Djim makan sampai merem melek, karena dirasa daging Huk ini sangat lezat
Hanja beberapa menit sadja 10 kati daging Huk itu telah masuk keretnja, ia menggapai pemilik warung dan memesan lagi
"Masakkan lagi 10 kati untuk aja bawa pulang!"
Pemilik warung: "Bakar atau masak?"
Lo Tie Djim mendjawab: "Bakar semua, dan ini semua berapa?"
Pemilik warung meng-hitung2 dengan swiepoa dan mendjawab:
"Semuanja 20 tjawan arak dan 20 kati daging, berdjumlah 4 tail.
Lo Tie Djim mengangsurkan uang dan berdiri dengan rasa agak limbung.
Setelah apa jang dipesan masak. Lo Tie Djim lalu membawa bungkusan daging Huk itu untuk dibawa pulang, ia pikir untuk dimakan malam hari nanti.
Tiba didepan keleteng Lo Tie Djim sudah tidak dapat menguasai dirinja lagi, djalannja seperti tjatjing kepanasan, sempojangan dan tidak lurus, Karena hari sudah agak siang maka pintu kelenteng itu telah tertutup, Lo-Tie Djim menggedor gedor pintu kelenteng itu, tetapi tidak ada jang membukakan karena para Hwee Sio sedang melakukan ibadah.
Lo Tie Djim amat marah ia mengadjar pintu kelenteng jang tebalnja hampir 12 Cm itu dengan ilmunja jang sangat dahsjat jakni Tay Lek Kim Kong Tjhiu atau pukulan maut menggeledek dari Arhat mas. Suara brak disusul dengan robohnja pintu kelenteng jang bergemuruh.
Para Hwee Sio dan ketua wihara jang sedang bersemedi itu amat terkedjut, semuanja mengachiri konsentrasinja dan berlari keluar, untuk melihat apa jang telah terdjadi?
Mereka berpapasanlah dengan Lo Tie Djim jang mukanja merah, dan djalannja seperti kerbau gila.... Para Hwee Sio mendjadi tertegun dan tidak berani bergerak, sesaat Lo Tie Djim djatuh tersungkur tatkala akan naik undak2an, ia sudah tidak dapat menguasai dirinja lagi, ketika akan bangun dirasanja perutnja amat mual, matanja kabur se-akan2 semuanja berputar, maka mulutnja terbuka lebar dan muntahlah ia....
Potongan2 daging Huk keluar semua dari perutnja dan bau arakpun memenuhi ruangan kelenteng itu.
Semua Hwee sio mendekap hidungnja, dan ada beberapa jang lari kedalam untuk lapor pada Tiangloo.
Kali ini Tiangloo itu amat marah, ia bertindak keluar dan menjaksikan apa jang telah terdjadi, dengan bergemetar Tiangloo itu berkata ;
Lo Tie Djim, kali ini tidak ada ampun lagi untukmu. Dahulu kau kuterima karena aku bersabat baik dengan Tio Wan Gwan, kini aku akan mengundang Tio Wan Gwan untuk menjelesaikan hal ini. Siauw Hian panggil Tio Wan Gwan lekas! Dan hajo kalian ambil air siram bersih semua kotoran ini !
Lo Tie Djim mendengar suara Tiangloo itu masih mengenal siapa dia, ia menerangkan dan bermohon :
„Suhu teetju minta belas kasihan mu, djangan usir saja. . . .
aku tak ada tempat untuk tinggal. . . . . beri saja waktu“
Sedang Lo Tie Djim dan para Hwee sio itu sibuk tak karuan, datanglah Tio Wan Gwan.
Tiangloo dengan menggelah napas berkata :
„Telah kutjoba untuk mendidik Lo Tie Djim, tetapi tidak berdaja dia memang bukan djodohku. Wan Gwan biarlah Tie Djim pindah dari kuil Buntju ini, sebab perbuatannja talah membuat para teetju tidak senang hati.“
Tio Wan Gwan dengan sedih menjahut ; „Baik, baik, aku sebenarnja ingin menolong, tetapi ditempatku banjak sekali dikundjungi oleh alat² pemerintah, sehingga tidak berani untuk ia tinggal dirumahku. Suhu, apa jang dirusakkan biarlah aku jang mengganti, nanti aku beli kaju dan panggil tukang untuk memperbaikinja. Dan tolonglah supaja Tie Djim bisa ada tempat untuk bersembunji dengan aman,“
Tiangloo itu berpikir sedjenak, kemudian berkata dengan sungguh²; „Aku akan menitipkan dia kekota Tongkhia ( Tong king), disana ada saudara seperguruanku jang mendjabat sebagai ketua kelenteng Tay Siang Kok Sie. Adjaklah sementara dirumahmu nanti akan kubuatkan seputjuk surat untuk dia“
Tio Wan Gwan sangat berterima kasih, kemudian ia mengadjak Lo Tie Djim sementara beristirahat kerumahnja
Selang bebera hari, datanglah Siauw Hian murid Tiangloo dari kuil Buntju, membawa semua pakaian Lo Tie Djim dan memberikan seputjuk surat. Tio Wan Gwan menerimanja itu dengan rasa terharu, sebab saatnjalah untuk ia berpisah dengan Hohan kita jang eksentrik ini
--oooOooo--