Buku Praktis Bahasa Indonesia 1/Kalimat

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Buku Praktis Bahasa Indonesia 1
Kalimat
Sumber: Pusat Bahasa

Kalimat Tidak Baku dan Kalimat Baku[sunting]

Kalimat Tidak Baku Kalimat Baku
Semua peserta daripada pertemuan itu sudah pada hadir. Semua peserta pertemuan itu sudah hadir.
Kami menghaturkan terima kasih atas kehadirannya. Kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran Saudara.
Mengenai masalah ketunaan karya perlu segera diselesaikan dengan tuntas. Masalah ketunakaryaan perlu segera diselesaikan dengan tuntas.
Sebelum mengarang terlebih dahulu tentukanlah tema karangan. Sebelum mengarang, tentukanlah tema karangan.
Pertandingan itu akan berlangsung antara Regu A melawan Regu B. Pertandingan itu akan berlangsung antara Regu A dan Regu B.
Kita perlu pemikiran-pemikiran untuk memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan kota. Kita memerlukan pemikiran untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pelaksanaan pengembangan kota.

Ragam Tidak Baku dan Ragam Baku[sunting]

Ragam Tidak Baku Ragam Baku
Bilang dahulu dong sama saya punya bini. Bicarakan dahulu dengan istri saya.
Memang kebangetan itu anak belum mandi sudah makan gado-gado. Memang keterlaluan anak itu belum mandi sudah makan gado-gado.
Pengendara motor dilarang lewat jalan ini kecuali yang pakai helm. Pengendara motor dilarang melewati jalan ini, kecuali mereka yang memakai helm.
Permintaan para langganan belum ada yang dipenuhi karena persediannya sudah habis. Permintaan para pelanggan belum ada yang dipenuhi karena persedian barang sudah habis.
Persoalan yang diajukan oleh Bapak Kepala Sekolah diulas kembali bersama Bapak Ketua P.O.M.G. Soal yang diajukan oleh Kepala Sekolah diulas kembali oleh Ketua POMG.
Berhubung itu, mengemukakannya pula minat baca kaum remaja semakin menurun. Sehubungan dengan itu, dikemukakannya pula bahwa minat baca kaum remaja makin menurun.

Kalimat Tidak Teratur dan Kalimat Teratur[sunting]

Kalimat Tidak Teratur Kalimat Teratur
Dari peristiwa itu perlu mendapat perhatian dari berbagai fihak, sehingga pada masa datang tidak seorangpun menuntut ganti rugi. Peristiwa itu perlu mendapat perhatian berbagai pihak, agar pada masa yang akan datang tidak ada seorang pun yang menuntut ganti rugi.
Ini hari, kita tidak bicarakan tentang soal harga, melainkan tentang mutu barang itu. Hari ini kita tidak membicarakan soal harga, tetapi soal mutu barang itu.
Tujuan penyusunan Buku Pelajaran itu adalah membantu masyarkat, khususnya yang berada di pedesaan. Sehingga karenanya mendapat kesempatan belajar membaca menulis. Penyusunan buku pelajaran ini bertujuan membantu masyarakat, khususnya yang berada di pedesaan agar mendapat kesempatan belajar membaca dan menulis.
Dalam upacara pembukaan seminar itu, yang pertama kali diadakan di kota Semarang dihadiri para pejabat-pejabat negara dan tokoh-tokoh masyarakat. Upacara pembukaan seminar itu, yang pertama kali diadakan di kota Semarang, dihadiri para pejabat negara dan tokoh masyarakat.
Pertanyaan saya yang ketiga kalinya, disebabkan karena kebimbangan saya terhadap pemakaian kata nalar. Pertanyaan saya yang ketiga berkaitan dengan kebimbangan saya terhadap pemakaian kata nalar.
Indikator pemahaman materi keterampilan yaitu mampu melakukan tugas dan latihan yang diberikan oleh penyaji. Indikator pemahaman materi keterampilan adalah kemampuan melakukan tugas dan pelatihan yang diberikan oleh penyaji.
Jumlah dokter amat terbatas dibanding jumlah penduduk, tidak semua warga masyarakat termasuk di desa mendapat pelayanan medis. Jumlah dokter amat terbatas jika dibandingkan dengan jumlah penduduk. Oleh karena itu, tidak semua warga masyarakat, terutama di desa, mendapat pelayanan medis.
Membantu pemerintah dalam Gerakan Penghijauan Lingkungan yang mana berarti turut menjaga kelestarian alam. Membantu Pemerintah dalam gerakan penghijauan lingkungan berarti turut menjaga kelestarian alam.
Untuk peningkatan mutu pendidikan dari sekolah swasta di mana memerlukan ketekunan dan keuletan para pamong. Untuk meningkatkan mutu pendidikan sekolah swasta diperlukan ketekunan dan keuletan para pamongnya.
Dengan perombakan sistem perdagangan dan industri itu bertujuan, agar Indonesia dapat mengimbangi mengenai pertumbuhan ketenagakerjaan yang terlalu cepat. Perombakan sistem perdagangan dan industri itu bertujuan agar Indonesia dapat mengimbangi pertumbuhan ketenagakerjaan yang terlalu cepat.

Kalimat Efektif[sunting]

Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat mengungkapkan gagasan pemakainya secara tepat dan dapat dipahami secara tepat pula. Berikut ini contoh kalimat yang kurang efektif. Kalimat (1) diambil dari sebuah tiket bus dan kalimat (2) diambil dari sebuah majalah.

(1) Jika bus ini mengambil penumpang diluar agen supaya melaporkan kepada kami.

Kalimat ini kurang jelas maksudnya karena ada bagian yang dihilangkan atau tidak sejajar. Siapakah yang diminta "supaya melaporkan kepada kami"? Ternyata imbauan ini untuk para penumpang yang membeli tiket di agen. Jika demikian, kalimat ini perlu diubah menjadi :

(1a) Jika bus ini mengambil penumpang di luar agen, Anda diharap melaporkan kepada kami.

Jika subjek induk kalimat dan anak kalimatnya dibuat sama, ubahannya menjadi

(1b) Jika bus ini mengambil penumpang di luar agen, harap dilaporkan kepada kami.
(2) Mereka mengambil botol bir dari dapur yang menurut pemeriksaan laboratorium berisi cairan racun.

Apakah yang berisi cairan racun itu ? Jika jawabnya "dapur", kalimat ini sudah baik. Jika jawabnya "botol bir", letak keterangannya perlu diubah menjadi :

(2a) Dari (dalam) dapur mereka mengambil botol bir yang menurut pemeriksaan laboratorium berisi cairan racun.

Kalimat Bermakna Ganda[sunting]

Kalimat yang memenuhi ketentuan tata bahasa, tetapi masih menimbulkan tafsiran ganda tidak termasuk kalimat yang efektif. Berikut ini contohnya : mahasiswa

(1) Tahun ini SPP mahasiswa baru dinaikkan.

Kata baru di atas menerangkan kata mahasiswa atau kata dinaikkan? Jika menerangkan mahasiswa, tanda hubung dapat digunakan untuk menghindari salah tafsir.

(1a) Tahun ini SPP mahasiswa-baru dinaikkan.

Jika kata baru menerangkan dinaikkan, kalimat itu dapat diubah menjadi:

(1b) SPP mahasiswa tahun ini baru dinaikkan.
(2) Rumah sang jutawan yang aneh itu akan segera dijual.

Frasa yang aneh di atas menerangkan kata rumah atau frasa sang jutawan? Jika yang aneh menerangkan rumah, kalimat itu dapat diubah menjadi :

(2a) Rumah aneh milik sang jutawan itu akan segera dijual.

Jika yang aneh itu menerangkan sang jutawan kata yang dapat dihilangkan sehingga makna kalimat di atas menjadi lebih jelas.

(2b) Rumah sang jutawan aneh itu akan segera dijual.

Membuat Kalimat Secara Cermat[sunting]

Pemilihan kata, pembentukan kata, atau pembuatan kalimat yang tidak cermat mengakibatkan nalar yang terkandung dalam kalimat terganggu. Hal itu seharusnya dihindari oleh penyusun kalimat yang ingin menyampaikan informasi secara tepat. Berikut ini contoh kalimat yang dikutip dari surat kabar.

Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh. Kalimat (1) di atas terdiri atas tiga bagian, yaitu (i) tugas kemusiaan dalam suatu jabatan, (ii) jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia, dan (iii) memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh. Ketiga bagian itu tidak jelas hubungannya. Berikut ini ubahan yang menampakkan hubungan antar bagian secara lebih jelas.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan yang memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh ialah pengelolaan sejumlah manusia.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal itu memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.
Tugas mengelola sejumlah manusia, yang merupakan tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh
Patut dipertimbangkan pula pemakain ungkapan dedikasi yang tangguh. Ungkapan yang lazim adalah dedikasi yang tinggi.
Dikatakan, bahwa sumpah itu sebenarnya adalah perisai yang harus ditempatkan di bagian depan diri kita, agar tidak terjerumus kepada sesuatu yang kita tidak boleh perbuat dan sumpah merupakan pedoman di dalam melaksanakan tugas. Salah satu kemungkinan perbaikan kalimat (2) di atas, agar gagasan-nya lebih mudah dicerna, adalah sebagai berikut.
Dikatakannya bahwa sumpah itu sebenarnya adalah pelita yang harus ditempatkan di bagian depan diri kita agar kita tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang tidak boleh kita lakukan. Sumpah juga merupakan pedoman bagi kita di dalam melaksanakan tugas.
Pengubahan kalimat (2) menjadi (2a) menyangkut hal-hal berikut: Bagian kalimat sesudah kata dan dijadikan kalimat baru agar kalimatnya tidak terlalu panjang; Tanda koma (,) di depan kata penghubung (bahwa dan agar) tidak diperlukan.
Kata perisai bermakna 'alat untuk melindungi atau menangkis serangan', sedangkan pelita bermakna 'alat penerangan'. Jadi, pelita lebih cocok dipakai di sini sebagai alat bantu untuk melihat jalan agar tidak terjerumus.
Bentuk-nya pada dikatakannya perlu dicantumkan agar jelas mengacu kepada pelakunya. Kata perbuatan lebih terbayangkan acuannya daripada sesuatu. Agar tidak mengulang bentuk yang sama, kata perbuat diganti dengan lakukan.
Susunan kelompok kata yang kita tidak boleh lakukan (setelah kata perbuat diganti dengan lakukan) perlu dipercermat menjadi yang tidak boleh kita lakukan. Hubungan antar kata kita dan lakukan sangat erat, maka unsur lain harus diletakkan di depan atau di belakangnya.

Contoh lain:

  • akan kita jalankan bukan kita akan jalankan;
  • Sekarang kita jalankan atau kita jalankan sekarang; bukan kita sekarang jalankan.

Dalam contoh itu kata "kita" dan "jalankan" tidak dapat disisipi oleh kata lain.

Kesejajaran Satuan dalam Kalimat[sunting]

Yang dimaksud satuan di sini adalah satuan bahasa. Unsur pembentuk kalimat sepert subjek, predikat, objek dan sebagainya, dapat disebut satuan. Mungkin terjadi bahwa subjek, predikat dan objek itu terdiri atas beberapa unsur. Tiap-tiap unsur itu dapat juga disebut satuan. Berikut ini contohnya.

(1) Saya akan mengambil roti, mentega dan kacang.

Kalimat (1) terdiri atas tiga satuan fungsional, yaitu subjek, predikat dan objek. Subjek saya terdiri atas satu satuan; predikat akan mengambil terdiri atas dua satuan; dan objek roti, mentega dan kacang terdiri atas tiga satuan. Jik kita berbicara tentang kesejajaran satuan dalam kalimat, yang dibahas ialah keadaan sejajar atau tidaknya satuan-satuan yang membentuk kalimat, baik dari segi bentuk maupun dari segi makna. Tentu saja pengertian kesejajaran mengandaikan bahwa unsur pembentuk kalimat itu lebih dari satu. Sesungguhnya kaitan bentuk dan makan sangatlah erat dan tak terpisahkan, tetapi demi kemudahan pembicaraan, tulisan ini akan terbagi menurut aspek yang menonjol. Contoh kalimat yang bagian-bagiannya memperlihatkan kesejajaran dapat diberikan berikut ini.

(2) Marto kini memerlukan perhatian dan pertolongan.
(3) Polisi tengah menangani kasus pencurian dan pembunuhan itu.
Kesejajaran Bentuk
Imbuhan yang digunakan untuk membentuk kata yang berperan dalam menentukan kesejajaran. Berikut ini contoh yang memperlihatkan ketidak-sejajaran bentuk.
(4) Kegiatannya meliputi pembelian buku, membuat katalog, dan mengatur peminjaman buku.

Ketidaksejajaran itu ada pada kata pembelian (buku) yang disejajarkan dengan kata membuat (katalog) dan mengatur (peminjaman buku). Agar sejajar, ketiga satuan itu dapat dijadikan nomina semua, ubahannya seperti terlihat pada kalimat (4a). Jika dijadikan verba semua, ubahannya seperti terlihat pada kalimat (4b).

(4a) Kegiatannya meliputi pembelian buku, pembuatan katalog dan pengaturan peminjaman buku.
(4b) Kegiatannya ialah membeli buku, membuat katalog, dan mengatur peminjaman buku.

Berikut ini disajikan contoh lain yang memperlihatkan ketidaksejajaran bentuk.

(5) Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap profesinya serta memahami tugas yang diembannya, Dokter Joko telah berhasil mengakhiri masa jabatannya dengan baik.

Tampak bahwa bentuk penghayatan dan memahami tidak sejajar. Ubahan yang memperlihatkan kesejajaran dapat diberikan di bawah ini.

(5a) Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap profesinya serta pemahaman akan tugas yang diembannya, Dokter Joko telah berhasil mengakhiri masa jabatannya dengan baik.
(5b) Dengan menghayati profesinya secara sungguh-sungguh serta memahami tugas yang diembannya, Dokter Joko telah berhasil mengakhiri masa jabatannya dengan baik.

Pada kemasan obat sering ditemukan penjelasan berikut.

(6) (Obat ini) dapat dibeli di toko obat, kelontong, jamu dan apotek.

Jika diuraikan, keterangan tempat itu akan berbunyi di toko obat, toko kelontong, toko jamu, dan toko apotek. Segera dapat diketahui bahwa ada ketidaksejajaran satuan karena kita tidak mengenal istilah toko apotek. Karena itu, sebaiknya penjelasan itu ditulis lengkap sebagai berikut.

(6a) (Obat ini) dapat dibeli di toko obat, toko kelontong, toko jamu dan apotek.
Kesejajaran Makna
Seperti telah dinyatakan di atas, bentuk dan makna berkaitan erat. Dapat diumpamakan keduanya merupakan dua sisi dari keping uang yang sama. Berikut ini diutarakan makna yang terkandung dalam satuan fungsional. Satuan fungsional adalah unsur kalimat yang berkedudukan sebagai subjek, predikat, objek dan sebagainya. Status fungsi itu ditentukan oleh relasi makna antarsatuan. Kalimat (7) berikut ini terasa janggal karena tidak ada kesejajaran ubjek dan predikat dari segi makna.
(7) Dia berpukul-pukulan.

Kata berpukul-pukulan bermakan 'saling pukul'. Itu berarti pelakunya harus lebih dari satu. Karena kata dia bermakna tunggal, subjek kalimat (7) itu perlu diubah, misalnya menjadi mereka, atau ke dalam kalimat itu ditambahkan keterangan komitatif (penyerat) dengan temannya, misalnya.

Kalimat berikut tidak memiliki kesejajaran makna predikat dan objek.

(8) Adik memetiki setangkai bunga.

Kata memetiki mempunyai makna 'berulang-ulang' yang tentunya tidak dapat diterapkan pada setangkai bunga. Perbaikannya dapat dilakukan dengan mengubah predikat menjadi memetik atau menghilangkan satuan setangakai pada objek. Tentu saja, perbaikan kalimat itu (dan juga kalimat (1) di atas) bergantung pada informasi yang akan disampaikan. Berikut ini contoh kalimat yang lebih kompleks.

(9) Selain pelajar SMA, Panitia juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa.

Jika kalimat itu diuraikan, akan diperoleh kalimat seperti pada (9a).

(9a) Pelajar SMA memberikan kesempatan kepada mahasiswa, Panitia juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa.

Tentu saja itu, bukan itu maksudnya. Maksud kalimat (9) adalah bahwa panitia memberikan kesempatan, baik kepada para pelajar SMA maupun kepada para mahasiswa. Informasi itu dapat diungkapkan dengan kalimat (9b) berikut.

(9b) Selain kepada pelajar SMA, Panitia juga memberikan kesempatan kepada para mahasiswa.

Pada ubahan itu fungsi satuan pelajar SMA adalah keterangan dan itu sejajar dengan fungsi satuan para mahasiswa. Dari segi makna, kedua satuan itu adalah penerima, bukan pelaku perbuatan. Contoh berikut memperlihatkan kaitan erat antara bentuk dan makna yang terwujudkan dalam penentuan fungsi.

(10) Setelah menyiapkan semuanya, acara sederhana itupun segera dimulai.

Samakah subjek anak kalimat (10) yang dilesapkan itu dengan subjek induk kalimatnya? Pelesapan unsur kalimat dimungkinkan jika unsur yang berfungsi sama memiliki bentuk yang sama. Siapakah yang menyiapkan semuanya? Ternyata tidak ada unsur yang ditampakkan yang dapat menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Dengan demikian, ada ketidaksejajaran dalam kalimat itu. Ubahannya dapat diberikan di bawah ini.

(10a) Setelah menyiapkan semuanya, merek segera memulai acara sederhana itu.
(10b) Setelah semuanya disiapkan, acara sederhana itu pun segera dimulai.

Dalam kalimat (10a) subjek anak kalimat, adalah mereka. Karena fungsi dan bentuknya sama, unsur ini dapat dimunculkan sekali saja. Kalimat (10b), yang menjadi salah satu pilihan perubahan yang lain juga memperlihatkan kesejajaran antara predikat disiapkan pada anak kalimat dan predikat dimulai pada induk kalimat.

Kesejajaran dalam Perincian Pilihan
Soal ujian kadang-kadang dibuat dalam bentuk pilihan ganda. Soal yang baik harus memuat perincian pilihan yang sejajar sehingga memberi peluang yang sama untuk dipilh. Berikut ini contoh perincian pilihan yang tidak sejajar.
(11) Pemasangan telepon akan menyebabkan
  • melancarkan tugas
  • untuk menambah wibawa
  • meningkatnya pengeluaran

Pada contoh di atas, jawaban yang diharapkan adalah a, tetapi kalimat Pemasangan telepon akan menyebabkan melancarkan tugas bukanlah kalimat yang baik. Pilihan b meskipun memang bukan jawaban yan tepat, tidak mempunyai peluang untuk dipilih karena kalimat Pemasangan telepon akan menyebabkan untuk menambah wibawa bukanlah kalimat yang baik. Kalimat yang memuat pilihan c justru paling baik, tetapi itu bukan jawaban yang diharapkan. Soal (11) itu dapat diubah sebagai berikut.

(11a) Pemasangan telepon akan meningkatkan
  • kelancaran
  • wibawa
  • pengeluaran

contoh berikut ini memperlihatkan perician yang baik dan sejajar walaupun tidak sejenis.

(12) Komunikasi adalah hubungan yang dilakukan
  • dengan telepon
  • untuk mendapatkan informasi
  • oleh dua pihak atau lebih

perincian itu dikatakan sejajar karena masing-masing jawaban itu merupakan keterangan, tetapi tidak sejenis karena dari segi makna, isi keterangan itu memang berbeda-beda. Pilihan a adalah keterangan alat, pilihan b badalah keterangan tujuan, pilihan c adalah keterangan pelaku. Yang perlu diperhatiakan dalam contoh di atas ialah penalaran kalimat yang melibatkan pilihan c. Apakah setiap hubunganyang dilakukan oleh dua pihak atau lebih itu selalu dapat disebut komunikasi? Hal itu tidak akan dibahas lebih lanjut karena merupakan masalah logika dan bukan masalah bahasa.

Komposisi[sunting]

1. Apakah yang disebut komposisi itu ?

Komposisi adalah bentuk pengungkapan gagasan berupa gubahan yang tercermin dalam susunan beberapa kalimat. Sebuah komposisi dapat terbentuk hanya dalam satu untaian kalimat dan dapat pula berupa rangkaian kalimat. Untaian kalimat yang mencerminkan satu gagasan yang padu membangun satu paragraf atau alinea. Skripsi, makalah, berita di koran, pidato, dan surat adalah contoh komposisi. Karya sastra yang berupa sajak, cerpen, dan novel pun merupakan komposisi. Paragraf pada sajak dikenal dengan istilah bait.

2. Ciri utama apakah yang terdapat pada komposisi?

Jawaban berikut akan mengutarakan ciri-ciri umum yang terdapat pada jenis komposisi, seperti pidato, makalah, skripsi, dan surat dinas. Komposisi yang baik selalu bercirikan kepaduan. Kepaduan itu terbentuk oleh adanya kesatuan dan pertautan. Kesatuan itu berkenaan dengan pokok masalah, sedangkan pertautan itu berkenaan dengan hubungan antara bagian yang satu dan bagian yang lain yang berupa kalimat, paragraf, pasal, atau bab; bagian yang berupa bab lazim terdapat di dalam sebuah paragraf maupun pada seluruh naskah. Untuk menjamin adanya kesatuan dan pertautan dalam satu komposisi hendaknya termuat hanya satu gagasan pokok yang sesuai dengan jenjangnya dan gagasan pokok itu kemudian dikembangkan. Di dalam naskah yang terdiri atas beberapa paragraf gagasan pokok itu dapat termuat dalam sebuah paragraf yang disebut paragraf pokok dan dikembangkan dengan paragraf pengembang. Di dalam sebuah paragraf, gagasan pokok itu dapat diwujudkan dalam sebuah kalimat yang disebu kalimat pokok. Gagasan itu dikembangkan dengan kalimat-kalimat lain yang disebut kalimat pengembang sehingga membentuk paragraf karena, baik di dalam setiap paragraf maupun di dalam naskah, seutuhnya terdapat proses pengembangan atas satu gagasan pokok sehingga terbentuklah pertautan antara kalimat/paragraf pokok dan kalimat/paragraf pengembang, serta antara kalimat/paragraf pengembang yang satu dan kalimat/paragraf pengembang yang lain. Kepaduan itu dapat digambarkan sebagai berikut.

(1) =========================================
(2) ..........................................(3)........................................
(4) ......................................................................................
(5) ============================ (6) ...................
(7) .................................(8)................................................
(9) ............................................................

Keterangan

  • = kalimat pokok I paragraf pokok
  • ..... kalimat pengembang II paragraf pengembang

3. Bagaimana contoh nyata sebuah paragraf yang padu?

Perhatikan paragraf berikut.

(1)Kekeringan yang melanda pulau ini berakibat sangat parah. (2) Sumur penduduk sudah tidak banyak mengeluarkan air. (3) Ternak sudah lama tidak memperoleh makanan yang berupa rerumputan hijau. (4) Pepohonan pun di mana-mana tampak melayu. (5) Banyak sawah yang tidak tergarap lagi; tanahnya mengeras dan pecah-pecah.

Gagasan pokok pada paragraf di atas akibat kekeringan yang parah terutama dalam kalimat (1) . Kalimat (2) dan (3) merupakan pengembangan kalimat (1) sehingga pembaca memperoleh gambaran yang lebih lengkap perihal kekeringan itu. Sebagai kalimat pengembang, masing-masing memberikan keadaan yang disebut dalam kalimat (1).

Berikut ini contoh paragraf yang tidak padu.

(1) Biji yang patutu dipilih sebagai bibit memiliki bebrapa ciri. (2) Setelah dipilih, bibit disemaikan terlebih dahulu. (3) Biji yang dijadikan bibit harus masih dalam keadaan utuh. (4) Biji yang kulitnya berkerut atau berjamur sebaiknya tidak dipilih. (5) Kulit biji yang sehat biasanya berwarna kuning muda.

Pada paragraf di atas, gagasan pokok termuat pada kalimat (1). Kalimat (3) sampai dengan (5) membicarakan ciri biji yang baik untuk dipilih sebagai bibit. Oleh karena itu, kalimat (3) sampai dengan (5) merupakan pengembang kalimat (1). Kalimat (2) memang bertautan dengan kalimat (1) karena juga bertopik tentang bibit, tetapi bukan pengembang kalimat (1) karena tidak berbicara tentang ciri bibit. Dapat dikatakan paragraf di atas tidak padu karena terdapat ketidaksatuan gagasan.

4. Apakah kalimat pokok selalu di bagian awal?

Kalimat pokok tidak selalu di awal paragraf. Pada contoh berikut ini kalimat pokok itu terletak di akhir paragraf, yaitu kalimat (5).

(1) Selama ini banyak orang tua yang mengeluh karena tidak dapat memahami pelajaran matematika yang diajarkan kepada anaknya. (2) Mereka tidak dapat membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah. (3) Par guru lulusan tahiun yang telah lama silam pun tidak sedikit yang kebingungan. (4) Buku paket dibeberapa temapt ternyata belum sampai. (5) Tampaknya pemberian pelajaran matematika dengan cara baru ini memang belum siap.

5. Pemarkah apakah yang menandai pertautan?

Pertautan lazim ditegaskan oleh ungkapan penghubung dan pengulangan unsur kalimat. Ungkapan penghubung dapat dibedakan atas ungkapan penghubung antarkalimat dan ungkapanpenghubung antarparagraf. Pengulangan unsur kalimat itu dapat dilakukan dengan menggunakan kata atau frasa yang sama dan dapat pula menggunakan pronomina (kata ganti) dia, mereka, saya-nya, dan demonstrativa (kata tunjuk) ini, itu. Perhatikan paragraf berikut ini.

(1) Saya mempunyai tetangga yang senang memelihara binatang. (2) Tetangga saya itu, Tono namanya, mempunyai seekor anjing pudel. (3) Dia sangat menyayangi binatang itu.

Dalam paragraf di atas kata tetangga pada kalimat (1) diulang lagi pada kalimat (2). Pronomina dia pada kalimat (3) mengacu ulang unsur Tono pada kalimat (2) dan frasa binatang itu pada kalimat (3) mengacu ulang unsur seekor anjing pudel pada kalimat (2).

Kedua alat penegas pertautan itu digunaan untuk memberikan, menguraikan, atau menyimpulkan gagasan pokok. Akan tetapi, ada juga pertautan yang tidak dibentuk dengan kedua alat itu, tetapi dengan pertalian gagasan.

Untuk lebih jelas lagi perhatikan wacana berikut.

(1) Beberapa orang menilai bahwa anak remaja sekarang cenderung kurang peduli terhadap lingkungannya. (2) Di tempat-tempat umum mereka sering bergerombol sehingga mengganggu par pemakai jalan yang juga berhak lewat di tempat itu. (3) Tingkah laku mereka di jalan raya pun demikian. (4) Pada malam hari, saat orang memerlukan istirahat, tidak jarang mereka bermain gitar dan bernyanyi keras dengan suara sumbang. (5) Aksi corat-coret sangat mereka gemari sehingga menjadikan lingkungan berkesan kotor. (6) Oleh karena itu, tidak sedikit orang yang merasa resah atas tingkah laku mereka.

(7) Di pihak lain, ada pula orang yang berpendapat bahwa remaja memerlukan perhatian yang lebih banyak lagi.. (8) Tingkah laku mereka justru merupakan protes atas kurangnya perhatian orang tua terhadap mereka. (9) Mereka bertingkah laku untuk menyatakan keberadaan mereka secara ekstrem. (10) Dengan demikian, mereka berharap agar orang lain memperhatikan mereka beserta persoalan dan kebutuhan yang mereka hadapi.

Gagasan pokok pada paragraf pertama--kalimat (1) sampai dengan (6)—tertuang pada kalimat (1), yakni ada orang yang menilai bahwa remaja itu tidak peduli pada lingkungannya. Gagasan itu dikembangkan pada kalimat (2) sampai dengan (6). Kalimat (2) sampai dengan (5) berisi gambaran tentang ketidakpedulian remaja itu. Sekalipun tidak menggunakan ungkapan peng-hubung, gagasan tiap-tiap kalimat bertalian karena topik yang dibicarakan sama, yakni kelakuan remaja. Kalimat (6) mengungkapkan akibat peristiwa yang dinyatakan pada kalimat-kalimat sebelumnya. Ungkapan penghubung oleh karena itu menyatakan pertaliannya dengan kalimat-kalimat sebelumnya.

Pertautan paragraf kedua—kalimat (7) samapai dengan (10)—dengan paragraf pertama—kalimat (1) sampai dengan (6)—diwujudkan dengan kata-kata di pihak lain pada kalimat yang memuat gagasn pokok. Pernyataan bahwa ada orang yang berpendapat bahwa remaja memerlukan perhatian yang lebih banyak lagi, yang menjadi gagasan pokok dikemukakan pada kalimat (8) sampai dengan (10). Kecuali pada kalimat (10), dalam kalimat pengembang itu tidak digunakan ungkapan penghubung, tetapi masing-masing bertalian karena mengungkapkan topik yang sama, yakni bahwa tingkah laku remaja itu merupakan ungkapan keperluan mereka akan perhatian orang lain. Kesamaan topik kalimat pengembang itu juga dinyatakan dengan perulangan penggunaan kata tingkah laku pada kalimat (8) dan (9). Pertautan kalimat (10) dengan kalimat sebelumnya dinyatakan dengan ungkapan dengan demikian.

6. Ungkapan manakah yang tergabung dalam ungkapan penghubung antarkalimat dan ungkapan penghubung antarparagraf?

Yang termasuk ungkapan penghubung antarkalimat, antara lain oleh sebab itu, namun, akan tetapi, dengan demikian, selanjutnya, dan selain itu. Yang termasuk ungkapan penghubung antarparagraf, antar lain adapun, dalam pada itu, dan sementara itu. Batas pengelompokan ini tidaklah tegas benar. Ungkapan penghubung antarparagraf sering juga digunakan untuk mempertautkan kalimat dengan kalimat dalam sebuah paragraf.

Pronomina Persona[sunting]

Pronomina, yang disebut juga kata ganti, sebenarnya tidak mengganti, tetapi mengacu ke maujud tertentu yang terdapat dalam peristiwa pertuturan. Pengacuan itu dapat bersifat di luar bahasa ataupun di dalam bahasa. Pronomina dapat dibagi atas pronomina persona (antara lain saya, kamu, dan mereka), pronomina penunjuk (antara lain, ini, itu, sana, sini), dan pronomina penanya (antara lain apa, siapa, dan mengapa). Yang dibicarakan berikut ini hanyalah pronomina persona.

Dalam peristia pertuturan, pesan diungkapkan oleh pembicara atau penulis (selanjutnya akan disebut pembicara) kepada kawan bicara atau pembaca (selanjutnya disebut kawan bicara). Pembicara adalah persona pertama sedangkan persona kedua yang terlibat dalam peristiwa pertuturan. Yang tidak terlibat dalam pertuturan adalah persona ketiga.

Perhatikanlah percakapan berikut yang memperlihatkan pemakaian beberapa pronomina.

Amir dan Bonar bertemu dengan Candra.

(1) Candra : Hendak kemana kalian?
(2) Bonar : Kami akan k e rumah Dina. Engkau mau ikut?
(3) Candra : Dina ? Siapa dia?
(4) Bonar : Dia kawan lamaku. Kami dulu sekampung.
(5) Amir :(Berbisik kepada Candra). Kamu tahu? Kita akan diajak merayakan pertemuan mereka kembali.
(6) Candra : O, ya? Kalau begitu, aku mau. Tetapi, Bonar, apakah kami tidak menggangu acara kalian?
(7) Bonar : Ah, tidak. Kita nanti hanya makan angin saja, kok.
(8) Amir : Jangan kaugoda, Candra. Lihat, kata-katamu membuat merah mukanya.

Pronomina aku, -ku, ku-, dan saya mengacu ke persona pertama yang tunggal. Bentuk aku, -ku, dan ku- digunakan jika pembicara akrab dengan kawan bicaranya seperti pada ilustrasi di atas. Bentuk itu juga dipakai oleh orang yangsedang berdoa atau berbicara dalam batin. Dalam situasi resmi digunakan kata saya.

Pronomina kami mengacu ke persona pertama yang jamak. Para peserta upacara yang mengucapkan ikrar kesetuaan, misalnya, menggunakan kata kami yang mengacu ke diri mereka. Pronomina itu juga dapat mengacu ke persona pertama dan persona ketiga sekaligus. Persona ketiga mungkin hadir pada peristiwa pertuturan itu (seperti pada cakapan (2) dan (6), mungkin pula tidak hadir (seperti pada cakapan (4)). Karena tidak melibatkan persona kedua, pronomina kami ibersifat eksklusif.

Pronomina kita kita mengacu ke persona pertama dan kedua sekaligus. Karena itu, acuannya jamak. Persona ketiga dapat pula dilibatkan dalam acuan itu seperti contoh pada cakapan (7) yangselain mengacu ke Bonar dan Candara, juga mengacu ke Amir dan Dina. Karena melibatkan persona kedua, pronomina itu bersifat inklusif.

Pronomina kamu, -mu, engkau, kau- mengacu ke persona kedua. Bentuk itu dipakai jika tidak ada hambatan psikologis pada pembicara; misalnya, jika pembicara akrab dengan kawan bicara atau jika status sosial pembicara lebih tinggi saripada status kawan bicara. Beberapa contoh pemakaiannta terlihat pada contoh percakapan di atas. Pronomina itu umumnya mengacu ke jumlah tunggal, tetapi dapat juga mengacu ke jumlah jamak-kolektif. Guru dapat mengacu ke murid-muridnya denga kata kamu. Pada karya susastra, misalnya dalam kalimat sajak yang berikut, engkau mengacu ke jumlah kolektif.

Wahai, para guru! Engkaulah pahlawan tanpa tanda jasa.

Kata Anda bisa dipakai dalam situasi bicara yang formal. Selain itu, kata itu juga digunakan jika lawan bicara banyak dan/atau tidak tampak. Misalnya, dalam rapat, kuliah, surat, iklan, teepon, atau siaran. Dengan demikian, Anda digunakan untuk mengacu ke persona tunggal ataupun jamak.

Kata kalian digunakan untuk mengacu ke persona kedua jamak. Kata itu digunakan jika pembicara tidak mempunyai hambatan psikologis. Acuan kalian dapat juga mencakupi persona ketiga yang berada di pihak kawan bicara. Pada cakapan (1) di atas, kata kalian mengacu ke Amir dan Bonar (persona kedua jamak), sedangkan pada cakapan (6) kalian mengacu ke Bonar (persona kedua) dan Dina (persona ketiga yang tidak hadir).

Alih-alih kalian, jika acuan jamak, kata sekalian dapat digunakan dengan cara ditambahkan pada pronomina kedua engkau, kamu, Anda, atau pronomina pertama kami atau kita. Bentuk Anda sekalian lebih takzim daripada engaku sekalian atau kamu sekalian. Pronomina (d)ia –nya beliau, dan mereka mengacu ke persona ketiga, kata )d)ia digunakan jika acuannya tunggal seperti terlihat pada percakapan di atas. Bentuk –nya dapat mengacu ke persona ketiga tunggal atau jamak. Pemakaian –nya seperti pada kalimat Atas perhatiannya, saya ucapkan terima kasih tidak tepat jika bentuk itu mengacu ke kawan bicara; seharusnya Atas perhatian Anda/Saudara, saya ucapkan terima kasih. Kata beliau digunakan untuk menyatakan perasaan hormat. Mereka mengacu ke jumlah dua ke atas.

Bentuk –nya dapat digunakan untuk mengacu kepada sesuatu yang bukan insan seperti terlihat pada contoh berikut.

(9) Walaupun kakinya terluka, harimau itu masih dapat melarikan diri.

Pronomina persona ketiga yang lain umumnya digunakan untuk mengacu ke insan. Dalam dongeng, misalnya, pronomina itu digunakan juga untuk mengacu ke hewan atau benda lain yang diinsankan.

(10) Kancil berlari ketakutan; kemudian ia mencari tempat persembunyian.
(11) Bunga mawar dan bunga matahari memamerkan keelokan mahkota mereka.

Dalam pemakaian formal, acuan yang bukan insan harus diulangi atau diungkapkan dengan kata lain yang maknanya bersesuain.

(12) Dulu kami mempunyai radio antik, tetapi kini radio/barang itu telah dicuri orang.

Bagan berikut memperlihatkan pronomina yang telah dibicarakan.

Bentuk Yang Diacu 'Jumlah'
saya, aku, -ku, ku- Persona I Tunggal
kami Persona I Jamak
kita Persona I Jamak
Engkau, kau, kau-, (d)ia, beliau Persona II Tunggal
Anda, kamu, -mu, -nya Persona II Tunggal/jamak
Kalian Persona II ( + III) Jamak
Mereka Persona III Jamak

Di samping itu, ada seperangkat nomina penyapa dan pengacu yang mencakupi istilah kekerabatan, seperti bapak, ibu, adik, dan anak yang masing-masing berpasangan dengan bentuk singkatnya yaitu pak, bu, dik dan nak. Nomina penyapa untuk persona kedua, sedangkan nomina pengacu untuk persona pertama, kedua, atau ketiga. Dalam kesastraan dipakaibentuk seperti ayahanda, ibunda, adinda, atau ananda. Bentuk yang bertalian dengan nama keahlian atau jabatan, seperti profesor (pof), dokter (dok), kapten (kep), dan zuster (zus) juga digunakan untuk menyapa ke persona kedua. Bentuk itu sering kali tersa lebih hormat dan lebih santun daripada pronomina persona kedua. Bentuk singkat kedua jenis nomina itu hanya dapat digunakan untuk menyapa (disebut vokatif) dan tidak dapat mengacu. Perhatikan contoh berikut.

 Selamat siang, Pak.
 Bu, saya pergi sebentar.
 Sakit apa, Dok, anak saya?
 *Rumah Dik, di mana?
 *Sekarang Nak tidur dulu.
 *Resep Dok dapat saya baca.

Penggunaan nomina penyapa dalam kalimat yang bertanda bintang berarti tidak berterima.

Pewatas dan Penjelas[sunting]

Kalimat yang baik susunan dan pilihan katanya kadang-kadang masih menimbulkan salah tafsir karena maknanya ganda. Perhatiakn contoh berikut.

(1) Meja bukan tempat untuk duduk.

Pada kalimat itu meja tidak mengacu ke meja tertentu, tetapi mengacu ke meja mana pun. Jika kata meja itu diterangkan dengan kata lain, acuannya makin terbatas.

(2) Meja kami akan diperbaiki.

Pada kalimat (2) itu, kata meja tidak lagi mengacu ke seberang meja, tetapi ke meja yang kami miliki. Perhatikan tambahan penjelasan pada meja kami berikut ini.

(3) Meja kami yang rusak itu akan diperbaiki.

Kalimat (3) di atas mengandung praanggapan bahwa kami memiliki beberapa meja dan salah satu di antaranya rusak. Hanya meja yang rusak itulah yang akan diperbaiki. Kita dapat melanjutkan kalimat itu seperti yang berikut.

(4) Meja kami yang rusak itu akan diperbaiki, sedangkan yang lain tidak perlu diperbaiki.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa yang rusak mewatasi atau membatasi acuan kata meja sehingga kata itu tudak mengacu kesebarang meja yang kami miliki. Konstruksi yang rusak itu pada kalimat tersebut disebut pewatas. Sekarang, jika yang dimiliki itu hanya sebuah meja dan meja itu rusak, bagaimanakah cara mengungkapkannya? Untuk menghindari praanggapan seperti yang ada pad kalimat (3), kita dapat menggunakan tanda koma (atau jeda jika kalimat itu kita ucapkan) seperti berikut.

(5) Meja kami, yang rusak itu, akan diperbaiki.

Pada kalimat (5), yang rusak itu tidak mewatasi meja kami, tetapi menjelaskan. Konstruksi seperti itu, yang biasanya diucapkan dengan nada yang lebih rendah daripad bagian kalimat yang lain, disebut penjelas. Kalimat (6) berikut ini, sebagai contohtambahan, dapat diucapkan oleh ibu yang mempunyai beberapa anak, sedangkan kalimat (7) dapat diucapkan oleh ibu yang mempunyai satu anak.

(6) Anak saya yang baru berumur satu tahun itusudah mulai dapat berjalan.
(7) Anak saya, yang baru berumur satu tahun itu, sudah mulai dapat berjalan.

Ungkapan Penghubung Antarkalimat[sunting]

Bila membuat sebuah komposisi atau karangan, kalimat yang terlalu panjang kadang-kadang harus dihindari. Akan tetapi, kalimat yang pendek-pendek tetap harus berpautan agar padu. Sarana pemaduan yang digunakan lazim disebut ungkapan penghubung antarkalimat. Berikut ini akan disajikan beberapa contoh ungkapan pengubung antarkalimat.

Pada bagian (a) disajikan dua kalimat yang tidak padu, sedangkan pad bagian (b) dua kalimat itu menjadi padu oleh adanya ungkapan penghubung antarkalimat.

Ada beberapa ungkapan untuk menyatakan pertentangan konsekuensi logis dengan hal yang dinyatakan pada kalimat sebelumnya. Misalnya, biarpun demikian, sekalipun begitu, sungguhpun demikian, walaupun demikian, dan meskipun demikian. Berikut ini adalah salah satu contoh pemakaiannya.

(1a) Ia tidak mempunyai bekal yang cukup. Ia tetap akan berangkat ke Riau.
(1b) Ia tidak mempunyai bekal yang cukup. Biarpun demikian, ia tetap akan berangkat ke Riau.

Pada contoh di atas konsekuensi logis dari kalimat pertama (1a), yakni ia tidak mempunyai bekal yang cukup, ialah bahwa ia tidak akan pergi. Ternyata konsekuensi itu tidak terjadi dan yang terjadi justru bertentangan dengannya.

Ungkapan namun dan akan tetapi juga dapat menyatakan pertentangan sehingga dapat mengganti pemakaian ungkapan yang disebutkan pada butir 1 di atas. Selain itu, namun dan akan tetapi juga dapat menyatakan pertentangan yang tidak berkenaan dengan konsekuensi kalimat sebelumnya. Syarat yang berat bagi terlaksananya pernyataan sebelumnya, misalnya, juga dapat ditautkan dengan namun dan akan tetapi. Berikut ini adalah salah satu contohnya.

(2a) Kemakmuran dapat segera terwujud. Kita harus bekerja keras untuk mencapainya.
(2b) Kemakmuran dapat segera terwujud. Akan tetapi, kita harus bekerja keras untuk mencapainya.

Pada contoh itu namun dan akan tetapi dapat digunakan, tetapi ungkapan seperti biarpun demikian dan meskipun demikian tidak dapat menggantikannya. Perlu juga diingat bahwa dalam bahasa baku konjungsi tetapi digunakan sebagai penghubung intrakalimat, tidak digunakan sebagai penghubung antar-kalimat.

Ada pula ungkapan penghubung antarkalimat yang lain yang digunakan untuk menyatakn kelanjutan peristiwa atau keadaan pada kalimat sebelumnya. Contohnya adalah kemudian, sesudah itu, setelah itu, dan selanjutnya. Berikut ini adalah salah satu contoh pemakaiannya.

(3a) Kami pergi ke Bogor. Kami pergi ke rumah Pak Suminta di Cianjur.
(3b) Kami pergi ke Bogor. Sesudah itu, kami pergi ke rumah Pak Suminta di Cianjur.

Jika pemaparan urutan peristiwanya terbalik, ungkapan yang digunakan adalah sebelum itu seperti pada contoh berikut.

(3c) Kami pergi ke rumah Pak Suminta di Cianjur. Sebelum itu, kami pergi ke Bogor.

Ungkapan yang menyatakan adanya hal, peristiwa, atau keadaan lain di samping yang telah dinyatakan sebelumnya adalah selain itu, di samping itu, tambahan pula, dan ini adalah salah satu contoh pemakaiannya.

(4a) Penduduk setempat minta tenaga seorang dokter. Mereka menginginkan penyuluhan kesehatan secara rutin.
(4b) Penduduk setempat minta tenaga seorang dokter. Selain itu, mereka menginginkan penyuluhan kesehatan secara rutin.

Ungkapan sebaliknya menyatakan hal yang berbalikan dengan pernyatan sebelumnya, seperti terlihat pada contoh berikut.

(5a) Hapsari senang bermain boneka. Kakaknya lebih suka membantu Ibu memasak.
(5b) Hapsari senang bermain boneka. Sebaliknya, kakaknya lebih suka membantu Ibu memasak.

Untuk menguatkan pernyataan sebelumnya, dengan cara menambahkan hal yang lain, dapat digunakan malahan dan bahkan. Berikut ini adalah salah satu contoh pemakaiannya.

(6a) Polisi sudah dilapori mengenai kasus itu. Polisi sudah mulai menanganinya.
(6b) Polisi sudah dilapori mengenai kasus itu. Bahkan, mereka sudah mulai menanganinya.

Jika hal yang ditambahkan itu merupakan kebalikan pernyataan sebelumnya, baik ungkapan malahan, bahkan, maupun sebaliknya dapat digunakan. Berikut ini contohnya.

(6c) Penjahat itu tidak mengindahkan tembakan peringatan. Sebaliknya Bahkan, dia melawan polisi dengan belati.

Ungkapan yang menyatakan konsekuensi atau hal yang dengan sendirinya terjadi akibat peristiwa yang lain adalah dengan demikian. Contoh pemakaiannya adalah sebagai berikut.

(7a) Pintu aula akan ditutup sesudah pertunjukan mulai. Tidak ada penonton keluar masuk selama pertunjukan berlangsung.
(7b) Pintu aula akan ditutup sesudah pertunjukan mulai. Dengan demikian, tidak ada penonton keluar masuk selama pertunjukan berlangsung.

Ungkapan oleh sebab itu dan oleh karena itu, yang mirip fungsinya dengan ungkapan dengan demikian, digunakan untuk merujuk pernyataan sebelumnya sebagai alasan terjadinya suatu peristiwa. Berikut ini adalah salah satu contoh pemakaiannya.

(8a) Nilai yang diperolehnya sangat buruk. Ia dinyatakan tidak lulus.
(8b) Nilai yang diperolehnya sangat buruk. Oleh sebab itu, ia dinyatakan tidak lulus.

Contoh-contoh di atas memperlihatkan bahwa pengubung antarkalimat menghubungkan dua kalimat yang utuh. Karena kedua kalimat itu terpisah, subjek pada kalimat kedua tetap dipertahankan meskipun sama dengan subjek kalimat sebelumnya. Dengan demikian, dalam bahasa baku kalimat seperti nomor (1b) tidak dapat menjadi Ia tidak mempunyai bekal yang cukup. Biarpun demikian, tetap akan berangkat ke Riau. Penghilangan subjek seperti itu menjadikan kalimat itu tidak baku.

Kalimat Bernalar[sunting]

Dalam sebuah harian ditemukan berita seperti yang berikut ini.

(1) Dalam lomba itu Murti Rais dari Jawa Timur keluar sebagai juara pertama. Juara kedua diduduki Nunung Manunggal dari DKI.

Sepintas lalu kutipan itu terasa tidak aneh, namun, jika kita mengamatinya lebih lanjut, akan muncul pertanyaan seperti ini, "Siapakah juara kedua yang diduduki Nunung itu?"

Artinya, ada ssuatu yang menggangu nalar berbahasa kita. Dalam kalimat pertama pada kutipan di atas, ada orang yang bernama Murti Rais yang menjadi juara pertama. Tentu ada orang lain yang menjadi juara kedua. Apakah orang yang menjadi juara kedua iru merupakan tempat duduk bagi Nunung?

Beberapa kalimat berikut ini dapat dijadikan pilihan untuk menggantikan kalimat kedua pada kutipan di atas.

(1) Juara kedua adalah Nunung Manunggal dari DKI.
(2) Gelar juara kedua diraih oleh Nunung Manunggal dari DKI.
(3) Tempat kedua diduduki oleh Nunung Manunggal dari DKI.

Alih-alih menggunakan kalimat (3), kita juga dapat mempertimbangkan penggunaan kalimat berikut ini.

(4) Peringkat kedua diduduki oleh Nunung Manunggal dari DKI.

Jika menggunakan gaya yang sama dengan pernyataan sebelumnya, tentu saja kita dapat mengubah petikan itu menjadi seperti berikut ini. Dalam lomba layar itu Murti Rais dari Jawa Timur keluar sebagai juara pertama, sedangkan Nunung Manunggal dari DKI keluar sebagai juara kedua.

Pilihan mana pun yang akan dipakai dapat menjadikan kalimat itu lebih bernalar.

Dirgahayu Republik Indonesia[sunting]

Setiap menjelang hari peringatan kemerdekaan Republik indonesia banyak dijumpai tulisan yang mengungkapkan ucapan "Selamat Ulang Tahun Republik Indonesia". Ungkapan itu dalam pemakaiannya sangat bervariasi. Dari berbagai variasi itu ada beberapa di antaranya yang penulisannya kurang tepat. Hal itu apat diperhatikan pada contoh di bawah ini.

  1. Dirgahayu HUT RI Ke-54.
  2. Dirgahayu RI Ke-54
  3. HUT ke LIV Kemerdekaan Indonesia.

Penulisan dan penyusunan contoh itu dilakukan secara tidak cermat sehingga dapat menimbulkan salah tafsir. Ketidaktepatan contoh (1) terletak pada penempatan kata dirgahayu. Kata dirgahayu merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta, yang bermakna 'panjang umur' atau 'berumur panjang'. Jik dihubungkan dengan makna yang didukung oleh HUT, pemakaian kata dirgahayu tidak tepat karena rangkaian kata dirgahayu HUT bermakna 'selamat panjang umur HUT'. Makna seperti itu dapat memberi kesan bahwa yang diberi u7capan 'selamat panjang umur' dan semoga panjang umur' adalah HUT-nya, bukan RI-nya. Padahal yang dimaksud dengan ungkapan itu adalah RI. Oleh karena itu, agar dapat mendukung pengertian secara tepat, susunan dirgahayu HUT perlu diubah menjadi dirgahayu RI. Ungkapanitu sudah tepat tanpa harus disertai HUT dan Ke-54. jika HUT ingin digunakan, sebaiknya kata dirgahayu kita hilangkan dan bilangan tingkat ke-54 dipindahkan sebelum RI sehingga susunannya menjadi HUT Ke-54 RI.

Ketidaktepatan contoh (2), yaitu dirgahayu RI ke-54, terletak pada penempatan kata bilangan tingkat. Dalam hal ini kata bilangan tingkat yang diletakkan sesudah RI (RI Ke-54) dapat menimbulkan kesan bahwa RI seolah-olah berjumlah 54 atau mungkin lebih. Kesan itu dapat menimbul-kan pengertian bahwa yang sedang berulang tahun adalah RI yang ke-54 bukan RI yang ke-10, ke-15, atau yang lain. Padahal kita mengetahui bahwa di dunia ini hanya ada satu RI, yaitu Republik Indonesia, yang sedang berulang tahun ke-54. untuk menghindari kemungkinan terjadinya salah tafsir semacam itu, susunan RI ke-54 harus kita ubah. Pengubahan itu dilakukan dengan memindahkan kata bilangan tingkat ke-54 ke posisi sebelum RI dan menggantikan kata dirgahayu dengan HUT sehingga susunannya menjadi HUT ke-54 RI.

Contoh (3) ketidaktepatannya terletak pada penulisan angka Romawi. Dalam hal ini kata bilangan tingkat yang ditulis dengan angka Romawi seharusnya tidak didahului dengan ke. Oleh karen itu, bentuk ke- pada kata bilangan tingkat ke LIV pada contoh (3) harus dihilangkan sehingga menjadi LIV. Sebaliknya, jika ditulis dengan angka Arab, bentuk ke- harus disertakan sebelum angka Arab itu sehingga bentuknya menjadi ke-54. jadi, penulisan ungkapan contoh (3) di atas yang tepat adalah HUT LIV Kemerdekaan Ri atau HUT Ke-54 Kemerdekaan RI. Atas dasaruraian di atas, contoh (1), (2), dan (3) yang tepat dinyatakan sebagai berikut.

  1. Dirgahayu RI
  2. HUT Ke-54 RI
  3. HUT LIV Kemerdekaan RI
  4. HUT Ke-54 Kemerdekaan RI

Dengan beranalogi pada bentukan ungkapan tersebut, kita pun dapat membentuk ungkapan lain secara cermat untuk menyatakan 'selamat ulang tahun' pada keperluan yang lain, misalnya pada ulang tahun TNI, ulang tahun KORPRI, ulang tahun RRI, atau ulang tahun TVRI. Dengan menggunakan ungkapan secara cermat, selain dapat menyatakan informasi yang tepat berarti kita pun turut mendukung usaha pembinaan dan pengembangan usaha.

Penyusunan Kalimat untuk Berita[sunting]

Berita sering harus ditulis denga segera dan kadang-kadang sampai dengan terburu-buru. Jika tulisan semacam itu direnungkan kembali, tidak jarang tulisannya terdapat kesalahan, seperti pada kutipan berikut ini.

(1) Upaya mencari titik temu masalah harga ini sampai kini belum juga terpecahkan....

Pertanyaan yang segera timbul jika kita membaca kalimat itu adalah apakah suatu upaya dapat dipecahkan? Jawabannya tentu tidak karena yang dapat dipecahkan biasanya berupa masalah. Tentang suatau upaya, kita dapat mengatakan, misalnya, berhasil atau belum berhasil diatasi. Jadi, kalimat (1) di atas sebenarnya kurang tepat. Ubahan kalimat itu yang tepat dapat diusulkan sebagai berikut.

(1a) Upaya mencari titik temu masalah harga ini sampai kini belum juga berhasil...
(1b) Masalah penenttuan harga ini sampai sekarang belum juga terpecahkan...

Kalimat berikut ini juga janggal karena katanya kurang tepat.

(2) Membangun industri baja diperlukan biaya yang besar.

Kita dapat membuat pertanyaan seperti di bawah ini jika menjumpai kalimat semacam itu; Biaya besar diperlukan utnuk apa? Jawabannya adalah untuk membangun industri baja. Dengan memperhatikan jawaban itu kita dapat menyusun kalimat (2) secara lebih cermat, yaitu dengan menyertakan kat auntuk pada awal kalimat, seperti perbaikannya pada (2a), atau tanpa menyertakan untuk, tetapi dengan mngubah predikat kalimat itu menjadi kata kerja aktif, seperti (2b) berikut.

(2a) Untuk membangun industri baja diperlukan biaya yang besar.
(2b) Membangun industri baja memerlukan biaya yang besar.

Di bawah ini dikutipkan sebagian berita yang lebih panjang yang penulisannya kurang cermat.

(3) Santunan senilai Rp. 2,5 juta untuk seseorang meninggal berlaku sejak 1986 setelah ada kerja sama Raharja Pekanbaru dengan Organda setempat. Isi kerja sama itu menentukan, setiap oplet membayar premi ekstra satu tahun kepada Jasa Raharja. Dengan demikian, korban meninggal yang melibatkan oplet tersebut akan memperoleh tambahan santunan Rp. 1,5 juta di samping Rp. 1 juta yang mengacu pada ketetapan Undang-Undang 33/1964.

Setelah membaca kutipan itu, orang mungkin bertanya-tanya. Mungkinkah korban yang meninggal dapat melibatkan oplet dan memperoleh santunan? Jawabannya tentu tidak. Hal itu memperlihatkan bahwa informasi yang diungkapkan dalam kutipan berita itu dapat mengalami penyimpangan. Penyimpangan itu sebenarnya itu tidak perlu terjadi jika penulis berita itu dapat mengungkapkannya dengan menggunakan bahasa secara cermat. Dengan mempercermat pengungkapan, kutipan berita itu dapat diubah sebagai berikut.

(3a) Ketentuan santunan senilai 2,5 juta rupiah untuk seseorang yang meninggal berlaku sejak 1986 setelah ada kerja sama Raharja Pekanbaru dengan Organda setempat. Isi kerja sama itu menentukan bahwa setiap pemilik oplet harus membayar premi ekstra satu tahun kepada Jasa Raharja. Dengan demikian, keluarga korban yang meninggal karena kecelakaan oplet tersebut akan memperoleh tambahan santunan 1,5 juta rupiah di samping 1 juta rupiah yang diberikan berdasarkan ketetapan Undang-Undang Nomor 33/1964.

Dibiayai dari obligasi Anda atau dibiayai dengan obligasi Anda?[sunting]

Kecernatan sebuah kalimat tidak hanya ditentukan oleh penggunaan kaidah tata bahasa yang tepat dan kesesuaiannya dengan ragam pemakaian, tetapi juga harus didasari penalaran yang baik. Kalimat berikut ini, misalnya, dari segi tata bahasa cukup baik, tetapi terasa janggal dari segi penalarannya.

  • "Kami bahagia karena menunda pernikahan kami.
  • Umur kami laki-laki minimum 25 tahun, perempuan minimum 22 tahun."

Jika diperhatikan secara cermat, tampak bahwa kalimat tersebut diucapkan langsung oleh pasangan muda. Kata kami mengacu pad pembicara. Namun, pada kalimat selanjutnya, pemakaian kata laki-laki, perempuan, dan minimum memberi kesan bahwa informasi kalimat itu mengacu pada orang lain, bukan pembicara. Di samping itu, penggunaan unsur umur kmi yang diikuti kat laki-laki dari segi makna juga kurang tepat.

Kalimat tersebut akan lebih wajar jika diubah seperti berikut sehingga memberi kesan diucapkan oleh seorang suami dalam pasangan itu.

  • "Kami bahagia karena menunda pernikahan kami.
  • Kami menikah setelah umur saya 25 tahun dan umur istri saya 22 tahun."

Masalah yang serupa juga kita jumpai pada kalimat di bawah ini.

Inilah permen pelega polusi tenggorokan. )

Jika menjumpai kalimat itu, kita dapat bertanya, apakah yang menjadi lega? Jawabannya, polusi tenggorokan. Jadi, permen itu dapat membuat polusi menjadi lega dan leluasa bersemayam di tenggorokan. Jika demikian, tepatkah "pesan" yang ingin disampaikan? Jawabannya tentu tidak karena "pesan" sesungguhnya yang ingin disampaikan ialah bahwa permen itu dapat membuat tenggorokan menjadi lega dan terbebas dari populasi. Pesan semacam itu akan lebih tepat jika diungkapkan dengan kalimat seperti berikut, yang merupakan hasil pencematan kalimat di atas.

  • Inilah permen pelega tenggorokan yang berpolusi.
  • Inilah permen pelega tenggorokan yang terkena polusi.
  • Inilah permen pembebas tenggorokan dari polusi.
  • Inilah permen pembebas polusi tenggorokan.

Kekurangcermatan penalaran yang lain juga kita temukan pada kalimat berikut.

  • Kualitas dan kepuasan Anda menjadi tujuan kami.

Kalimat itu pun memungkinkan kita bertanya, kualitas apa atau siapakah yang menjadi tujuan perusahan pemasang iklan itu? "Kualitas Anda" alias kualitas konsumenkah?

Jika direnungkan lebih jau, memang dapat kita temukan maksud ungkapan itu yang sesungguhnya, yaitu bahwa perusahaan pemasang iklan itu menjanjikan kualitas layanan dan kerjanya (yang baik) kepada konsumen sehingga diharapkan mereka menjadi puas. Jika maksudnya memang demikian, beberapa kalimat berikut ini, misalnya, lebih cermat mengungkapkan gagasan itu.

  • Kualitas layanan kami menjamin kepuasan Anda.
  • Kualitas kerja kami menjamin kepuasan Anda.
  • Menjaga kualitas layanan (kerja) kami dan memuaskan Anda adalah tujuan kami.

Kalimat berikut ini juga terasa janggal jika kita renungkan lebih jauh.

  • Jalan ini dibiayai dari obligasi Anda.

Kata dari tidaklah tepat digunakan pada kalimat itu. Kata itu lebih tepat digunakan untuk mengantar, misalnya, keterangan tempat seperti pada kalimat Buku itu dipinjam dari perpustakaan sekolah atau Pertandingan ini disiarkan langsung dari Stadion Utama Senayan. Keterangan lazim diantar dengan kata dari, misalnya, terdapat pada kalimat Para pegawai di lingkungan reaktor nuklir harus dilindungi dari pengaruh radiasi.

Pada kalimat yang dikutip di atas, obligasi Anda merupakan keterangan alat atau instrumen. Untuk menyatakan keterangan itu, kata depan yang tepat digunakan adalah dengan. Jadi, kalimat di atas menjadi lebih cermat jika diungkapkan sebagai berikut.

  • Jalan ini dibiayai dengan obligasi Anda.

Beberapa contoh yang dibicarakan itu menunjukkan bahwa dengan mengikuti kaidah tata bahasa saja dalam berbahasa tidaklah cukup. Makna kata dan kelazima pemakaiannya juga perlu diperhatikan agar dapat menghasilkan kalimat ynag bernalar. Pada gilirannya, kalimat yang bernalar akan mempermudah orang lain menangkap dab memahami isi kalimat itu dengan cepat dan tepat.

Tepatkah karenanya dan makanya?[sunting]

Penghubung antarkalimat, yang berfungsi menghubungkan dua kalimat, ada bermacam-macam, diantaranya namun, di samping itu, dengan demikian, sungguhpun begitu, atau oleh karena itu.

Karena dan Makanya

Kata karenanya dan makanya sering digunakan untuk menghubungkan dua kalimat. Tepatka penggunan kedua kata itu sebagai penghubung antarkalimat? Perhatikan contoh berikut.

(1) Banyak orang tua yang mengeluh, mereka tidak dapat memahami pelajaran matematika yang diajarkan kepada anaknya. Karenanya,

mereka tidak dapat membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah.

(2) Banyak anaka yang tidak menyukai pelajaran matematika. Makanya, nilai matematika mereka tidak bagus.

Kedua contoh itu masing-masing terdiri atas dua kalimat. Kedua kalimat itu masing-masing dihubungkan oleh kata karenanya (1) dan makanya (2). Hal ini tentunya tidaklah tepat. Di dalam bahasa Indonesia kata karenanya dan makanya bukanlah sebagai kata penghubung antarkalimat. Kedua kata itusering muncul sebagai penghubung antarkalimat karena ketidaktahuan orang yang membuatnya. Kata karenanya dipakai sebagai penghubung antarkalimat dikacaukan dengan oleh karena itu. Kata karenanya dianggap sebagai bentuk pemendekan dari oleh karena itu. Hal itu tentu saja tidak dibenarkan. Pada dasarnya, kata penghubung antarkalimat merupakan bentuk idiomatis yang kehadirannya tidak dapt dipertukarkan ataupun diganti. Kata itu harus hadir secara utuh. Dengan demikian, kalimat (1) semestinya diubah menjadi.

(3) Banyak orang tua yang mengeluh, mereka tidak dapat memahami pelajaran matematika yang diajarkan kepada anaknya. Oleh karena itu, mereka tidak dapat membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah.

atau, dapat juga dipakai kata penghubung lain, seperti berikut.

(4) Banyak orang tua yang mengeluh, mereka tidak dapat memahami pelajaran matematika yang diajarkan kepada anaknya. Oleh sebab itu, mereka tidak dapat membantu anaknya mengerjakan pekerjaan rumah.

Kalimat (2) yang memakai kata makanya sebagai penghubung antarkalimat jelas tidak tepat. Lebih-lebih jika kata makanya muncul dalam pemakaian bahasa tulis yang baku. Kata maka sebagai penghubung antarkalimat setakat ini belum diakui keberadannya. Baru sementara orang saja yang dapat menerima kehadiran kata maka sebagai penghubung antarkalimat. Pada umumnya, kata maka dianggap sebagai kat apenghubung intrakalimat yang hadir menghubungkan dua bagian di dalam sebuah kalimat.