Buku Praktis Bahasa Indonesia 1/Sastra

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Buku Praktis Bahasa Indonesia 1
Sastra
Sumber: Pusat Bahasa

Pengertian Sastra[sunting]

(1) Apakah sastra itu ? Sastra ialah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartisikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. (2) Aspek apakah yang harus ada dalam sastra? Ada tiga aspek yang harus ada dalam sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada sastra yang mengorbankan salah satu aspek ini, misalnya karena alasan komersial, maka sastra itu kurang

Pengertian Sastra[sunting]

(1) Apakah sastra itu ? Sastra ialah karya tulis yang, jika dibandingkan dengan karya tulis yang lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartisikan, serta keindahan dalam isi dan ungkapannya. (2) Aspek apakah yang harus ada dalam sastra? Ada tiga aspek yang harus ada dalam sastra, yaitu keindahan, kejujuran, dan kebenaran. Kalau ada sastra y baik. (3) Ada berapa jenis sastra? Sastra terdiri atas tiga jenis, yaitu puisi, prosa, dan drama. (4) Apakah puisi itu? Puisi ialah jenis sastra yang bentuknya dipilih dan ditata dengan cermat sehingga mampu mempertajam kesadaran orang akan suatu penelama ndan membangkitkan tanggapan khusus lewat bunyi, irama, dan makna khusus. Puisi mencakupi satuan yang lebih kecil, seperti sajak, pantun, dan balada. (5) Apakah prosa? Prosa ialah jenis sastra yang dibedakan dari puisi karean tidak terlalu terikat oleh irama, rima, atau kemerduan bunyi. Bahasa prosa dekat dengan bahasa sehari-hari. Yang termasuk prosa, antara lain cerita pendek, novel, dan esai. (6) Apakah drama itu? Drama ialah jenis sastra dalam bentuk puisi atau prosa yang bertujuan menggambarkan kehidupan lewat lakuan dan dialog (cakapan) para tokoh. Lazimnya dirancang untuk pementasan panggung. (7) Apakah sanjak itu? Istilah sanjak dihindari pemakaiannya. Sebagai gantinya digunakan istilah sajak. (8) Apakah sajak itu? Sajak ialah karya sastra yang berciri mantra, rima, tanpa rima, ataupun kombinasi keduanya. Kekhususannya, jika dibandingkan dengan bentuk sastra yang lain, terletak pada kata-katanya yang topang-menopang dan berjalinan dalam arti dan irama. (9) Apakah rima itu? Rima ialah pengulangan bunyi berselang dalam sajak, baik di dalam larik (baris, leret) maupun pada akhir larik-larik yang berdekatan. Agar terasa keindahannya, bunyi yang berima itu ditampilkan dalam tekanan, nada, atau pemanjangan suara. Jenis rima, antara lain runtun vokal atau asonansi, purwakanti atau aliterasi, dan rima sempurna. Contoh: Apa yang terjadi nanti

jika awan bergulung
singgah di punggung gunung
....
(Dodong Djiwapradja, 'Prahara")

Pada petikan di atas terletak adanya persamaan bunyi ( ) yang merupakan rima asonansi dan persamaan bungi (ung) yang merupakan rima sempurna. Berikut ini contoh aliterasi: Bukan beta bijak berperi, pandai mengubah mendalam syair, Bukan beta budak Negeri musti menurut undangna mahir ..... (Roestam Effendi, "Bukan Beta Bijak Berperi") Persamaan bunyi /b/ pada larik pertama dan ketiga sera persamaan bunyi /m/ pada larik keempat merupakan aliterasi.

Manfaat Sastra[sunting]

(10) Apakah manfaat sastra? Penyair Romawi kuno, Horatius merumuskan manfaat sastra dengan ungkapan yang padat, yaitu dulce et utile 'menyenangkan dan bermanfaat". Menyenangkan dapat dikaitkan dengan aspek hiburan yang diberikan sastra, sedangkan bermanfaat dapat dihubungkan dengan pengalaman hidup yang ditawarkan sastra. (11) Hiburan apakah yang ditawarkan sastra? Sastra, antara lain menawarkan humor seperti yng dilihat pad petikan berikut : Hujan Air hujan turunnya ke cucuran atap Kalau banjir atapnya yang turun ke air Penderitaan Berakit-rakit ke hulu Berenang-renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersakit-sakit berkepanjangan (Taufik Ismail) Siapakah pembaca yang tidak tersenyum simpul digelitik humor sajak ini? (12) Pengalaman apakah yang ditawarkan sastra? Sastra, antara lain, menawarkan pengalaman hidup yang dapat memperluas wawasan pembacanya seperti yang terlihat pada sajak berikut. TUHAN, KITA BEGITU DEKAT Tuhan, Kita begitu dekat Sebagai api dengan panas Aku panas dalam apimu Tuhan, Kita begitu dekat Seperti kain dengan kapas Aku kapas dalam kainmu Tuhan, Kita begitu dekat Seperti angin dan arahnya Kita begiu dekat Dalam gelap Kini aku nyala Pada lampu padammu (Abdul Hadi) Penyair Abdul Hadi ingin berbagi pengalaman religiusnya dengan pembacanya. Pada suatu saat ia begitu dekat dengan Tuhan. Pada saat yang lain ia merasa tidak berarti di hadapan Tuhan, seperti nyala lampu ketika padam, musnah, hilang, ke dalam Yang Mahagaib.

lorban adalah sifat manusia yang sangat membedakannya daripada heawn." (Hujan Kepagian) Amir Hamzah: "Tuhanku, suka dan ria Gelak dan senyum Tepuk dan tari Semuanya lenyap, silam sekali. Gelak bertukarkan duka Suka bersalinkan ratap Kasih beralih cinta Cinta membawa wasangka .... Jungjunganku, apatah kekal Apatah tetap Apalah tak bersalin rupa Apakah baka sepanjang masa .... Bunga layu disinari matahari Makhluk berangkat menepati janji Hijau langit bertukar mendung Gelombang reda di tepi pantai. (Buah Rindu) Chairil Anwar: Gerimis mempercepat kelam/ ada juga kelepak elang Menyinggung muram, desir lari berenag Menemu bujuk pangakl akanan. Tidak bergerak dan kini, tanah air tidur, hilang ombak. Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan Menyisir semenanjung, masih pengap harap Sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan ("Senja di Pelabuhan Kecil")

Apresiasi[sunting]

Apresiasi dapat diartikan usaha pengenalan suatu nilai terhadap nilai yang lebih tinggi. Apresiasi itu merupakan tanggapan seseorang yang sudah matang an sedang berkembang ke arah penghayatan nilai yang lebih tinggi sehingga ia mampu melihat dan mengenal nilai dengan tepat dan menanggapinya dengan hangat dan simpatik. Seseorang yang telah memiliki apresiasi tidak sekedar yakin bahwa sesuatu yang dikehendaki menurut perhitungan akalnya, tetapi menghasratkan sesuatu itu-itu benar-benar berdasarkan jawaban sikap yang penuh kegairahan untuk memilikinya. Apresiasi Sastra Bertolak dari pengertian apresiasi seperti dikemukakan di atas, apresiasi sastra dpatdiartikan sebagai pengenalan dan pemahaman yang tepat terhadap nilai sastra yang dapat menimbulkan kegairahan terhadap sastra itu, serta menciptakan kenikmatan yang timbul sebagai akibat semua itu. Dalam mengapresiasi sastra, seseorang akan mengalami sebagian kehidupan yang dialami pengarangnya, yang tertuang dalam karya ciptanya. Hal ini dapat terjadi karena adanya day empati yang memungkinkan pembaca terbawa ke dalam suasana dan gerak hati dalam karya itu. Kemampuan menghayati pengalaman pengarang yang dituliskan dalam karyanya dapat menimbulkan rasa nikmat pada pembaca. Kenikmatan itu timbul karena pembaca (1) merasa mampu memahami pengalaman orang lain; (2) merasa pengalamannya bertambah sehingga dapat menghadapai kehidupan dengan yang lebih baik; (3) merasa kagum akan kemampuan sastrawan dalam memberikan, memadukan, dan memperjelas makna terhadap pengalaman yang diolahnya; dan (4) mampu menemukan nilai-nilai estetik dalam karya itu.

Bahasa dan Susastra[sunting]

Dalam dunia susastra, kosakata yang digunakan acapkali tidak dapat dibedakan dari kosakata bahasa sehari-hari. Bahkan, banyak sastrawan yang memanfaatkan kosakata sehari-hari dalam karya ciptanya, tetapi dengan memberinya makna yang lebih luas. Dalam susastra, bahasa tidak hanya digunakan untuk mengungkapkan, baik pengalaman sastrawan itu sendiri maupun pengalaman orang lain, tetapi juga dipakai untuk menyatakan hasil rekamannya. Kata-kata atau idiom seperti yang biasa kita jumpai dalam bahas di luar susastar, ternyata mampu memberikan kenikamatan dan keharuan, di samping adanya makna ganda. Artinya, selain ada makna yang tersurat juga terkandung makna yang tersirat. Makna yang tersirat itu sering berfungsi sebagai pesan utama pengarang. Hal itu dimungkinkan oleh keterampilan pengarang daam memilih kata yang tepat dan serasi, menyusun kalimat, serta menentukan gaya bahas sehingga karangannya benar-benar 'hidup' dan menarik. Dalam puisi, misalnya, kata gerimis dan kata batu dapat menghindarkan makan yang diperluas. Gerimis sering dipakai untuk melukiskan suasana sedih atau murung dan kata batu sering digunakan untuk melukiskan hilangnya komunikasi dalam suatu situasi atau untuk menggambarkan teka-teki kehidupan.

Teknik Meresensi Fiksi[sunting]

Di dalam penilaian cerita fiksi ada lima pokok yang harus diperhatikan. Pertanyaan berikut apat dijadikan bimbingan resensi cerita fiksi. (1) Tema a. Apakah tema cerita itu? b. Dapatkah tema itu diterima sebagai kebenaran umum? (2) Sudut Pandang a. Dari sudut manakah cerita itu disampaikan? b. Taat asaskah penerapan sudut pandang itu dalam keseluruhan cerita? (3) Tokoh a. Apakah penokohannya disajikan secara langsung? b. Apakah pengarang membuatkan rangkuman tentang sifat tokoh dan menceritakan kepada pembaca serta bagaimana pemikiran tokoh itu? c. Berapa banyak penokohan itu dilakukan secara langsung melalui dialog para tokoh, tindakan tokoh, dan reaksi lain terhadap mereka? d. Apakah tokoh itu bermain secara wajar? e. Apakah yang dikehendaki tokoh itu dan apa sebabnya? f. Bagaimana hubungan an cara menghubungkan para tokoh dengan tema cerita? (4) Alur a. Insiden apa yang dipakai untuk melayani tema cerita? Wajarkah hubungan itu? b. Mengapa insiden itu lebih menonjol daripada insiden lain? c. Wajar dan hidupkah cara mengungkapkan insiden itu? (5) Bahasa a. Gaya bahasa apa yang digunakan? b. Wajar, tepa, dan hidupkah bahasanya?

Penghayatan Karya Sastra[sunting]

Penulsi kreatif bidang sastra seperti fiksi, drama, puisi, biografi, dan esai populer, memiliki sejumlah pengalaman yan hendak disampaikan kepad para pembaca. Sang sastrawan atau pengarang itu ingin agar pembaca dapat merasakan apa yang telah dirasakannya. Ia ingin agar pembaca dapat memahami dan menghayati kekuatan fakta dan visi kebenaran seperti yang telah dilihat dan dirasakannya. Ia mengundang pembaca memasuki pengalaman nyata dan dunia imajinatifnya, yang diperoleh melalui pengalaman inderanya yang paling dalam. Pengalaman batin seorang pengarang itu dapat dikatakan suatu karya sastra jika di dalamnya tercermin keserasian antara keindahan bentuk dan isi. Dalam karya itu terungkap norma estetik, norma sastra, dan norma moral. Upaya apa yang harus kita lakukan dalam memahami karya sastra itu? Membaca karya sastra berarti berusaha menyelami "diri" pengarangnya. Hal itu tentu bergantung pada kemampuan kita mengartikan makna kalimat serta ungkapan dalam karya sastra itu. Kita harus berupaya menempatkan diri kita sebagai sastrawan yang menciptakan karya sastra itu. Jadi, dituntut adanya hubungan timbal-balik antara kita sebagai penikamt dan penciptanya. Sehubungan dengan konsep itu, kita bertindak seolah-olah menjadi pribadi sastrawan. Dengan cara itulah, kita dapat dengan mudah membayangkan kembali situasi yang melatarbelakangi penciptaan serta mudah merasakan, menghayati, dan mencerna kata demi kata bahasa karya sastra itu. Penghayatan karya sastra merupakan usaha menghidupkan dalam jiwa kita suatu pengalaman, sebagaimana sastrawan menghidupkan pengalaman itu melalui karyanya.

Sosiodrama[sunting]

Apabila kita mendengar istilah sosiodrama, seringkali pikiran kita tertuju pada hiburan kesenian. Sebenarnya, sosiodrama adalah salah satu bentuk kegiatan yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengajaran dengan cara mempergakan masalah dalam situasi tertentu dengan gerak dan dialog. Agar kita dapat memanfaatkan sosiodrama, di bawah ini disajikan beberapa tahap yang perlu diperhatikan. Penahapan Tahap-tahap yang dapat dilakukan dalam pengajaran adalah: (1) Penyampaian situasi dan masalah (2) Pemeragaan situasi dan masalah, dan (3) Pembahasan situasi dan masalah Manfaat dalam Pendidikan Manfaat sosiodrama dalam pendidikan, antara lain sebagai berikut: (1) siswa menyadari keterlibatannya dalam persoalan hidup; (2) siswa mendapat kesempatan dalam 'pembentukan watak' (character building); (3) siswa menyaari nilai-nilai kehidupan yang perlu bagi dirinya; (4) siswa mampu menghargai pendirian orang lain atau kelompok lain; (5) siswa terlatih menggunakan bahasa secara baik dan benar; (6) siswa terlatih berfikir cepat, baik, dan bernalar; (7) siswa terlatih mengemukakan pendapat di hadapan khalayak.

Penilaian Karangan[sunting]

Hal apa sajakah yang perlu dinilai dalam sebuah karangan? Berikut ini contoh lembar penilaian naskah karangan yang memuat unsur-unsur penilaian. LEMBAR PENILAIAN SAYEMBARA MENGARANG Judul Karangan : Nomor Kode :

No. Segi yang Dinilai Nilai
1. Isi Karangan

a. gagasan b. keaslian gagasan c. pengoperasian gagasan d. dukungan data||

2. Bahasa Penyajian

a. ketetapan susunan kalimat b. ketepatan pilihan kata c. kesatuan dan kelancaran peralihan paragraf d. kesesuaian gaya dengan tujuan penulisan e. kebenaran penerapan ejaan||

3. Teknik Penulisan

a. keteraturan urutan gagasan b. kerapian rupa karangan c. kaitan judul dengan isi||

.................... Penilai

Apakah Tema itu?[sunting]

Setiap cerita (fiksi) yang baik tidak hanya berisi perkembangan suatu peristiwa atau kejadian, tetapi juga menyiratkan pokok pikiran yang akan dikemukakan pengarang kepada pembaca. Itulah yang menjadi dasar, gagasan, atau tema cerita. Cerita yang tidak mempunyai tema tentu tidak ada manfaatnya bagi khalayak pembaca. Sebagai pokok persoalan, tema merupakan sesuatu yang netral. Dalam tema, boleh dikatakanbelum terlihat kecenderungan pengarang untuk memihak. Oleh karena itu, masalah apa saja dapat dijadikan tema dalam cerita atau karya susastra. Tema dapat menyangkut idaman remaj, kerukunan antarumat beragama, kesetiaan, ketakwaan, korupsi, pemanfaatan iaru, atau bahkan kengerian yang dutimbulkan perang. Cerita dapat menjadi lebih menarik apabila pokok perbincangan itu baru, hangat, atau bercorak lain daripada yang lain. Sebagai contoh, "penyandang cacat bawaan tidak selamanya menjadi beban masyarakat " dan "kejujuran yang membawa malapetaka". Dalam penggarapan tema cerita, akan segera tampak siapa pengarangnya, keluasan pengetahuannya, kepribadian, atau latar belakang lingkungan dan pendidikannya. Tema yang bersahaja dapat menjadi cerita yang bermutu apabila diolah demikian rupa oleh pengarang yang baik. Sebaliknya, tema yang baik bukan jaminan dapat melahirkan cerita yang bermutu jika pengolahannya tidak didukung oleh kemampuan dan daya kreativitas pengarang.

Folklor[sunting]

Apakah folklor? Benarkah pendapat orang yang menyatakan bahwa folklor itu sesuatu yang kuno dan, karena itu, sepatutnya dumuseumkan? Folklor terambil dari isilah folklore paduan dari bentuk asal folk dan lore. Folk dapat diartikan 'rakyat', bangsa, atau 'kelompok orang yang memiliki ciri pengenal fisik, sosial dan kebudayaan'. Tegasnya, penanda ini dapat berupa kesamaan bahasa, mata pencaharian, kepercayan, warna kulit, dan bentuk rambut. Ciri yang penting dan terutama adlah bawwa mereka mempunyai tradisi yang dirasakan sebagai milik bersama. Kesadaran bersama akan identita sendiri juga termasuk ciri khas kelompok masyarakat itu. Lore adalah adat dan khazanah pengetahuan yang diwariskan turun-temurun lewat tutur kata, melualui contoh, atau perbuatan. Dengan kata lain, secara umum folklor dapat diberi makana 'bagian kebudayaan yang tersebar dan diadakan turun-temurun dengan cara lisan atau dalam bentuk perbuatan'. Dalam karya sastra, tradisi lisan itu antara lain berupa peribahasa, teka-teki, dan cerita rakyat (mitos, legenda, dan dongeng). Buah pikiran yang baik suatu masyarakat pendahulu perlu diselamatkan dan dilestarikan serta dikaji dengan sungg-sungguh. Siapa pun dapat menyadari bahwa masyarakat dan budaya masa kini merupakan penerus masyarakat dan budaya masa silam. Folklor, dan sastra pada umumnya, merupakan mara rantai yang tidak dapat diabaikan jika kita ingin menelusuri perkembangan suatu bangsa.

Tuntunan Menikmati dan Menilai Puisi[sunting]

Apa yang perlu kita lakukan dalam memahami dan menikamti puisi? Jawaban atas pertanyaan berikut dapat dijadikan salah satu pilihan tuntunan. (1) Apa makna atau tema pada puisi itu? (2) Bagaimana kesan yang dikandungnya? (3) Bagaimana nadanya? (4) Apakah maksud atau tujuannya? (5) Bagaimana keselarasan antara keempat unsur itu? (6) Bagaimana diksinya? (7) Sesuaikah penggunana kata nyata (the concrete word)nya? (8) Tepatkah penggunaan majasnya? (9) Bagaimana ritme dan rimanya? (10) Bagaimana hubungan antara hakikat dan metode pendekatan puisi itu? Jika jawaban atas pertanyaan di atas sudah diperoleh, dapat diakatakan prinsip kritik sastra di bawah ini sudah terpenuhi. (1) Apa yang hendak dicapai atau dilakukan sang seniman? (2) Baik atau pantaskah sang seniman melakukan hal itu? Sebelum sampai pada taraf penikmatan dan penilaian yang dikemukakan di atas, perlu diupayakan langkah awal berikut. (1) Perlu diupayakan membaca puisi itu dengan suara serta irama yang tepat sehingga isinya dapat dipahami secara jelas. (2) Perlu diusahakan memahamai dan mencari makna serta bentuk kalimat, yang sama sekali lain dari pemakaian biasa, dalam puisi itu. (3) Perlu diusahakan mengenal dan mengetahui nana orang dan tempat yang terdapat dalam puisi itu. (4) Perlu diperhatikan dan dipahami satu pers tau majas, kiasan, dan konotasi setiapa kata dalam puisi. (5) Perlu diusahakan, jika mungkin, mengetahui saat puiisi itu diciptakan dan angkatan (penzamanan) penyairnya. (6) Perlu diusahakan, jika mungkin, mengetahui biografi dan falsafah hidup penyair yang melatarbelakangi puisinya. (7) Perlu dilakukan penceritaan kembali puisi itu dengan kata-kata sendiri.

Teknik Penokohan Cerita Rekaan[sunting]

Keberhasilan pengarang menyajikan cerita rekaan atau fiksinya tercermin melalui pengungka[an setiap unsur cerita itu. Salah satu diantaranya adalah ketepatan pelukisan tokoh cerita. Rupa, pribadi, dan watak sang tokoh harus tergambar demikian rupa sehingga berterima oleh khalayak ramai. Dengan cara bagaimanakah pengarang melukiskan tokoh itu? Tentu bergabung pada imajinasi atau fantasi pengarang sebagaimana terlihat berikut ini. (1) Pengarang melukiskan secara langsung bentuk lahir tokoh, misalnya raut muka, kepala, rambut, dan ukuran tubuh. (2) Pengarang melukiskan jalan pikiran tokoh atau apa yang terlintas dalam pikirannya, misalnya keinginannya menjadi hakim atau rohaniwan terkemuka. (3) Pengarang melukiskan reaksi tokoh terhadap suaut kejadian, misalnya ketulusan hati tokoh menyisihkan sepersepuluh gajinya untuk korban bencana alam yang terjadi di suatu daerah. (4) Pengarang melukiskan keadaan sekitar tokoh, misalnya keadaan kamar dan pekarangan rumah tokoh. (5) Pengarang melukiskan pandangan seorang tokoh terhdapa tokoh lain, misalnya tokoh yang dilukiskannya berwatak keras, sabar, atau suka menolong orang yang ditimpa kesusahan. (6) Pengarang melukiskan atau menciptakan percakapan (dialog) antartokoh (bawahan) tentang keadaan, watak, atau pribadi tokoh lain, misalnya tokoh utama.

Sebuah Teka-teki Saja[sunting]

Bagi pembaca, sebuah sajak kadangkala dapat menjadi sebuah teka-teki yang menggemaskan. Menggemaskan karean makna utuh atau pesan sajak itu kadang-kadang dapat "ditebak", tetapi seringkali tidak. Kalau kita dapat menebak makna sejak itu, kita merasa puas dan sekaligus merasa senang. Sebaliknya, kalau belum dapat menangkap pesan itu, kita merasa penasaran. Ada dua kategori orang yang merasa penasaran. Kategori pertama adlah orang yang berpotensi maju, yaitu orang yang dapat memanfaatkan rasa penasarannya sebagai dorongan menaklukkan setiap tantangan. Kategri yang keuda adalah orang yang "melempem", yang tidak tahudan tidak mau tahu terhadap rasa penasarannya. Dalam hubungan itu, perhatikanlah, misalnya, sajak Eka Budianta yang berjudul "Stasi Kelima" berikut ini. Di sini anak-anak bangsa diuji Mau jadi pedagang, tukang pukul atau pegawai asuransi Di sini anak-anak rakyat jelata ditempa Untuk menantang nasib, menggarap hidupnya Jakarta Bersama ribuan sopir, pengecer tekstil Pedagang buah, pencatut karcis dan makelar mobil Kuberi Chris perasaan sukses Seperti seorang direktur pemasaran Insinyur pertanian dan opsir-opsir di lapangan Kubuat ia tersenyum di pasar, di pentas lumba-lumba Di kerumunan Lenong dan Topeng Beteawi Bersama para badut yang bersuara lembek Yang mengemis perhatian ekstra Sebagai bekas jongos dan babu Lalu bicara tentang masa depan bangsa Memadukan harapan dan mimpi sederhana Dengan jiwa merantau Minangkabau, Keberanian Bugis, kelugasan Batak, Kearifan Jawa, Keluwesan Bali, Ketegaran Aceh dan keanggunan Manado Maka jadilah Chris, jadilah Jakarta Jadilah Chris Jakarta Salah satu ciri sajak adalah bahwa sajak memiliki makan ganda (multiinterplate). Oleh karean itu, penafsiran Anda sah apabila setelah membca interpretasi ini, Anda masih penasaran dan ingin menggali sendiri makna yang lain. Interpretasi macam apa pun sah apabila didukung oleh alasan atau penalaran yang kuat. Berikut ini salah satu contoh interpretasi sajak di atas. Sajak Christoper Eka Budianta itu melukiskan tokh Aku (Tuhan) Yang Mahamurah (Kuberi Chris perasaan sukses) dan Mahakuasa (Kubuat ia tersenyum...) yang berkisah tentang perjuangan seorang urba (tokoh Chris) menghadapai kehiudpan Jakarta yang amat keras. Bagi urban, rakyat jelata yang pap, seperti Chris, supir, pedagang buah, dan pencatut, Jakarta yang keras lebih banyak mendatangkan tekanan batin daripada kesenangan. Untunglah, Tuhan selalu dekat dan kasih dengan orang papa. Tuhan menghibur orang papa dengan memberi harapan dan mimpi. Artinya, Tuhan hany memberi "perasaan" sukses, bukan "sukses" itu sendiri. Mimpi si Papa itu memang luar biasa, ia bermimpi bagai seorang eksekutif (direktur pemasara) yang sukses dan manajer operasional (insiyur pertanian atau opsir) yang jagoan. Lebih hebat lagi, si Papa itu bermimpi mampu mengatur dan menentukan masa depan bangsa; meampu memadukan puncak-puncak nilai atau watak kelompok etnik, seperti kearifan Jaw dan keberanian Bugis. Akhir kisah, jadilah Chris, si Papa itu, Chris Jakarta, Chris pemimpi, si Papa pemimpi. Sajak Budianta dia atas adlah sebuah ironi. Sajak ini menyapaikan pesan dengan cara kebalikan, dwngan sindiran kelabu. Dalam realitas, kaum papa ini memang pemimpi berat. Caoba saj kita amati, orang yang rajin ber-SDSB adalah orang-orang dari lapisan bawah. Orang-orang ini pada umumnya memiliki waktu luang, tetapi mereka tidak cukup memiliki kreativitas dan keterampilan untuk memanfaatkan waktu luang. Tentu cara yang paling ampang untuk memanfaatkan waktu luang itu adalah bermimpi menjadi jutawn lewat SDSB. Pesan yang ditawarkan sajak itu jelas, yaitu janganlah menjadi seorang pemimpi. Hadapilah kehidupan kota Jakarta yang keras ini dengan sikap yang lebih pragmatis, seperti sikap pedagang. Syuku-syukur kalau sikap pragmatis ini masih dapat dihiasi denga bunga idealisme. Pesan inilah salah satu jawaban atas teka-teki sajak "Stasi Kelima" karya Eka Budianta itu. "Stasi Kelima", yang artinya penghentian kelima, adalah ajakan kepada kita untuk berhenti sejenak dalam perjalanan hidup untuk merenung, menilai, dan mencari makna kehidupan secara mendalam. Renungan atau refleksi ini dapat membebaskan kita dair kehidupan yang rutin dan dangkal.

Majas sama dengan Gaya Bahasa?[sunting]

Untuk mengespreksikan pengalaman dan menghidupkan karangan, kita dapat menggunana majas. Majas itu, secara kaprah, sering disebut gaya bahasa. Majas bukan gaya bahasa, melainkan bagian gaya bahasa. Anton M. Moeliono dalam siaran Pembinaan Bahasa Indonesia melalui TVRI mengatakan bahwa istilah gaya bahasa yang secara salah kaprah itu berasala dari penerjemahan yang keliru dari kata Belanda stylfiguur. Di dalam kata stylfiguur terdapat bentuk styl yang memang berarti gaya bahasa, tetapi figuur lalu terlupakan diterjemahkan. Oleh karena itu, stylfiguur atau figure of speech ini sekarang kita namakan majas dan figurative language kitasebut bahasa majasi atau bahasa yang bermajas. Majas ialah bahasa yang maknanya melampaui batas yang lazim. Hal itu disebabkan oleh pemakaian kata yang khas atau karena pemakaian bahaas yang menyimpan dari kelaziman ataupun kareana rumusannya yang jelas. Oleh karena itu, majas erat kaitannya dengan diksi. Selanjutnya, diksi atau pilihan kata yang tepat akan memperkuat gaya bahasa. Jadi, majas juga merupakan alat untuk meunjang gaya. Semakin jelas bahwa majas seperti simile, metafor, personifikasi bukan gaya bahasa, melainkan salah satu unsur gaya bahasa. Penggunaan macam ragam majas yang kita kenal dapat kita temukan di dalam bahasa susastra, tetapi yang akan dicontohkan berikut diambil dari tulisan dalam bahasa umum. Sering kali kita menemukan iklan di media massa yang bunyinya "Dengan kendaraan seperti ini, tantangan setangguh apapun mudah terlewati. Sistem power steering, menjadikan kendaraan perkasa ringan..." (iklan di atas pengungkapannya menggunakan hiperbol, yaitu penyataan yang berlebih-lebihan). Ungkapan "sebuah panggung kemelaratan" (Tempo No.34, 1992) menggunakan majas. Metafor menyatkan hal yang satu sama dengan hal lain yang sesunguhnya tidak sama. Pada ungkapan "Para buruh bekerja seperti kuda" (Suara Pembaruan, 13 Mei 1992) kita akan menemukan majas simile, yaitu menyamakan hal yang satu dengan yang lain menggunakan pembanding seperti : Dua pernyataan berikut mengandung majas personifikasi, yaitu mempersamakan benda dengan sifat manusia. "Solo lagi bersolek menghadapi penilaian Adipura" (Suara Pembaruan, 13 Mei 1992) dan "Bila berahi berkecamuk" (Tempo, No.34, 1992).

Cerita Bidadari dalam Sastra Nusantara[sunting]

Cerita rakyat yang terdapat di Indonesia banyak mengandung tema yang terkenal dan tersebar luas. Diantara tema cerita itu, terdapat tema bidadari mandi yang kehilangan baju layang-layang yang sering dikenal dengan sebutan "Cerita mengenai Tujuh Bidaari". Berdasarkan pengamatan para pakar, tema tersebut merupakan cerita yang paling luas tersebar dan sekaligus yang paling indah yang pernah dihasilkan oleh alam pikiran manusia. Benarkah demikian? Sampai berapa luas tema cerit aitu tersebar di Indonesia. Di mana saja sebenarnya cerita Tujuh bidadari atau yang sering dikenal sebagai "Jaka Tarub" berada? Karean tergoda oleh pertanyaan-pertanyaan itu, telah dicoba mencari daerah tempat cerita itu berada. Setelah ditelusuri sumber yang ada, telah diperoleh sejumlah cerita bidadari, tentu dengan judul yang berbeda. Di Jawa Tengah cerita tersebut dikenal dengan nama "Jaka Tarub dab Dewi Nawangwulan", di Jawa Barat dikenal dengan nama "Sumur Tujuh", di Madura "Aryo Menak Kawin dengan Bidadari", di Bali "Tiga Piatu", di Kalimantan Selatan "Telaga Bidadari", di Sulawesi Tenggara dikenal dengan nama "Oheo", di Toraja "Polo Padang", di Sangir Talaud, "Manusia Pertama di Kepulauan Talaud" dan di Irian Jaya dikenal dengan nama "Meraksamana dna Saraimana". Semua naskah yan ada memang belum dibaca, tetapi dari beberapa makalah dapat diketahui baha tema tersebut terdapat pula di Aceh, Ternate, Batak, dan Minangkabau. Diyakini bahwa nama daerah lain dapat ditambahkan dalam daftar ini. Hal itu tentulah akan menambah data yang makin banyak mengenai penyebaran tema itu di seluruh Indonesia.

Pantun: Satu Bentuk Sastra Lisan di Nusantara[sunting]

Pantun, salah satu bentuk sastra lisan, secara luas dikenal di tanah air kita ini. Hal itu terjadi karena ternayta pantun terdapat di banyak daerah di Indonesia, tentu dengan nama yang berbeda-beda. Seperti bentuk sastra lainnya, isi pantun mencakup pelbagai masalah dalam kehidupan. Misalnya, nasihat, berkasih-kasihan, jenaka, sindiran, agama, dan segala jenis pengalaman manusia. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa sastra dapat memperluad dan memperdalam pengalaman kita. Di Aceh misalnya, pantun menduduki tempat penting dalam upacara ataupun pertemuan tradisional. Masyarakat Batak menyebut bentuk itu dengan "umpasa". Misalnya, "Umpasa Ni Simalungun" yang artinya "Pantun Simalungun" yang merupakan semacam rangakaian pantun. Di dalam rangkaian ini kita menemukan berbagai nasihat dan sikap orang Simalungun terhadap pelbagai masalah yang dihadapi manusia sehari-hari. Rupanya orang Simalungun mempergunakan pantun dalam pelbagai upacara adat. Di Minangkabau, pantun merupakan satu-satunya bentuk sastra lisan yang dikuasai oleh semua anggota masyarkat-khususnya masyarakat lamapu. Pantaun telah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat. Pada zaman lampau itu, dapat disebutkan bahwa seorang Minang itu belumlah dapat dikatakan orang Minang jika tidak pandai brpantun dan di Tanah Sunda; bentuk itu dikenal dengan nama 'paparikan". Di Jawa Tengah disebut "parikan". Masyarakt Banjar pun mengenal bentuk itu. Bahkan pantun di Banjar merupakan bentuk sastra yang penting. Mansayarakat Toraja menyebut pantun dengan "londe". Londe ini merupakan puisi asli masyarkat Toraja. Demikian pula dengan masyarakat Maluku, mereka sangat akrab dengan jenis pantun. Penyebaran pantun sampai jauh ke bagian timur Indonesia menunjukkan bahwa jenis ini ternayata sanagt disukai masyarkat Indonesia sejak dulu. Berikut ini dikutipkan dua buah pantun pendek yang berasal dari Melayu yang memiliki nilai kehidupan. Gendang gendut Tali kecapi Kenyang perut Senanglah hati Kemumu di dalam semak Jatuh mealayang selaranya Meski ilmu setinggi tegak Tidak sembahyang apa gunanya Pantun-pantun tersebut mungkin diciptakan secara lisan puluhan tahun atau ratusan tahun yang lalu, diwariskan turun-temurun dan kini menjadi harta milik kita.

Bahasa Sastra dalam Kehidupan Sehari-hari[sunting]

Sampai sekarang masih sering diperdebatkan orang, perbedaaan antar bahsa satra dan bahasa sehari-hari. Lepas dari perbedaan itu, kenyataan menunjukkan bahwa para sastrawan yang berhasil jauh lebih intensif dalam mempergunakan dan "bermain-manin" dengan bahasa. Bahas dieksploitasi dan dipermainkan sedemikian rupa sehinga menarik dan mampu mengungkapkan pengalaman tertentu yang ingin dituangkan sastrawan dalam karyanay. Dalam karya-karya mereak (penyair, novelis, cerpenis, dan penulis naskah drama), kitaakan mendapatkan apa yang ad dalam ilmu sastra, khususnya stilistika, disebut sebagai metafora, personifikasi, hiperbol, ironi, paradoks dan sejenisnya. Dalam novel dan cerpen-cerpen Putu Wijaya, misalnya personifikasi, paralelisme dan hiperbol dimanfaatkan cukup intensif sehingga kita, ketiak membaca novel dan cerpen-cerpen Putu, menjadi terpikat. Apa yang dilakukan oleh parasastrawan dalam karya-karyanya iru secara tidak sadara atau tidak sadar juga kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Iklan-iklan di media massa adalah contoh yang paling jelas menunjukkan bagaimana masyarakat nonsastra turut serta "bermain-main" dengan bahasa, "bersastra-sastra". Dalam pergaulan muda mudi pun acapkali kita menemukan ungkapan "aku suka rambut kamu" atau "rambut kamu indah" untk menyatakan ungkaparan "aku suka kamu" atau "kamu manis". Disini kita temukan majas pars pro toto (menyebut sebagian dari benda/orang untuk menyatakan benda/orang itu keseluruhan) yang merupakan bagian dari majas sinekdoke/sunecdoche. Selain itu, ungkapan "wajahnya manis" ataupun "pandangan matanya sejuk" merupakan majas metafora. Bahkan ungkpan ironis pun sering kita denganr, misalnya "Kam uini kok pintar sekali dan sepkerjaan seperti ini saja tidak bisa kmu selesaikan", untuk menyatakan "kamu ini bebal". Sering kali kita temukan iklan-iklan yang mencoba-coba "bermain-main" dengan bahasa, tetepi hasilnya "konyol" dan terasa verbal. Iklan-iklan itu termasuk yang gagal "bermain-main dengan bahas". Untuk bisa "bermain-main" dengan bahasam kita barangkali perlu belajar dari para sastraawn dengan membaca karya-karya mereka, berusaha menikmati dan memahami majas dan gaya yang mereka pergunakan karena penggunaan majas dan gaya yang tepat akan sangat membantu dalam mengeksplorasikan secara tepat apa yang ingin kita ungkapkan.

Puisi Konkret[sunting]

Puisi konkret adalah salah satu jenis puisi kontemporer (puisi mutakhir, puisi absourd). Puisi seperti ini tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sebagai media. Di dalam puisi konkret pada umumnya terdapat lambang-lambang yang diwujudkan dengan benda dan/atau gambar-gambar sebagai ungkapan ekspresi penyairnya. Kapan munculnya puisi konkret Puisi konkret muncul pada dekade 70-an. Penyair yan pertam kali menciptakan puisi konket adalah Sutardji Calzoum Bachri. Munculnya puisis jenis ini dilatarbelakangi oleh adanya kejenuhan penyair di dalam menciptakan puisi konvensional. Sementar ada pendapat bahwa munculnya puisi konkret ini juga dipengaruhi oleh adany apersahabatan yang erta antara para penyeir dan para pelukis. Hal tersebut dapat dilihat dari lahirnya puisi konkret yng berjudul Luka, karya Sutardji yang dihasilkan kareana adanya pengaruh yang kuat dari seni lukis. Bagaimana memeahami puisi konkret? Sebenarnya tidak ada cara-cara atau metode yang tepat dalam memeahami sebuah puisi (termasuk puisi konkret). Pemahaman sebuah puisi konkret sepenuhnya diserahkan kepad penikmatnya karena puisi ini tidak semata-mata bergantung pada unsur-unsur bahasa. Ada banyak unsur sebagai penunjang. Sebagaimana dalam puisi Luka, Sutardji menekspresikan gagasan ke dalam sebuah papan empat persegi panjang yang di tengahnya dipasang segumpaal daging segar dengan darah yang masih mengucur. Di bawah benda itu tertulis kata luka,... ha,.. ha. Jik akita melihat bentuk puisi seperti ini, imaji akita akan terbawa ke dalamsuasana yang tegang, penuh kejutan dan kengerian. Kata luka yang terdapat dalam puisi itu akan membawa kita kepad esuasut uyang menyedihkan hati. Akan tetapi, di dalam memamahmi puisis seperti itu cukupkah demikian? Tentu saja tidak. Kita harus mampu menggunakanpenalaran dalam memahaminya agar dapat menangkap pesan yang ingin disampaikan si penyair. Datrah yang mengucur dikonkretkan gambar luka yang akan menimbulkan rasa perih, pedih, dan nyeri bagi semua orang yan gmenyandangnya. Pelambangan teresbut dimaksudkan bahwa sebenarnya hidup kita penuh penderitaan. Sementara itu, pada bagian lain kita membaca tulisan luka,.. ha.., tepat di bawah benda yang diapsang di papan. Hal tersebut enyiratkan adanya seseuatu yang kontradiktif. Sesuatu yang kontradiktif itu dapat diintepresentasikan sebagai berikut. Di satu sisi, penyair ingin menyampaikan pesan bahwa seseorang yang menyandang "luka" itu akan merasa perih, pedih, dan menderita. Di sisi lain, penyair ingin menegeaskan "lika" disandang itu tidak harus dianggap sebagai sesuatu yang menyengsarakan, sesuatu yang membuat orang menderita karenya. Dengan kata lain, seseorang yang menyandang "luka" janganlah larut dalam kesedihan dan penderitaan, tetapi ia harus dapat mengantisipasi "luka" itu secara tegar dengan hati yang gembira, tidak cengeng. Semoga dengan pemahaman seperit itu, kita akan memperoleh nilai kenimkatan dari karya sastra yang dapat menambah wawasan hidup kita.

Citraan dalam Puisi[sunting]

Puisi termasuk bentuk (genre) karangan sastra sebagaimana prosa dan drama. Banyak orang yang menyamakan pengertian puisi dan sajak, padahal tidak sama. Puisi adalah istilah umum, misalnya puisi perjuangan, sedangkan sajak mengacu pada salah satu ciptaan seperti Kerawang Bekasi. Penyair memiliki bebrapa kiat agar puisi atau sajaknya mudah dicerna oleh pembaca atau penikmatny. Untuk itu, penyair acapkali menampilkan citraan (imagery) atau gambaran angan-angan dalam sajaknya. Melalui citraan, para penikma sajak akan memperoleh gambaran yang jelas, suasana khusu, atau gambara nyang menghidupkan alam pikiran dan perasaan penyairnya. Pendeknya, citraan merupakan gambaran dalam pikiran dan bahasa yang menciptakannya. Gambaran angan itu ada kalanya dihasilkan oleh indria penglihatan. Citraan yang ditimbulkannya disebut citraan lihatan. Gambaran yang dihasilkan indra pendengaran dinamai citraan dengaran, dan citraan yang dimunculkan oleh indria penciuman diberi nama citraan bauan. Demikian seterusnya untuk penyebutan citraan rabaan, cecapan, dan gerakan. Dapatkah dirasakan citraan yang terpantul melalui kutipan sajak Amir Hamzah di bawah ini? Nanar aku gila sasar Sayang berulang padamu jua Engkau pelik menarik ingin Serupa dara di balik tirai Dari sekian jenis citraan yang disebutkan, tampaknya citraan lihatanlah yang terasa dalam sajak di atas. Perhatikanlah larik keempat, serupa dara di balik tirai. Tidakkah terasa sesuatu yang merangsang indria penglihatan? Artinya, dalam angan seolah-olah jelas tampak seorang wanita rupawan yang mengintai dari balik tirai.

Mengenal Proses Kreatif Seorang Pengarang[sunting]

Seorang pengarang—cerpen, novel, puisi, drama—kaya akan berbagai pengalaman. Pengalaman yang ada di dalam dirinya itu makin lama makin menumpuk dan mengendap di dalam batinnya. Beberapa pengalaman yang dimiliki oleh seorang pengarang inilah yang selanjutnya dituangkan ke dalam bentuk-bentuk tulisan dan karya agar dapat sampai dan dinikmati para pembacanya. Seorang sastrawan atau pengarang selalu berkeinginan untuk menularkan berbagai pengalaman yang dirasakannya kepada pembacanya. Ia menginginkan agar pembaca mampu memahami dan bahkan menghayati segala yang telah tertuang dalam karya ciptaanya itu. Pembaca diajak untuk merasakan apa yang pernah dirasakan si pengarang memlalui karya yang diciptakannya. Tirani dan Benteng Kumpulan sajak Tirani dan Benteng, karya Taufik Ismail, misalnya, adalah sebuah kumpulan sajak yang diciptakan Taufik berdasarkan pada pengalaman-pengalaman yang dirasakannya selama menjelang dan permulaan Orde Baru. Pada saat itu Taufik Ismail melihat dan merasakan berbagai kejadian yang menurutnya, terlalu memprihatinkan dan menyedihkan. Ketidakadilan, kelaliman, dan tindak kekecaman penguasa kepada rakyat kecil terjadi di mana-mana. Kehidupan rakyat kecil menjadi makin sengsara dan menderita. Berbagai aksi dilakukan oleh para pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi KAPPI/KAMI untuk menentang kebijakan pemerintah yang dirasa sangat sewenang-wenang. Rekaman peristiwa itu oleh Taufik Ismail dituangkannya kembali ke dalam bentuk karya sastra, berupa puisi atau sajak. Kita lihat kutipan sajak berikut. Karangan Bunga Tiga anak kecil Dalam langkah malu-malu datang ke Salemba sore itu 'Ini dari kami bertiga Pita hitam pada karangan bunga sebab kami ikut berduka Bagi kakak yang ditembak mati Siang tadi Salemba Alma Mater, janganlah bersedih Bila arakan ini bergerak pelahan Menuju pemakaman Siang ini Anakmu yang berani Telah tersungkur ke bumi Ketika melawan tirani Sajak diatas menggambarkan suasana duka ketika seorang mahasiswa Arief Rahman Hakim, 23 Tahun, mahasiswa Fakultas Kedokteran Tingkat IV, Universitas Indonesia, mati tertembak di depan Istana Negara pada tanggal 25 Februari 1966.

Apakah ciri sastra yang baik?[sunting]

Dalam memilih karya sastra sebagai bahan bacaan, tentu kita harus selalu mengupayakan yang terbaik. Untuk itu, kita perlu mengetahui setidaknya tiga macam norma atau nilai yang menjadi cirinya, yaitu norma estetika, sastra, dan moral. Norma Estetika Pertama, karya itu mampu menghidupkan atau memperbarui pengetahuan pembaca, menuntunya melihat berbagai kenyataan kehidupan, dan memberikan orientasi baru terhadap apa yang dimiliki. Kedua, karya sastra itu mampu membangkitkan aspirasi pembaca untuk berpikir dan berbuat lebih banyak dan lebih baik bagi penyempurnaan kehidupannya. Ketiga, karya sastra itu mampu memperlihatkan peristiwa kebudayaan, sosial, keagamaan, atau politik masa lalu dalam kaitannya dengan peristiwa masa kini dan masa datang. Itulah sebabnya pengalaman (batin) yang diperoleh pembaca dari karya sastra yang dibacanya disebut pengalaman estetik. Norma Sastra Pertama, karya itu merefleksi kebenaran kehidupan manusia. Artinya, karya itu membekali pembaca dengan pengetahuan dan apresiasi yang mendalam tentang hakikat manusia dan kemanusiaan serta memperkaya wawasannya mengenai arti hidup dan kehidupan ini. Kedua, karya itu mempunyai daya hidup yang tinggi, yang senantiasa menarik bila dibaca kapan saja. Ketiga, karya itu menyuguhkan kenikmatan, kesenangan, dan keindahan karena strukturnya yang tersusun apik dan selaras. Norma Moral Karya sastra disebut memiliki norma moral apabila menyajikan, mendukung, dan menghargai nilai-nilai kehidupan yang berlaku. Nilai keagamaan yang disajikan, misalnya, harus mampu memperkukuh kepercayaan pembaca terhadap agama yang dianutnya.

Sekadar Anda Tahu[sunting]

Istilah adalah kata atau gabungan kata yang mengungkapkan suatu makna konsep, proses, keadaan, atau sifat khas dalam bidang tertentu. Dalam khazanah sastra, kasidah, katarsis, dan karmina, termasuk golongan istilah. Kasidah Sajak yang berasal dari Arab dan Parsi itu terdiri atas 30 sampai dengan 120 larik. Isinya berupa pujian terhadap Tuham Yang Maha Kuasa,Nabi, atau pujian terhadap orang kenamaan. Kasidah termasuk tradisi kebudayaan pesantren, misalnya kasidah Barzanji. Setelah itu, kasidah berkembang penyajiannya diiringi dengan musik modern atau musik populer, disebut kasidah modern. Katarsis Rasa pembebasan dan pemurnian jiwa seseorang setelah mengalami ketegangan pada suatu klimaks. Pemurnian jiwa ini dapat dialami oleh setiap orang seusai menyaksikan dan menikmati suatu karya sastra, misalnya adegan tragis dalam lakon tragedi. Karmina Istilah ini lazim pula disebut pantun kilat. Bentuk sastra lama ini terdiri atas dua larik atau berupa penyederhanaan bentuk pantun. Rimanya aa. Larik pertama disebut sampiran, sedangkan larik kedua disebut isi. Contoh: Sudah ganaru cendana pula Sudah tahu bertanya pula

Drama Tradisional[sunting]

Drama merupakan suatu kegiatan alamiah yang muncul dalam kehidupan kita. Asal mulanya sejak manusia bereaksi terhadap kehidupan dan lingkungannya. Kemudian, drama atau teater tradisional menjadi bagian dari kenyataan kesenian kita, misalnya, makyong dan mendu (Riau), randai dan bakaba (Sumatera Barat), topeng prembon dan topeng arja (Bali), mamanda dan tatayung (Kalimantan), ludruk dan kentrung (Jawa Timur), encling dan srandul (Jawa Tengah), lenong dan topeng betawi (Jakarta), serta sanreli (Sulawesi). Dagelan Pergelaran ini sejenis komedi yang intinya terlihat pada kemampuan pemain menciptakan, secara tepat, suasana lucu. Kelucuan itu kerap tercipta karena perilaku atau banyolan pemainnya, misalnya, dengan "memelesetkan" lidah ketika menyebutkan nama seseorang. Wayang Dalang, yang memainkan pertunjukan ini, menggerakkan boneka atau sejenisnya. Ciri khasnya tidak berubah dari zaman nenek moyang sampai zaman anak cucu kita yakni unsur filsafat hidup serta tata nilai budaya yang diragakan sang dalang. Ceritanya sebagian besar bersumber pada epos Ramayana dan Mahabarata. Topeng Betawi Pemeran topeng betawi dinamai panjak, pemimpinnya disebut kepala panjak, dan awal permainannya ditandai tetalu (gamelan). Dialog antar pemain merupakan sumbu pemancing tawa penonton. Biasanya pemain bertopeng muncul pada bagian penutup cerita. Jalannya berlenggang-lenggok mengikuti irama gamelan. Bicaranya meluncur lancar tentang berbagai hal. Yang disajikan dalam kesenian ini adalah cerita rakyat dan cerita rekaan baru.

Sekadar Anda Tahu[sunting]

Sejarah sastra Indonesia modern menurut tradisi dimulai dari masa Balai Pustaka. Peristiwa itu ditandai dengan terbitnya karya sastra modern pertama dalam bentuk roman atau novel. Judulnya Azab dan Sengsara Seorang Gadis, karya Marari Siregar pada tahun 1920. Jadi, usia sastra kita boleh dikatakan baru berjalan 73 tahun. Hingga pada dekade 1970an, Jakob Sumardjo (1983) mencatat jumlah karya dan sastrawan kita sebagai berikut. Hasil Karya dan Pengarang Kenyataan menunjukkan bahwa sastrawan kita telah berhasil menulis sekitar 1.335 karya sastra yang berupa kumpulan cerpen, kumpulan puisi, roman atau novel, drama, terjemahan sastra asing dan kritik, serta esai sastra. Tercatat juga 237 nama sastrawan yang pentin. Hampir setengah dari jumlah mereka menulis puisi (49,3%), cerpen (47,6%), novel (36%), esai (23,2%), drama (18,9%), dan sisanya penerjemah serta penulis kritik sastra. Novel Khusus novel setidaknya diterbitkan 227 buah. Jumlahnya perdekade tercatat seperti berikut tahun 1920-an 20 novel, tahun 1930-an 55 novel, tahun 1940-an 19 novel, tahun 1950-an 34 novel, tahun 1960-an 42 novel, dan tahun 1970-an 57 novel. Perihal Sastra Masa Pra-Balai Pustaka Hasil amatan Claudine Salomn (1985) menyatakan bahwa sastra kaum pernakan Tionghoa dalam bahasa Melayu Rendah di Indonesia tercatat 806 nama sastrawan Tionghoa yang telah menulis 3.005 buah karya sastra yang berupa drama (dalam bentuk buku), 183 syair, 1.396 roman dan cerpen asli, 233 terjemahan sastra Barat, dan 759 terjemahan sastra Cina. Produksi sastra yang lur biasa besarnya itu membentang hampir satu abad (1870—1960-an).

Intertekstual dalam Cerita Rakyat[sunting]

Cerita rakyat merupakan salah satu bagian dari folklor. Pada umumnya, cerita rakyat hanya berbentuk cerita lisan yang diwariskan secara turun temurun. Dalam perkembangannya, cerita rakyat yang semula berupa tradisi lisan berubah menjadi tradisi tuli. Indonesia yang teridir atas ribuan pulau dengan sendirinya kaya akan cerita rakyat. Dilihata dari khazanah cerita rakyat yang ada, tampak ada kesamaan bentuk penceritaan anta cerita rakyat daerah yang satu dan daerah yang lain. Yang membedakan hanyalah versi dan awrna loka daerah masing-masing. Oudiphus Kompleks Kisah perjalanan cinta seorang anak yang mengawini ibunya tidak hanya terdapat dalam cerita Oudiphus, karya William Shakespeare. Cerita rakyat di Indonesia pun sudah lama mengenal cerita semacam itu. Di Jawa, misalnya, ada cerita Watugunung, di Sunda cerita Sangkuriang, di Jambi cerita Perpatih Nan Sebatang, yang mengisahkan perkawinan seorang anak dengan ibunya. (Dalam cerita Perpatih Nan Sebatang, versinya agak lain, yaitu perkawinan seorang kakak dengan adiknya), Jalinan cinta keduanya disebabkan oleh ketidaktahuan setelah lama berpisah. Namun, rahasia itu tersingkap. Perkawinan merek terpaksa harus gagal setelah pada suatu hari sang putir melihat tanda pitak bekas di kepala pujannya itu. Hal tersebut mengingatkan akan kejadian masa silam yang menyebabkan perpisahan mereka. Tahulah ia bahwa sebenarnya suaminya itu bukanlah orang lain. Ia masih darah dagingnya sendiri. Kawin dengan Bidadari Cerita rakyat yang lain, yang mempunyai kesamaan penceritaan, ialah kisah perkawinan seorang pemuda desa dengan bidadari (peri). Di Jawa cerita Jaka Tarub mengisahkan seorang pemuda (Jaka Tarub) yang sedang berburu di tengah hutan tiba-tiba melihat tujuh bidadari yang sedang mandi di telaga. Secara iseng Jaka Tarub menyembunyikan pakaian salah satu bidadari itu. Sang bidadari (Nawangwulan) tidak dapat terbang pulang ke kahyangan karena bajunya hilang. Ia ditinggal oleh saudara-saudaranya di tengah sendirian. Akhirnya, Nawangwulan bertemu dengan Jaka Tarub dan keduanya kawin. Kisah semacam itu juga terdapat di bebrapa daerah di Indonesia, di antaranya cerita Sumur Tujuh, cerita rakyat dari Jawa Barat; Oheo, cerita rakyat dari Sulawesi Tenggara, Tiga Pitu, cerita rakyat dari Bali.