Buku Praktis Bahasa Indonesia 2/61-90

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Buku Praktis Bahasa Indonesia 2
61-90
Sumber: Pusat Bahasa

Ayo, sekolah atau Ayo, ke sekolah[sunting]

Kalimat ajakan "Ayo, sekolah kini sangat populer. Kalimat itu lazim digunakan dalam ragam bahasa lisan atau ragam bahasa iklan dan sangat komunikatif. Pada ungkapan tersebut terdapat pelesapan bentuk kata atau fungsi gramatikal nomina (kata benda) yang menempati posisi verba (kata kerja). Di dalam ragam baku formal, struktur ungkapan yang menyatakan ajakan seperti itu berubah menjadi ""Ayo bersekolah (verba) atau ""ayo ke sekolah (preposisi + nomina -> menyatakan keterangan tujuan).

Y-2-K atau Milenium[sunting]

Ungkapan Y-2-K adalah kependekan dari ungkapan bahasa Inggris "year two kilo". Ungkapan itu digunakan untuk menyebut [tahun] "2000". Tahun 2000 adalah tahun terakhir masa waktu seribu tahun kedua, yaitu tahun 1901-2000. Masa waktu seribu tahun berikutnya adalah waktu tahun seribu ketiga, yaitu tahun 2001-3000. Masa waktu yang lamanya 1000 tahun itu dalam bahasa Inggris disebut dengan istilah "millenium", yang diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan menjadi milenium. Milenium I dimulai dari awal tahun Tahun Masehi, yaitu tahun 1. Masa waktu milenium I, II, dan III itu jelas terlihat pada tabel berikut.

Milenium Masa Waktu Mulai Sampai (dengan)
I 1 Januari 1 31 Desember 1000
II 1 Januari 1001 31 Desember 2000
III 1 Januari 2001 31 Desember 3000

Masyarakat Madani[sunting]

Kata Madani berarti 'berhubungan dengan kota Madinah". Pada masa Nabi Muhammad SAW. masyarakat kota Madinah sudah berperadaban tinggi, santun, menghormati pendatang, patuh dengan norma dan hukum yang berlaku, memiliki rasa toleransi yang tinggi yang dilandasi penguasaan iman, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Atas dasar penalaran tersebut, masyarakat madani berarti masyarakat yang memiliki peradaban tinggi, santun, menjunjung tinggi norma dan hukum yang berlaku yang dilandasi penguasaan iman, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Di dalam perkembangan kontak budaya masyarakat madani digunakan sebagai padanan kata Inggris "civil society".

Status Quo, Klarifikasi, Kondusif, Modus Operandi, dan Provokator[sunting]

"Status quo" berasal dari bahasa Latin, artinya 'keadaan tetap sebagaimana keadaan sekarang atau sebagaimana keadaan sebelumnya'. Jadi, mempertahankan status quo berarti mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumnya.

Contoh:

  1. Ia mengajukan pandangan baru, tetapi tidak mengubah status quo.
  2. Di dalam gerakan masyarakat selalu terdapat kelompok gerakan yang menerima dan menolak status quo.

Klarifikasi adalah penjernihan masalah hingga menjadi transparan dan tidak ada yang dirahasiakan. Contoh:

  1. Sangkaan korupsi yang ditujukan kepada pejabat negara itu perlu diklarifikasi.

Kondusif artinya bersifat dapat memberi peluang atau bersifat mendukung tercapainya hasil yang diinginkan. Contoh:

  1. Kurangnya lampu penerang jalan merupakan keadaan yang kondusif untuk terjadinya kerawanan perjalanan pada malam hari.

"Modus operandi" berasal dari bahasa Latin, artinya 'prosedur atau cara bergerak atau berbuat sesuatu'. Contoh:

  1. Menempatkan kayu perintang di jalan menjadi modus operandi kejahatan pada masa kini.

Provokator adalah orang atau sekelompok orang yang melakukan tindakan provokasi, yaitu tindakan atau perbuatan untuk membangkitkan kemarahan pihak lain. Contoh:

  1. Bentrokan fisik terjadi di beberapa tempat sebagai akibat dari hasutan provokator.

Menghujat[sunting]

Permasalahan
Bersamaan dengan mulainya era reformasi, pemakaian kata menghujat terkesan mendapat perhatian yang lebih. Tampaknya, pemakaian kata itu tidak terlepas dari komentar para tokoh politik terhadap tokoh lain atau organisasi tertentu. Komentar itu menimbulkan reaksi pro dan kontra. Bagi yang setuju, komentar itu dianggap sebagai koreksi atau setuju, komentar itu dianggap sebagai hujatan. Dalam hal ini, hujatan berarti 'hinaan' atau 'fitnah'.

Terhadap pemakaian kata menghujat atau hujatan, muncul pendapat yang berbeda pula. Sebagian orang berpendapat bahwa arti hujatan bukan 'hinaan' atau 'fitnah', melainkan 'alasan' atau 'bukti'.

Penjelasan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata hujat, selain berarti 'hinaan' atau 'fitnah', dapat pula berarti 'alasan' atau 'bukti'. Dengan demikian, pemakaian kata menghujat 'memfitnah' dan hujatan 'hinaan' atau 'fitnah' tentu saja tidak salah.

Hal lain yang perlu diingat ialah bahwa selain kata hujat, sering pula digunakan kata hujah. Perubahan huruf ta marbutah ( ة ) pada posisi akhir (bahasa Arab) menjadi t dan h di dalam bahasa Indonesia. Contoh lain adalah sebagai berikut. أمانات -> amanat عبادات -> ibadat أمانة -> amanah عبادة -> ibadah سنة -> sunat جماعات -> jemaat -> sunah جاماعة -> jemaah

Menghina, Memfitnah, dan Mencemarkan Nama Baik[sunting]

Permasalahan
Dalam kehidupan sehari-hari orang dengan mudah dituduh telah menghina, memfitnah, atau mencemarkan nama baik orang lain. Akan tetapi, dari segi bahasa, apakah sebenarnya arti yang terkandung pada kata menghina, memfitnah, atau mencemarkan nama baik orang itu?
Penjelasan
Kata menghina berarti 'merendahkan martabat atau memandang rendah (hina atau tidak penting) seseorang; misalnya, dilakukan dengan melontarkan kata-kata yang jorok, kotor, atau tidak senonoh, baik lisan maupun tulis.

Kata memfitnah berarti 'menuduh seseorang melakukan sesuatu yang tidak benar-benar dilakukan'. Tuduhan semacam itu biasanya dilakukan dengan maksud menjelekkan orang, menodai nama baik, atau merugikan kehormatan orang lain.

Perkataan mencemarkan nama baik berarti 'menjadi cemar atau menodai nama baik'. Selain itu, perkataan tersebut juga dapat berarti 'memburukkan atau menjelekkan nama baik seseorang'.

Seperti Misalnya, Contohnya Seperti, Umpannya Seperti[sunting]

Pemakaian dua kata yang mempunyai makna dan fungsi yang sama, antara lain seperti misalnya, contohnya seperti, dan umpamanya seperti merupakan pemakaian bahasa yang kurang cermat. Kata seperti, misalnya, contohnya dan umpamanya adalah kata-kata yang bersinonim sehingga pemakaiannya secara bersama-sama merupakan kelewahan atau mubazir. Oleh karena itu, demi kecermatan berbahasa dan untuk menghindarkan terjadinya kelewahan atau kemubaziran itu dapat dilihat pada contoh berikut.

  1. Hasil pengembangan teknologi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia seperti misalnya komputer, peralatan transportasi, dan peralatan informasi.
  2. Hasil pengembangan teknologi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia contohnya seperti komputer, peralatan transportasi, dan peralatan informasi.
  3. Hasil pengembangan teknologi sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia umpamanya seperti komputer, peralatan transportasi, dan peralatan informasi.

Pemakaian kata lain yang sejalan dengan hal itu adalah,

hanya .... saja;
Misalnya ...., ....., dan sebagainya;
Antara lain ...., ...., dan lain sebagainya; serta
Seperti ....., ....., dan lain-lain.

Dalam hal ini kata hanya dan saja juga merupakan kata yang bersinonim sehingga pemakaiannya secara bersamaan merupakan kelewahan atau mubazir. Oleh karena itu, digunakan satu saja; hanya atau saja.

Berikut ini adalah contoh pemakian kata-kata itu secara efektif.

  1. Peristiwa itu bukan hanya diketahui oleh keluarganya saja, melainkan juga oleh masyarakat di sekitarnya.
  2. Peristiwa itu bukan diketahui oleh keluarganya saja, melainkan juga oleh masyarakat di sekitarnya.

Demikian juga kata dsb., dll., dan dlsb. yang digunakan secara kurang tepat. Misalnya:

  1. Ekspor nonmigas, misalnya rotan, kayu lapis, pakaian jadi, dsb. makin meningkat
  2. Ekspor nonmigas, antara lain rotan, kayu lapis, pakaian jadi, dll. makin meningkat

Kata seperti, misalnya, atau antara lain itu sudah bermakna 'beberapa atau sebagian'. Oleh karena itu, kata dsb., dll., atau dlsb. tidak perlu dimunculkan lagi apabila sudah digunakan kata misalnya atau antara lain. Dalam hal itu lebih baik jika digunakan kata dan atau atau sebelum butir perincian yang terakhir. Contoh:

  1. Ekspor nonmigas, misalnya rotan, kayu lapis, dan pakaian jadi makin meningkat.
  2. Ekspor nonmigas, seperti rotan, kayu lapis, dan pakaian jadi makin meningkat.
  3. Ekspor nonmigas, antara lain rotan, kayu lapis, dan pakaian jadi makin meningkat.

Penggunaan kepada[sunting]

Kata kepada yang sering kita lihat dalam penulisan alamat surat, sebenarnya demi kecermatan berbahasa, tidak perlu lagi digunakan. Tanpa digunakannya kata kepada pun alamat surat yang dimaksud sudah jelas. Dalam hal itu, cukup digunakan frasa Yang terhormat yang disingkat menjadi Yth. (diakhiri tanda titik). Oleh karena itu, penulisan alamat surat sebaiknya sebagai berikut. Yth. Sdr. Endang Pratiwi Jalan Gelatik Dalam X/151/ A Bandung 40133 Singkatan kata atau kata untuk gelar akademis, pangkat, dan jabatan pada penulisan alamat surat tidak perlu diawali dengan kata sapaan Bapak atau Ibu karena gelar akademis dan pangkat itu sudah merupakan penghargaan kepada orang yang akan dikirimi surat. Akan tetapi, apabila adat istiadat setempat mengharuskan pencatuman kata sapaan, penggunaannya dapat dibenarkan walaupun sebenarnya merupakan hal mubazir. Contoh: Yth. Dr. Sudrajad Jalan Daksinapati 1000 Jakarta 13220

Yth. Prof. Dr. Sanjaya Jalan Kasunanan Jakarta 13220

Yth. Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Jalan Jenderal Sudirman Jakarta

Diselenggarakan, Dilangsungkan, dan Dilaksanakan[sunting]

Setiap bahasa memiliki kata yang bersinonim, atau maknanya hampir sama atau mirip. Kenyataan seperti itu terdapat pula di dalam bahasa Indonesia, seperti kata diselenggarakan, dilangsungkan, dan dilaksanakan. Walaupun demikian, pemakaiannya sangat bergantung pada konteks kalimatnya.

Perhatikan contoh berikut.

  1. Operasi jantung itu dilaksanakan oleh tim dokter rumah sakit Pusat.

Kata dilaksanakan pada kalimat itu tidak dapat digantikan oleh kata dilangsungkan atau diselenggarakan. Pilihan kata lain yang dapat menggantikannya di dalam kalimat itu, ialah dilakukan.

  1. Upacara itu dilangsungkan di kantor kecamatan.

Pada kalimat itu kedudukan kata dilangsungkan di dalam kalimat itu dapat digantikan oleh kata diselenggarakan atau dilaksanakan.

Berdasarkan kenyataan tersebut, walaupun kata-kata itu bersinonim, penerapannya di dalam pemakaian kalimat belum tentu sama karena pada setiap kata yang bersinonim itu terdapat nuansa makna yang berbeda. Oleh karena itu, penggunaanya di dalam kalimat sangat bergantung pada makna konteks kalimatnya.

Urutan Kata dan Maknanya[sunting]

Permasalahan
Ada sementara orang yang beranggapan bahwa gabungan kata tadi malam tidak baku. Bentuk yang baku ialah malam tadi. Namun, benarkah anggapan itu?
Penjelasan
Dalam hal itu, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan contoh tersebut.

Pertama-tama yang harus kita perhatikan ialah masalah urutan kata. Pada umumnya, gabungan kata bahasa Indonesia mengikuti kaidah hukum DM. Marilah kita simak contoh di bawah ini.

  • bank sirkulasi
  • sertifikat deposito
  • bank berantai
  • sertifikat obligasi
  • cek terbayar
  • uang palsu
  • cek tolakan
  • uang lunak

Pada contoh itu terlihat bahwa semua kata pertama, yaitu bank, cek, sertifikat, dan uang, berfungsi sebagai unsur diterangkan (D). Jadi, semua gabungan kata di atas mengikuti kaidah hukum DM.

Hal kedua yang perlu diperhatikan ialah masalah makna. Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang apabila diubah urutannya akan berubah pula maknanya. Perhatikan contoh berikut.

  • tabungan berhadiah
  • berhadiah tabungan
  • hijau rumput
  • rumput hijau

Gabungan kata tabungan berhadiah berarti 'tabungan yang menyediakan hadiah', sedangkan gabungan kata berhadiah tabungan berarti 'mempunyai hadiah yang berupa tabungan'.

Gabungan kata hijau rumput adalah istilah untuk warna yang hijaunya seperti daun rumput, sedangkan rumput hijau adalah sebuah gabungan kata yang mengandung makna 'rumput yang berwarna hijau'. Jadi, makna kedua bentuk kata itu berbeda/tidak sama. Kata hijau pada rumput hijau merupakan kata yang diterangkan (D), sedangkan kata rumput' menerangkan kata yang di depannya (M). Kata rumput pada rumput hijau merupakan kata yang diterangkan, sedangkan kata hijau menerangkan kata yang di depannya (M).

Hal ketiga yang juga perlu diperhatikan ialah bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat jumlah gabungan kata yang urutannya berdasarkan MD, bukan DM. Contoh untuk itu ialah perdana menteri dan mayor jenderal. Pada contoh itu kata yang terletak di sebelah kanan berfungsi sebagai unsur inti atau unsur yang diterangkan (D), sedangkan unsur yang terletak di sebelah kiri berfungsi sebagai unsur penjelas atau yang menerangkan (M)

Hal keempat atau terakhir yang perlu dicatat ialah bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat gabungan kata yang urutan unsur-unsurnya dapat dipertukarkan letaknya (DM atau MD), tetapi tak mengubah makna dasarnya. Ambilah contoh sejanak bersantai dan bersantai sejenak. Perbedaan kedua urutan kata itu terletak pada masalah pengutamaan unsur. Sejenak bersantai mengutamakan waktunya (sejenak), sedangkan bersantai sejenak mengutamakan kegiatannya (bersantai).

Gabungan kata tadi malam dan malam tadi mempunyai perilaku yang sama dengan sejenak bersantai dan bersantai sejenak. Tadi malam dipakai untuk mengutamakan waktu lampaunya (tadi), sedangkan malam tadi dipakai untuk mengutamakan harinya (malam). Dengan kata lain, baik tadi malam maupun malam tadi dapat digunakan dengan pengutamaan yang berbeda.

Perlu ditambahkan keterangan bahwa pengubahan urutan kata dalam tadi malam dan malam tadi bukanlah masalah tata bahasa semata, melainkan menyangkut masalah retorika atau gaya bahasa, yaitu masalah pengedepanan unsur yang dianggap penting dan yang dianggap kurang penting. Unsur yang dipentingkan dikedepankan posisinya.

Hari Ini dan Ini Hari[sunting]

Kondisi struktur tadi malam dan malam tadi itu tampaknya tidak dapat disamakan dengan kondisi struktur hari ini dan ini hari. Dalam hal itu, bentuk hari ini lebih tepat daripada bentuk ini hari.

Unsur Bahasa Asing dalam Bahasa Indonesia[sunting]

Kata-kata bahasa Inggris yang telah memiliki padanan dalam bahasa Indonesia tidak perlu digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Misalnya, workshop 'sanggar kerja' upgrading 'penataran' like it or not 'senang atau tidak senang' approach 'pendekatan' misunderstanding 'salah pengertian' problem solving 'pemecahan masalah' job-description 'uraian tugas'

Penggunaan unsur-unsur bahasa asing dalam wacana/kalimat bahasa Indonesia sangat berkaitan erat dengan masalah sikap bahasa. Sikap bahasa yang kurang positif, kurang bangga terhadap bahasa Indonesia, yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Sebagai bahasa Indonesia, kita harus merasa bangga terhadap bahasa Indonesia. Oleh karena itu, agar tidak mengurangi nilai kebakuan bahasa Indonesia yang digunakannya, unsur-unsur bahasa asing tidak perlu digunakan dalam pemakaian bahasa Indonesia. Langkah yang dapat kita lakukan adalah mencarikan padanan dalam bahasa Indonesia atau serapan unsur asing itu sesuai dengan kaidah yang berlaku, seperti yang diatur dalam buku Pedoman Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah.

Penulisan Kata[sunting]

Salah Benar
aktip aktif
apotik apotek
ekstrim ekstrem
gladi (bersih) geladi (bersih)
hirarki hierarki
insyaf insaf
jadual jadwal
karir karier
komplek kompleks
kwalitas kuanlitas
kwantitas kuantitas
kwarto kuarto
kwesioner kuesioner
pas photo pasfoto
perengko prangko
praktek praktik
rubah ubah
sub sistem subsistem
taqwa takwa
trampil terampil
trotoir trotoar
ujud wujud
ultra modern ultramodern
wassalam wasalam

Makna Kata dan Penggunaannya[sunting]

Ada sejumlah kata yang memiliki makna lebih dari satu. Frekuensi penggunaan kata-kata itu tidak dapat diramalkan. Kekerapan penggunaan kata sangat bergantung pada perkembangan citra rasa masyarakat pemakainya. Akibatnya, sebuah kata yang kekerapannya penggunaanya sangat tinggi pada suatu ketika mungkin akan mengalami penurunan.

Berikut ini adalah kata-kata yang pada saat ini sedang merebut hati cita rasa pemakainya.

Manuver[sunting]

Kata manuver berarti 'gerakan yang tangkas dan cepat dari pasukan (kapal dsb.) dalam perang; pelatihan perang yang dilakukan oleh militer'. Kata manuver di dalam perkembangan bahasa ternyata penggunaanya tidak terbatas pada bidang kemiliteran. Contoh:

  1. Kesebelasan Jepang akan membuat manuver-manuver pada awal turnamen sepak bola Olimpiade Atlanta ketika tim itu mengalahkan Brazil.

Negosiasi[sunting]

Kata negosiasi mempunyai makna (1) proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk memberi atau menerima guna mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak yang lain; (2) penyelesaian sengketa secara damai melalui perundingan di antara pihak-pihak yang bersengketa. Contoh:

  1. Untuk meningkatkan pangsa pasar Indonesia di Yunani, pemerintah Republik Indonesia dan pelaku bisnis melakukan negosiasi dengan pemerintah Yunani tentang tekstil dan barang-barang kerajinan.

Antisipasi[sunting]

Kata antisipasi mempunyai makna 'perhitungan tentang hal-hal yang akan (belum) terjadi; ramalan; penyesuaian mental terhadap peristiwa-peristiwa yang akan terjadi'. Contoh:

  1. Di dalam masyarakat antisipasi terhadap lahirnya teknologi mutakhir masih belum ada.

Alih-alih[sunting]

Kata alih-alih mempunyai arti 'kiranya; dengan tidak disangka-sangka; sebagai gantinya' Contoh:

  1. Saya pikir engkau sudah pergi, alih-alih masih tidur.
  2. Penggunaan bahasa asing, alih-alih bahasa Inggris, selain bahasa Indonesia kadang-kadang diperlukan di dalam pergaulan modern.

Senyampang[sunting]

Kata senyampang mengandung makna 'kebetulan; selagi; mumpung' Contoh:

  1. Senyampang pakar ekonomi ini ada di tengah-tengah kita, Anda boleh bertanya langsung mengenai keadaan ekonomi kita.

Tempah[sunting]

Kata tempah berarti 'uang yang dibayarkan lebih dulu (untuk panjar, pembeli barang, upah, dsb.); uang muka; persekot' Contoh:

  1. Pemesan rumah tipe 36 diwajibkan membayar (uang) tempat sebesar Rp 300.000,00

Bagaimana Kita Menyerap Kata Asing[sunting]

Unsur bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia harus mempertajam daya ungkap bahasa Indonesia dan harus memungkinkan orang menyatakan makna konsep atau gagasan secara tepat. Penyerapan unsur bahasa asing itu harus dilakukan secara selektif, yaitu kata serapan yang dapat mengisi kerumpangan konsep dalam khazanah bahasa Indonesia. Kata itu memang diperlukan dalam bahasa Indonesia untuk kepentingan pemerkayaan daya ungkap bahasa Indonesia mengiringi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi Indonesia modern.

Berikut beberapa contoh tentang hal itu.

Kata "condominium", diserap ke dalam bahasa Indonesia dengan penyesuaian ejaan menjadi kondominium. Demikian juga penyerapan kata konsesi, staf, golf, manajemen, dan dokumen. Kata-kata itu diserap ke dalam bahasa Indonesia melalui proses penyesuaian ejaan. Namun, kata "laundry" sebenarnya tidak diperlukan karena dalam bahasa Indonesia sudah digunakan kata binatu dan dobi. Perlakuan yang sama dapat dikenakan pada kata "tower" karena padanan untuk kata itu sudah ada dalam khazanah bahasa Indonesia, yaitu menara atau mercu. Kata "garden" yang pengertiannya sama dengan kata taman atau bustan juga tidak perlu diserap ke dalam bahasa Indonesia.

Sejalan dengan pemaparan kosakata serapan itu, bagaimana dengan kata "developer" dan "builder"? Apakah perlu diserap? Kedua kata itu, sudah tidak asing lagi bagi penguasa yang bergerak dalam bidang pengadaan sarana tempat tinggal ataupun perkantoran. Akan tetapi, apakah tidak lebih baik jika pengguna bahasa Indonesia berusaha memasyarakatkan penggunaan kata pengembang untuk padanan "developer" dan pembangun untuk padanan builder.

Petinju dan Peninju[sunting]

Banyak pengguna bahasa mempertanyakan perbedaan makna antara kata petinju dan peninju. Mereka berpendapat bahwa kedua kata itu tidak berbeda karena berasal dari kata dasar yang sama, tinju. Kedua kata itu memang berasal dari kata dasar yang sama, tetapi di dalam perkembangan bahasa Indonesia ternyata mengalami proses pencermatan makna sehingga kata petinju berbeda maknanya dari kata peninju.

Kedua kata itu jangan dilihat dari kata dasarnya, tetapi hendaklah dilihat kaitan maknanya dengan kata kerja yang berkaitan dengan bentuknya. Kata petinju kata 'orang yang bertinju' dan peninju berarti 'orang yang meninju'. Kata petinju bertalian bentuk dan maknanya dengan kata kerja bertinju, sedangkan peninju berkaitan bentuk dan maknanya kata kerja meninju. Pengimbuhan yang berbeda pada kedua kata itu menyebabkan perubahan bentuk, yang membawa perubahan makna.

Dalam bahasa Indonesia, pembentukan kata turunan yang berasal dari kata kerja mengikuti proses berikut.

a. Proses pembentukan kata turunan yang lengkap

ajar -> belajar -> pelajar -> pelajaran
-> mengajar -> pengajar -> pengajaran

b. Proses pembentukan turunan yang tidak lengkap

tani -> bertani -> petani -> pertanian
-> [tidak ada]
daftar -> [tidak ada]
-> mendaftar(kan) -> pendaftar -> pendaftaran

c. Proses pembentukan kata turunan yang kurang produktif

suruh -> bersuruh -> pesuruh
-> menyuruh -> penyuruh -> penyuruhan

Pada proses pembentukan kata turunan yang tidak lengkap (b.1) tidak ditemukan bentuk kata kerja dengan awalan meng-, seperti tidak ada kata menani(-kan) sehingga tidak (belum) ditemukan kata benda penani dan penanian. Pada proses tidak lengkap (b.2) tidak ditemukan kata benda pedaftar dan pendaftaran.

Pembentukan kata yang sejalan dengan proses pembentukan kata turunan yang tidak lengkap (b.1) antara lain, ialah kebun -> berkebun -> pekebun -> perkebunan.

Kata petinju dan peninju tidak akan dapat diterangkan pembentukannya jika hanya dilihat dari bentuk dasarnya tinju yang mendapat awalan pe- karena hasil akhirnya akan selalu peninju' dan tidak pernah terjadi bentuk pe- + tinju -> petinju. Kata petinju dan peninju mengikuti proses pembentukan yang lengkap seperti berikut.

tinju -> bertinju -> petinju -> pertinjuan
-> meninju -> peninju -> peninjuan

Dengan beranalog pada kata petinju, dibentuklah kata peterjun, petembak, pegolf, pebulu tangkis, dan pebiliar.

Kata Salat[sunting]

Permasalahan
Kalau kita perhatikan dengan seksama, kata salat sering dituliskan secara berbeda. Ada orang yang menuliskan kata itu salat dan ada pula ada pula yang menuliskannya shalat. Bahkan, ada yang menuliskannya sholat. Kita tentu bertanya, mana penulisan yang benar?
Penjelasan
Suatu kata yang sudah menjadi warga kosakata bahasa Indonesia ditulis sesuai dengan kaidah penulisan pada Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. Sebaliknya, suatu kata Arab yang belum menjadi kata bahasa Indonesia seyogianya ditulis mengikuti Pedoman Transliterasi Arab-Latin.

Kata salat yang berasal dari bahasa Arab itu sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia. Sekurang-kurangnya ada dua alasan yang mendukung pernyataan itu ialah kata itu sudah dikenal secara luas dan sudah tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Sebagai kata yang sudah menjadi kosakata bahasa Indonesia, kata salat hendaklah tidak ditulis shalat atau sholat. Dalam pedoman ejaan, hanya empat satuan bunyi yang dilambangkan dengan dua huruf, yaitu <kh>, <sy>, <ng>, dan <ny>.

Jika demikian halnya, bagaimana kelaziman mengeja kata serapan dari bahasa Arab yang mengandung huruf sad ( ص )? Penulisan kata-kata serapan semacam itu sudah ditetapkan dan diberlakukan secara taat asas. Marilah kita simak beberapa contoh di bawah ini. sahabat <- sahabat ( صحابة ) saleh <- salih ( صالح ) musibah <- musibah ( مصيبة ) nasihat <- nasihat ( نصيحة ) insaf <- insaf ( إنصاف ) maksud <- maqsud ( مقصود ) kisah <- qisah ( قصة ) maksiat <- ma'siat ( معصية )

Beberapa contoh kata serapan tersebut membuktikan bahwa huruf < sad > dalam bahasa Arab menjadi <s> dalam bahasa Indonesia. Kita tidak pernah membaca tulisan mushibah, nashihat, atau inshaf. Yang biasa kita baca adalah musibah, nasihat, atau insaf. Kata maksud, kisah, dan maksiat juga tidak pernah ditulis dengan <sh>.

Kata Sapaan dalam Bahasa Indonesia[sunting]

Kata sapaan adalah kata yang digunakan untuk menegur sapa orang yang diajak berbicara (orang kedua) atau menggantikan nama orang ketiga. Berikut adalah beberapa contoh kata yang dapat digunakan sebagai kata sapaan.

  1. Nama diri, seperti Toto, Nur.
  2. Kata yang tergolong istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, paman, bibi, adik, kakak, mas, atau abang.
  3. Gelar kepangkatan, profesi atau jabatan, seperti kapten, profesor, dokter, soper, ketua, lurah, atau camat.
  4. Kata nama, seperti tuan, nyonya, nona, Tuhan, atau sayang.
  5. Kata nama pelaku, seperti penonton, peserta, pendengar, atau hadirin.
  6. Kata ganti persona kedua Anda.

Penggunaan kata sapaan itu sangat terikat pada adat-istiadat setempat, adat kesantunan, serta situasi dan kondisi percakapan. Itulah sebabnya, kaidah kebahasan sering terkalahkan oleh adat kebiasaan yang berlaku di daerah tempat bahasa Indonesia tumbuh dan berkembang. Namun, yang perlu diingat dalam hal ini adalah cara penulisan kata kekerabatan yang digunakan sebagai kata sapaan, yakni ditulis dengan huruf awal huruf kapital. Contoh:

  1. Adik sudah kelas berapa?
  2. Selamat pagi pro(fesor).
  3. Hari ini kapten bertugas di mana?
  4. Setelah sampai di Yogyakarta, Tuan akan menginap di mana?

Perluasan Makna[sunting]

Perubahan maujud yang ditunjuk oleh lambang bunyi bahasa (kata) tertentu tidak selalu harus diikuti oleh penciptaan kata baru. Bahkan, perubahan yang sangat radikal sekalipun sering tidak diikuti oleh perubahan nama, seperti yang terjadi pada kata kereta api dan saudara. Hal itu terjadi karena pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kata kereta api semula digunakan untuk mengacu pada 'benda yang berfungsi sebagai sarana transportasi yang berupa kendaraan (kereta) beroda besi dan dijalankan di atas rel besi dengan tenaga penggerak yang berasal dari api kayu bakar atau batu bara. Namun, di dalam pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bahan bakar pembangkit tenaga yang digunakan diganti dengan solar dan mesin penggeraknya adalah mesin diesel. Bahkan, ada yang digerakkan/dijalankan dengan tenaga listrik. Meskipun mesin penggerak dan tenaga pembangkitnya sudah diganti, penyebutan benda itu tetap saja kereta api, bukan "kereta solar". Namun, sesuai dengan bahan pembangkit tenaganya alih-alih orang menyebutnya dengan menambahkan kata keterangan diesel atau listrik sehingga menjadi kereta api diesel dan kereta api listrik, yang alih-alih disebut kereta listrik.

Kata-kata lain yang mengacu pada benda yang mengalami perubahan struktur maujud seperti kereta api ialah kata berlayar. Kata lain yang memiliki perkembangan makna ialah bapak, ibu, adik, dan saudara.

Kata berlayar mengandung makna 'bepergian dengan menggunakan perahu layar'. Dalam perkembangannya, kata itu mengalami perkembangan makna, yaitu bepergian melalui lintas laut atau lintas sungai dengan menggunakan sarana angkutan lau atau sarana angkutan sungai baik yang masih menggunakan layar maupun yang sudah tidak menggunakan layar.

Kata bapak, ibu, adik, abang, dan saudara semula hanya digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pertalian darah. Akan tetapi, sesuai dengan perkembangan dan pertumbuhan budaya masyarakat, kata-kata itu mengalami perluasan makna. Kata-kata tersebut tidak hanya digunakan untuk menyebutkan orang-orang yang masih mempunyai hubungan kekerabatan sedarah, tetapi juga digunakan untuk menyapa bukan kerabat sebagai tanda hormat atau kedekatan orang yang disapa.

Kata yang biasa digunakan untuk menyebutkan atau menyapa dengan rasa hormat dan rasa kedekatan hubungan persahabatan, antara lain, ialah bang atau bung, seperti Bang Ali, sebagai panggilan/sapaan akrab kepada mantan Gubernur DKI, Bapak Ali Sadikin, dan Bung Tomo, sebagai panggilan/sapaan akrab kepada dokter Soetomo, atau Bung Karno, sebagai panggilan/sapaan akrab kepada Ir. Soekarno, seorang tokoh pejuan dan proklamator kemerdekaan Republik Indonesia.

Mereka-Mereka dan Nenek-Nenek[sunting]

Dalam suatu kesempatan seorang ketua panitia mengajak para undangan yang hadir dengan mengatakan sebagai berikut.

  1. Bapak dan Ibu yang saya hormati, siapa lagi yang mau memikirkan nasib mereka kalau bukan kita-kita yang hadir sekarang?

Kita perhatikan pemakaian kata kita-kita. Mengapa kata kita harus diulang? Bukankah kata ganti kita sudah menyatakan pengertian jamak? Kata ganti kita adalah kata ganti orang pertama jamak. Kalau digunakan untuk menyatakan pengertian jamak dengan mengulang menjadi kita-kita, pengulangan itu jelas mubazir. Kalau kira perhatikan konteksnya, pengulangan kata ganti kita menjadi kita-kita tersebut berlebihan. Seharusnya, ketua panitia cukup mengatakan sebagai berikut.

  1. Bapak dan Ibu yang saya hormati, siapa lagi yang mau memikirkan nasib mereka kalau bukan kita yang hadir sekarang?

Pertanyaan yang muncul sekarang, "Apakah kata ganti yang sudah menyatakan pengertian jamak seperti kita atu mereka tidak boleh diulang dalam penggunaannya? "Tentu saja tidak selalu harus demikian. Dalam hal itu, pengguna bahasa perlu mempertimbangkan konteks pemakaian kata itu di dalam kalimat. Perhatikanlah contoh-contoh kalimat berikut.

  1. Akhirnya, kita-kita juga yang menyelesaikan pekerjaan ini.
  2. Dari dahulu mereka-mereka saja yang dilibatkan dalam kegiatan itu.

Kata ulang kita-kita dan mereka-mereka pada kalimat (2) dan (3) menyatakan makna 'selalu', 'selalu kita', dan 'selalu mereka'. Penggunaan kata ulang seperti itu, yang lebih sering kita temukan dalam ragam lisan, tidaklah mubazir. Namun, dalam ragam tulis kata ulang kita-kita, mereka-mereka tergolong mubazir, seperti yang terlihat pada contoh kalimat berikut.

  1. Selesai atau tidaknya pekerjaan itu bergantung pada kita-kita yang ada di sini.
  2. Bantuan itu seharusnya tidak dibagikan kepada mereka-mereka yang tergolong mampu.

Kata ulang kita-kita dan mereka-mereka pada kalimat (4) dan (5) dipakai untuk mengacu kepada orang yang jumlahnya banyak. Padahal kata kita dan mereka sudah menyatakan pengertian jamak. Oleh karena itu, penggunaan bentuk kata ulang seperti itu tidak benar.

Bagaimana halnya dengan pengulangan kata nenek menjadi nenek-nenek, seperti yang tercantum di dalam topik bahasam ini? Tampaknya pengulangan kata yang seperti itu ternyata tidak hanya menyatakan pengertian jamak. Marilah kita simat kalimat yang berikut.

  1. Tempat duduk bagi nenek-nenek yang diundang untuk menghadiri pertemuan itu diatur dalam kelompok tersendiri.
  2. Harap dimaklumi saja, dia 'kan sudah nenek-nenek.
  3. Hampir setiap hari nenek-nenek saja yang diperhatikan.

Kata ulang nenek-nenek pada kalimat (6) maknanya menyatakan jumlah banyak, sedangkan pada kalimat (7) bermakna 'seperti wanita yang sudah tidak muda lagi atau yang sudah berusia lanjut'. Kata ulang nenek-nenek pada kalimat (8) menyatakan pengertian (1) selalu nenek, (2) seperti atau mirip, dan (3) selalu.

Rekan dan Bung[sunting]

Kata rekan semakna dengan kata teman atau kawan, yang pada konteks tertentu, ketiga kata itu dapat saling bergantian, tetapi pada konteks lain, ketiganya berbeda. Perhatikan contoh berikut.

  1. Dia adalah teman/rekan/kawan sekerja saya di kantor
  2. Selamat pagi, teman/kawan/rekan(?).
  3. Selamat pagi, teman/kawan/rekan fulan

Kata teman dan kawan biasa digunakan sebagai kata penyapa, tetapi kata rekan agaknya jarang digunakan untuk itu.

Ketiga kata itu berbeda perilakunya dari kata saudara dan bung, yang merupakan istilah kekerabatan. Kata saudara dan bung dapat diikuti nama diri orang. Namun, penggunaan kata saudara yang diikuti nama diri orang masih terasa adanya jarak hubungan kekeluargaan di antara penyapa dan orang yang disapa. Berbeda halnya dengan kata bung. Dengan menggunakan kata bung sebagai kata penyapa kepada seseorang, terasa bahwa hubungan persahabatan di antara keduanya sangat dekat atau akrab. Contoh:

  1. Selamat pagi, Saudara.
  2. Selamat pagi, Sdr. Ibrahim.
  3. Selamat pagi, Bung.
  4. Selamat pagi, Bung Ibrahim.

Kata Ganti -nya sebagai Pengacu[sunting]

Dalam wacana, baik lisan maupun tulis, dapat ditemukan berbagai unsur, seperti pelaku atau penderita perbuatan, atau perbuatan yang kerjakan oleh pelaku. Unsur itu acapkali harus diulang-ulang untuk mengacu kembali ataupun untuk memperjelas makna. Unsur bahasa yang dapat digunakan untuk mengacu, antara lain, ialah -nya. Pemakaian -nya harus tepat agar hubungan unsur di dalam kesatuan wacana tampak utuh. Berikut ini adalah contoh penggunaan -nya dan ia yang tidak jelas acuannya.

  1. Anna dan kawannya kelihatan sibuk sekali. Mereka sedang bersiap akan pergi, tetapi ada sesuatu yang hilang. Anna dan kawannya pun sibuk membalik-balik tumpukan kertas di atas meja, tetapi di situ tidak ditemukan apa-apa. Karena sedih dan kesal mencari, akhirnya tangisnya pun lepas tak terbendung. Ia pun menangis sepuas-puasnya.

Acuan -nya pada tangisnya atau ia pada ia pun menangis ternyata tidak jelas. Pada kalimat sebelumnya tidak ada pernyataan mengenai siapa yang kesal. Padahal, pelaku perbuatan pada waktu itu ada dua orang, yaitu Anna dan kawannya. Pada contoh berikut ini pun ternyata acuan ia {contoh (2a)} dan -nya {contoh (2b)} tidak jelas.

  1. Edi dan ayahnya pergi ke pasar karena ia ingin membeli mata kail.
  2. Dono dan Anna pergi membeli sepatu, tetapi sayang sekali uangnya tidak cukup.

Berbeda halnya dengan contoh wacana berikut ini.

  1. Lia duduk termenung, wajahnya sayu dan matanya basah. Hatinya benar-benar sedih ketika ia mengenang kembali tingkah laku suaminya yang keterlaluan.

Pada wacana itu hanya ada Lia sebagai pelaku perbuatan. Tentu saja kata ganti -nya pada wajahnya, matanya, hatinya, dan suaminya mengacu pada wajah, mata, hati, dan suami Lia.

Kata ganti -nya ternyata tidak hanya mengacu kepada orang ketiga tunggal, tetapi dapat juga mengacu kepada oran ketiga jamak ataupun pada benda (bukan orang). Perhatikan contoh berikut.

  1. Nurlina sudah lama menikah dengan Idris. Mereka dikaruniai Tuhan dua orang anak perempuan yang cerdas dan rajin. Segala kebutuhan anaknya selalu mereka upayakan untuk mempertimbangkan kegunaannya.
  2. Saya membeli sebuah buku cerita, tetapi sayang sekali saya belum sempat membacanya.

Tampak bahwa -nya pada anaknya mengacu pada Nurlina dan Idris, yang tergolong orang ketiga jamak atau mereka. Dalam hal seperti pada contoh (4a) itu, dapat pula digunakan anak mereka. Kata ganti -nya pada membacanya berfungsi sebagai objek bagi verba membaca dan mengacu pada sebuah buku cerita, yang terdapat pada induk kalimat. Kata nomina pada sebuah buku cerita termasuk kata nomina bukan orang (insan), tetapi dapat diacu dengan -nya.

Semua contoh pemakaian -nya pada kalimat (4) mengacu pada kata benda yang terletak di sebelah kirinya, yaitu Nurlena dan Idris (pada 4a) dan sebuah buku cerita (pada 4b). Pengacuan semacam itu disebut pengacuan anaforis. Ada pula -nya yang mengacu pada kata benda yang ada di sebelah kanannya. Perhatikan contoh berikut.

  1. Dengan gayanya yang khas, semangatnya berkobar-kobar, pemimpin karismatis itu berpidato berapi-api, menggelegar mengguncang dunia.

Pemakaian -nya pada gayanya dan semangatnya mengacu pada pemimpin karismatis itu, yang terletak di sebelah kanannya (dalam wacana tulis) atau pada sesuatu yang akan dikatakan (dalam wacana lisan).

Kata dan Maknanya[sunting]

Adikara[sunting]

Kata adikara memiliki arti (1) (yang) berkuasa; (2) dengan kekuasaan (secara diktator); (3) diktator; (4) kekuasaan, kewibawaan.

Bertelingkah[sunting]

Kata bertelingkah berarti (1) tidak bersatu hati; berselisih; bercekcok; (2) tidak dapat dipersatukan.

Niskala[sunting]

Kata niskala memiliki arti (1) tidak berwujud; tidak berbenda; (2) mujarad; abstrak.

Ranah[sunting]

Kata ranah berarti (dalam linguistik) lingkungan yang memungkinkan terjadinya percakapan merupakan kombinasi antara partisipan, topik, dan tempat (keluarga, pendidikan, tempat kerja, keagamaan); domain.

Definisi dari kondusif adalah memberikan pada hasil di inginkan yang bersifat kodusif atau situsai yang mendukung pada hasil yang di inginkan.