Azab dan Sengsara/Bab 5

Dari Wikisource bahasa Indonesia, perpustakaan bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Azab dan Sengsara
(1920) oleh Merari Siregar
Bab 5: Jatuh Melarat
Diamond-caution.png Halaman ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikisource. "Merapikan" bisa berupa menambahkan header atau membagi halaman ke dalam paragraf dan subbagian. Setelah dirapikan, Anda dapat menghapus pesan ini.

"Ayah sudah daatang, sajikanlah nasi itu Mak, saya pun sudah lapar," kata Mariamin, budak yang berusia tujuh tahun itu.

"Baik," jawab si ibu, lalu meletakkan tikar[1] yang tengah dianyamnya. "Panggillah ayahmu, supaya kita bersama-sama makan. Ini sudah hampir setengah delapan[2], nanti Riam terlambat datang ke sekolah."

Setelah itu Mariamin pun pergilah ke bawah, mendapatkan ayahnya. Ibunya pergi ke kamar makan menyediakan makanan untuk mereka itu anak-beranak. Tiada berapa lama Mariamin datang, seraya berkata, "Ayah belum hendak makan."

"Di manakah ia sekarang?" tanya si ibu.

"Di muka rumah itu, lagi bercakap-cakap dengan orang lain. Ia sudah kupanggil tetapi ia menyuruh saya makan dahulu."

"Baiklah anakku dahulu makan, hari sudah tinggi. Ibulah nanti kawan ayahmu makan."

Sedang anak itu makan, maka ibunya meneruskan pekerjaannya, menganyam tikar. Meskipun ia dapat membeli tikar di pasar dengan uang dua rupiah, tiadalah suka ia mengeluarkan uangnya, kalau tidak perlu. Benar uang dua rupiah itu tiada seberapa, bila dibandingkan dengan kekayaan mereka itu. Tetapi ia seorang perempuan dan ibu sejati. Bukanlah orang yang miskin saja yang harus berhemat, orang yang berada pun patut demikian juga.

Daripada uang dikeluarkan dengan percuma, lebih baik diberikan kepada orang yang papa. Demikianlah pikiran mak Mariamin. Anaknya itu pun diajarnya berpikiran demikian; bibit hati kasihan ditanamkannya dalam kalbu anaknya itu. Betul itu tiada susah baginya, karena anaknya itu lahir membawa tabiat si ibu. Syukur tiada seperti si bapak, orang yang kurang beradab itu. Tadi pagi sebelum Mariamin makan, ibunya telah menyuruh dia membawa beras dan ikan serta beberapa butir telur kepada seorang perempuan tua yang amat miskin. Tempatnya ada sekira-kira sepal dari rumahnya.

Oleh sebab melalui jalan yang sejauh itulah, maka Mariamin jadi lapar, sebagai katanya tadi. Pekerjaan itu, yakni mengantar-antarkan sedekah ke rumah orang lain, tiadalah paksaan bagi Mariamin, tetapi itulah kesukaannya. Kadang-kadang ia tegur ibunya, sebab terlampau lama tinggal bercakap-cakap di rumah orang yang menerima pembawaannya itu. Mariamin amat bersenang hati campur gaul dengan orang miskin, tiadalah pernah ia memandang orang yang serupa itu dengan hati yang jijik sebagai beribu-ribu anak orang kaya.

"Riam, Riam!" panggil seorang budak laki-laki dari bawah.

Mariamin berlari ke jendela itu, karena suara itu telah dikenalnya. Dengan tersenyum ia berkata, "Naiklah sebentar Angkang, saya hendak betukar baju lagi."

"Lekaslah sedikit, Riam, biarlah kunanti di sini. Ini sudah hampir masuk sekolah, kawan-kawan sudah dahulu," jawab Aminu'ddin, seraya ia melihat matahari yang sedang naik itu. Takutlah ia, kalaukalau akan terlambat.

Setelah Mariamin turun, mereka itu pun berjalanlah bersamasama menuju rumah sekolah, dengan langkah yang cepat. Budak yang dua itu berjalan serta dengan riangnya, tiada ubahnya sebagai orang yang bersaudara yang karib. Persahabatan siapa lagi yang lebih rapat daripada mereka itu; bukankah mereka itu masih dekat lagi perkaumannya? Kelakuan mereka itu pun bersamaan, yang seorang setuju dengan kehendak seorang. Lebih karib dan rapat lagi mereka itu, sesudah Aminu'ddin melepaskan adiknya itu daripada bahaya banjir dahulu itu.

Mariamin adalah seorang anak yang cerdik, pengiba dan suka berpikir. Hal ini ternyata dari pertanyaan-pertanyaannya yang selalu dikemukakannya kepada ibunya, tatkala mereka itu pada suatu ketika duduk di hadapan rumah mereka. Barang apa yang dilihatnya selalu diperhatikannya, dan kalau ia tak mengerti atau tiada dapat menimbang sesuatu hal yang dilihatnya itu, ia pun bertanyakan kepada ibunya.

"Mak, apakah sebabnya kita kaya, dan ibu si Batu amat miskin? Makanan mereka itu hanya ubi, jarang-jaranglah ibunya bertanak nasi, kalau tiada sedekah orang. Bukankah mak sebutkan dahulu: Tuhan pengiba; kalau begitu, mengapa mereka semiskin itu?" demikianlah pertanyaan Mariamin kepada ibunya.

Si ibu tercengang sebentar mendengar perkataan anak itu. la tersenyum seraya bertanya, "Dari manakah anak tahu, bahwa kita kaya?"

"Kita kaya; sawah lebar, kerbau banyak dan uang ayah pun banyak, demikianlah kata orang saya dengar. Tiada benarkah itu, Mak?"

Budak itu memegang tangan ibunya, seraya memandang mukanya dengan pandang yang lemah.

Ibunya memeluk dan mencium cahaya matanya itu, seraya berkata, "Ibu tidak menidakkan pemberian Allah, nafkah kita cukup selamanya, dan Riam lebih daripada permata yang mahal bagi ibu."

Sudah tentu si anak itu kurang mengerti akan perkataan ibunya itu. Sebab itu ia melihat muka ibunya lagi dengan herannya.

"Anakku bertanya tadi, apa sebabnya ada orang kaya dan ada pula orang miskin, sedang Tuhan itu menyayangi sekalian yang diadakan- Nya. Apa sebabnya orang itu miskin, tak usah saya katakan. Akan tetapi sebabnya, orang kaya itu kaya, ada. Ibu sudah berkata dahulu, Tuhan itu amat menyayangi manusia iiu, bukan?"

"Ya, Mak!" sahut Mariamin.

"Bagus. Allah yang rahim amat mencintai hambanya. Oleh sebab itu haruslah manusia itu menaruh sayang kepada sesamanya manusia. Mereka itu harus tolong-menolong. Riam berkata tadi ibu si Batu miskin, kita kaya. Jadi sepatutnya bagi kita menolong mereka itu, itulah kesukaan Allah. Riam pun haruslah mengasihi urang yang papa lagi miskin, dan rajin disuruh mak mengantarkan makanan ke rumah orang yang serupa itu. Sudahkah mengerti Riam, apa sebabnya orang kaya itu kaya?"

"Sudah, yakni akan menolong manusia yang miskin," sahut si anak yang cerdik itu.

"Benar, begitulah kehendak Allah!" kata si ibu serta mencium kening anaknya itu berulang-ulang, matanya basah oleh air mata; dalam hatinya ia berkata, "Mudah-mudahan Allah memeliharakan anakku ini dan memberikan hati yang pengiba bagi dia."

Ibu Mariamin lagi menunggu-nunggu suaminya datang, supaya mereka itu makan pagi. Meskipun perutnya sudah lapar, karena pada waktu itu telah pukul sembilan, tiadalah sampai hatinya makan lebih dahulu. Sedang ia menanti-nanti itu, ia pun meneruskan menganyam tikar dan karung untuk padi di sawah yang sudah masak. Tengah ia bekerja itu, datanglah suaminya, ia tiada mengetahui kedatangan Sutan Baringin itu, karena pikirannya tiada lepas daripada mimpinya semalam itu. "Apakah gerangan makna mimpiku itu?" tanyanya berulang-ulang dalam hati.

Sutan Baringin itu baru datang dari kantor pos, membawa sebuah bungkusan kiriman orang dari Deli. Itulah sebabnya ia terlambat datang. Kiriman itu diiringi sepucuk surat yang bunyinya demikian:

Kakanda yang tercinta!
Bahwa dengan surat ini tiadalah suatu apa yang adinda kirimkan, hanya sekadar salam dan doa, mudah-mudahan kakanda anak-beranak, di dalam sehat walafiat adanya. Demikian juga umur usia kakanda barang dilanjutkan Allah kiranya dan rezeki pun direndahkannya.
Dengan surat yang secarik ini adinda permaklumkan juga kabar yang menyenangkan hati, yakni adinda telah mendapat surat pindah ke Sipirok. Dalam sepuluh hari ini adinda berangkat dari Binjai. Mudah-mudahan, kalau tiada aral melintang adalah adinda di sini dalam sebulan ini.
Di sini kakanda terimalah dengan senang hati kiriman adinda yang tiada dengan sepertinya, yaitu sehelai kain Batu- Bara [3]
Kabar yang lain ada baik.
Salam dan takzim waltakrim,
BAGINDA MULIA

"Bulan di muka ia datang, tiada lama lagi; tepat sesudah padi di sawah disabit. Jadi pada waktu memangkur sawah ini, sudah tentu ia meminta sawah bagiannya. Kerbau yang di Padang Lawas itu sudah tentu akan diselesaikan pula. Utangku, yaitu bagiannya yang kuhabiskan, haruslah pula kubayar, karena tiada dapat disembunyikan lagi. Tapi siapa tahu, aku harus mencari akal." Demikianlah Sutan Baringin berpikir-pikir, setelah surat Baginda Mulia itu dibacanya. Kain kiriman yang mahal dan bagus itu tiada dipedulikannya lagi. Pikiran yang buruk itulah timbul dalam hatinya; maksud yang tiada senonoh itulah balasan hati Baginda Mulia yang baik itu. Ia memandang Sutan Baringin saudaranya yang menaruh cinta akan dia, akan tetapi dia dipandang Sutan Baringin sebagai orang yang menyusah-nyusahkan dia.

Demikianlah budi Sutan Baringin terhadap kepada saudaranya yang datang dari tanah rantau itu. Hati cemburu, loba, tamak, dengki, dan khizit, sekaliannya itu sudah berurat berakar dalam darahnya; itulah yang akan merusakkan diri Sutan Baringin.

Setelah mereka itu dua laki-istri selesai makan, istrinya bertanya, sekadar akan melawan suaminya bercakap-cakap.

"Dari manakah diri tadi, sehingga kita terlambat makan?"

"Pergi ke kantor pos menerima pospaket kiriman adik kita dari Binjai," sahut Sutan Baringin dengan ringkas.

"Adakah dia dalam selamat saja?" tanya istrinya, karena ia ingin mengetahui hal saudaranya itu.

"Inilah dia suratnya, bacalah!" jawab suaminya, seraya ia bangun, lalu pergi ke beranda, duduk-duduk melihat-lihat orang lalu-lintas. Akan tetapi segala orang yang berjalan di hadapan rumahnya itu, tiada nampak olehnya, karena kerasnya ia berpikir, betapa jalan hendak menyembunyikan bagian saudaranya yang akan datang itu.

Bagaimanakah persaudaraan mereka itu?

Nenek mereka itu, yang laki-laki, satu, istrinya dua. Yang muda itulah nenek perempuan Baginda Mulia. Waktu bapak Baginda Mulia masih muda, ia pergi merantau ke Deli, karena pada zaman itu adalah kebilangan ke mana-mana, pekerjaan amat mudah di Sumatera Timur itu. Orang yang pandai menulis tiada susah beroleh gaji yang besar, dan pencarian pun amat mudah. Dengan jalan berdagang, berjualan dan lain-lain banyaklah orang menjadi kaya, karena pada waktu itu negeri Deli negeri baru, kebun banyak dibuka dan pencarian amat banyak, sedang anak negeri asli belum banyak yang bersekolah. Beratus orang muda dan tua yang merantau tiap-tiap tahun ke Sumatera Timur, bukan dari Tapanuli saja, dari Minangkabau pun banyak juga. Itulah jalannya maka sampai sekarang amat banyak orang Batak (Tapanuli) dan orang Minangkabau di daerah Sumatera Timur yang subur.

Merantau ke negeri orang itu tiada selamanya mendatangkan untung yang baik, karena manusia itu tiada selamanya dapat men-capai maksudnya; sebaliknya adalah beribu-ribu orang yang bercintakan ini, tetapi beroleh yang lain. Demikianlah langkah bapak Baginda Mulia itu langkah kiri, karena bahagia yang dimimpimimpikannya, tatkala ia di tempat kelahirannya, hilang lenyap sebagai kabut dipanasi matahari terbit. Anaknya baru seorang, istrinya pun meninggal dunia. la kembali ke negerinya dengan anaknya yang lagi kecil itu, akan tetapi tiada berapa tahun antaranya, ia pun mendapatkan istrinya ke dunia yang lain. Anak piatu itu merasa dirinya kurang senang di tengah-tengah orang kampung. Setelah ia berusia lima belas tahun, pergilah ia merantau ke Deli. la lebih beruntung daripada bapaknya. Berkat usahanya, dapatlah ia bekerja menjadi guru pada sebuah sekolah desa. Kemudian ia ditempatkan pada sekolah Gubernemen. "Setinggi-tinggi batu melambung, surutnya ke tanah juga," kata pepatah. Begitu jugalah halnya dengan Baginda Mulia. Jemulah rasanya ia hidup di rantau orang, rindu ke negeri sendiri makin keras, sehingga ia minta dipindahkan ke negerinya. Syukurlah, maksudnya itu dikabulkan.

Waktu berangkat dari kampung dulu hanya dengan sehelai baju, pulang dari rantau membawa pangkat. Dan yang didapatkan di kampung pun ada, yakni harta pusaka peninggalan orang tuanya, lebih baik dikatakan peninggalan neneknya.

Setelah ia menerima surat pindahan itu, ia pun berkirim surat kepada Sutan Baringin akan menceritakan kegirangan hatinya itu. Hati persaudaraan adalah lebih rapat padanya daripada Sutan, Baringin. la tiada mempunyai kakak atau adik yang kandung, oleh sebab itu adalah pada perasaannya, Sutan Baringin itu jadi kakak kandung bagi dia. Waktu kesusahan dan kedukaan mereka itu selalu berkirim-kirim surat. Baginda Mulia berbuat demikian karena cintanya akan saudara; Sutan Baringin sebab muslihat.

Hal yang serupa itu acap kali terlihat di atas bumi ini. Jauhlah bertambah kerasnya cinta dan kasih sayang itu, bila orang yang berkaum atau bersaudara itu tinggal berjauhan, sedang tinggal bersama-sama itu kerap mendatangkan perselisihan. Dua cabang yang sepokok, kalau rapat bergesel juga; telur ayam yang seraga itu bergesel juga, meskipun tiada berkakitangan.

Surat Baginda Mulia yang sekali itu ditulisnya dengan hati yang suci. Dengan suratnya itu ia menyuruh saudaranya bergirang hati, karena sedikit hari lagi mereka itu akan bersua.

Bukankah Sutan Baringin selalu menulis di bawah suratnya: "Terima salam dan takzim daripada kakakmu yang rindu". Di atas ia menulis: "Adinda yang tercinta". Perkataan itu semua amat mengeraskan cinta Baginda Mulia kepada kakaknya. Lagi pula tiada satu dua kali saja Sutan Baringin berkata dalam suratnya, "Ah, kalau adinda datang mengunjungi kami, betapakah besarnya hati kami anak-beranak! Belumkah bosan adinda di negeri orang itu?"

Sekarang tak usah lagi ia bertanya kedatangan adiknya, karena sebulan lagi sudah ada ia di Sipirok. Adakah Sutan Baringin bergirang hati menerima adiknya itu? Maukah ia berkata, "Bahagialah atasmu. Tinggallah bersama-sama dengan kami. Ini bagianmu dari harta peninggalan nenek kita. Terimalah dia dengan hati yang ikhlas!"

Semuanya itu takkan kejadian. Tengoklah bagaimana Sutan Baringin duduk di kursinya. Mukanya asam, dahinya berkerut, alamat ia sedang sibuk berpikir. Akan tetapi sayang seribu kali sayang, karena suara iblis yang berbisik dalam hatinyalah yang didengarnya, sedang pikiran yang baik tiada diindahkannya lagi.

Tatkala ia duduk-duduk itu datanglah istrinya dari belakang. Surat itu telah dibaca oleh istrinya dan amatlah ia bersukacita, karena kedatangan adiknya itu.

"Inikah dia kain kiriman adik kita itu?" tanyanya seraya mengembangkan kain Batu-Bara yang masih terletak di atas meja. la mengamat-amati raginya yang bagus dan benangnya yang halus itu.

"Ya, itulah dia!" jawab Sutan Baringin sambil mengerutkan mukanya.

"Tentu mahal harganya kain ini. Rupanya tiadalah si Tongam[4] melupakan kita. Setiap tahun kita selalu menerima kirimannya. Tahun ini sudah dua kali, tetapi untukku sendiri belum sebuah juga dalam tahun ini. Kakaknya sajalah rupanya yang diingatnya, maklumlah orang bersaudara, sedang perempuan ini orang lain saja."

Istrinya berkata demikian itu sekadar bergurau saja. Akan tetapi Sutan Baringin tiada mengindahkan percakapan istrinya itu, karena lainlah yang dipikirkannya. Sejurus lamanya, ia pun berkata, "Si Tongam itu tiada dapat dipercayai. Tiadakah engkau, tahu orang yang biasa di negeri ramai itu amat pintarnya; tetapi pintar dalam kejahatan. Tuturnya manis seperti madu, sehingga kita tiada mengetahui anak panah yang di dalamnya. Surat si Tongam pun selalu manis bahasanya, tapi maksudnya amat dalam. Karena engkau seorang perempuan, tentu tiadalah engkau tahu menduga hatinya. Perempuan mudah diperdayakan. Akan aku, meskipun si Tongam berbuat seolah-olah hatinya baik dan rapat kepada kita, kuketahui juga tipunya itu. Sekarang ia sudah putus asa, karena tiada diperolehnya kekayaan yang berjuta-juta di Deli itu. Haluannya sekarang ditukarnya, yaitu pulang ke kampung, dan ... segala harta kita sudah tentu akan dimintanya separuh. Aku tahu benarbenar. Tapi bolehlah dilihatnya nanti, bagaimana kesudahannya. Aku akan bersedia, sebelum ia datang. Kalau payungku telah berkembang, tak pedulilah aku, bagaimana sekalipun lebatnya hujan itu."

Sekalian perkataan Sutan Baringin itu amat mengherankan istrinya; karena tiada disangkanya suaminya akan mempunyai pikiran yang seburuk itu terhadap kepada saudaranya.

"Bersungguh-sungguhkah kakanda bercakap itu?" tanya istrinya dengan muka yang tenang.

"Ya, memang," sahut Sutan Baringin dengan suara yang tetap dan nyaring.

"Adakah patut kita berbuat seperti itu kepada adik kita? Kita hanya sebatang kara, dia pun demikian. Betapakah bagusnya kalau kita hidup dengan dia berkasih-kasihan sebagai orang yang bersaudara kandung; apalagi ia belum jauh. Diri berkata tadi, si Tongam orang yang tiada patut dipercayai. Sepanjang dugaanku, adalah ia orang yang berbudi; dari suratnya tahulah kita, betapa kasihnya akan kita; bukan perkataannya saja, tetapi dikerjakannya juga. Bukankah kita beroleh kiriman dari dia setiap tahun? Tiadalah patut kita menaruh bimbang dan menyangkakan ia orang yang jahat. Sekalipun ia demikian, haruslah kita lebih dahulu menegur dia. Tentang harta bagiannya sudah tentu harus kita serahkan semuanya dengan baik dan damai kepadanya. Janganlah kita dengar asut-asutan serta ajaran orang, yang hendak mencelakakan kita."

Nasihat istrinya yang mulia itu tiada diterima Sutan Baringin, karena ia telah penuh oleh pikiran yang buruk. Dengan amarah ia berkata, "Betullah perempuan tiada berotak, gampang ditipu engkau ini. Lebih baik kaudiam, aku lebih tahu apa yang akan aku perbuat."

Itulah jawab yang diterima istrinya yang penyabar itu; itulah balasan nasihatnya yang dituturkan dengan perkataan yang lemahlembut itu. Hal yang serupa itu tiada jarang. Berapa kali sudah istrinya yang setia itu menerima hardik dan dengking daripada suaminya, akan ganti terima kasih. Akan tetapi ia selalu sabar. Tiadalah ia pernah menunjukkan muka yang asam, melainkan semuanya itu ditahannya dalam hatinya. Tetapi bila ia duduk seorang diri saja, tiadalah teduh air matanya bercucuran, karena terkenang akan nasib perkawinannya yang celaka itu.

"Diri, perhatikan juga hendaknya perkataan adinda itu, karena sesal kemudian tak berguna," ujar istrinya dengan suara yang lembut, supaya suaminya itu jangan bertambah marah kepadanya.

Tutur yang lemah-lembut itu tiada berguna lagi. Bukanlah dia akan melembutkan hati Sutan Baringin, tetapi menerbitkan nafsu marah saja. Dengan suafa yang merengus dan keras ia berkata, "Diamlah engkau, apakah gunanya engkau berkata-kata itu?"

Kemudian ia pun turunlah, hendak pergi mendapatkan sahabatnya Marah Sait, yang telah kenamaan karena pandainya berkatakata, apalagi bersoal-jawab, karena ia seorang pokrol bambu.

Sambil mengeluh karena putus asa, ibu Mariamin merebahkan dirinya ke atas sebuah kursi, duduk bertongkat ruas. Matanya memandang kepada suaminya. Tiada berapa lama lenyaplah ia dari pemandangan istrinya itu.

Sementara itu matahari sudah rembang, segala makhluk dan tanamtanaman beriang hati, karena bumi itu penuh dengan sinar yang amat bagus itu. Akan tetapi tiadalah diindahkan oleh perempuan itu cahaya matahari yang menyinari kalbunya. Di atas kepalanya langit dipenuhi awan yang hitam, alamat kedukaan, sedang lubang yang di hadapannya makin dalam adanya.

"Hidupku ini penuh dengan percintaan," katanya mengeluh, seraya berdiri meninggalkan beranda muka itu.

Ia pergi ke dapur, karena matahari sudah di pertengahan langit, yakni waktu hendak menyediakan makanan tengah hari. Dengan lekaslekas ia pun menghidupkan api di dapur, dengan maksud akan menghilangkan hatinya yang susah itu, karena tahulah ia kalau orang bekerja, lebih kurang dirasanya pikiran yang mendesak di hati daripada ia duduk diam saja. Akan tetapi sekali ini tiadalah dapat ia melupakan adat suaminya yang kasar itu, dan mimpinya yang semalam itu pun selalu terasa-rasa dalam hatinya.

Setelah pekerjaannya di dapur itu selesai dan makanan sudah tersedia semuanya, kedengaranlah suara tabuh, menandakan waktu lohor sudah datang. Suara orang azan pun memperingatkan hamba Allah, supaya mereka menunaikan kewajibannya. Ibu Mariamin mengambil air sembahyang. Dengan sepenuh-penuh hati ia menyembah Allah yang akbar itu dan bermohon supaya Ia mengampuni dosa dan kesalahannya. Sesudah sembahyang, pergilah ia ke beranda muka menantikan kedatangan Mariamin dari sekolah. Jalan besar makin ramai, karena murid-murid sekolah makin banyak yang pulang, ada yang berlari-lari, ada yang berkejar-kejaran, ada pula yang berguraugurau sepanjang jalan, masing-masing dengan kesukaannya.

"Tertawa dan beriang hatilah kamu, hai anak-anak yang berbahagia! Waktu masih anak-anak itulah hidupmu yang sesenangsenangnya, pada hari tuamu kegirangan itu amat jarang, karena makin banyak penanggungan!" kata ibu Mariamin dalam hatinya. Dari jauh Mariamin telah melihat ibunya. Maka ia pun berlari-lari mendapatkan rumah mereka itu. Aminu'ddin menurut perlahan-lahan dari belakang, karena malulah ia berlari sebab melihat ibu Mariamin itu.

"Di manakah ayah? Aku sudah lapar!" kata Mariamin, seraya memegang tangan ibunya. Ia melompat seraya mendakap leher ibunya. Maka mulutnya dirapatkannya ke muka ibunya, dan bibir yang halus dan tipis itu pun mencium pipi ibunya. Barulah sekarang si ibu lupa akan susahnya itu, karena matahari kesukaannya, telah menyinari hatinya yang gundah gulana itu.

"Di manakah ayah?" tanya Mariamin pula.

"Mak tiada tahu, makanlah anakku dahulu!" sahut ibunya.

Mariamin pun makanlah. Tiadalah dilihatnya muka ibunya berubah, karena menanggung gundah dari semalam sampai hari itu.

Di manakah Sutan Baringin? Ia masih sibuk lagi bercakap-cakap dengan sahabatnya Marah Sait. Dengarlah percakapan mereka itu! Setelah Sutan Baringin menceritakan akan kedatangan Baginda Mulia dan maksudnya itu sekaliannya, maka ia pun bertanyakan ikhtiar yang akan diperbuatnya.

"Itu mudah," jawab Marah Sait serta tersenyum-senyum. "Bukankah sudah lebih dua puluh tahun ia di rantau? Kalau ia nanti datang, katakan saja ia bukan bersaudara dengan engkau. Ringkasnya kamu berdua tiada waris-mewarisi. Meskipun di muka pengadilan engkau haruslah tetap mengatakan yang demikian itu. Apakah nanti perkataannya kepada hakim, suatu pun tiada keterangannya, bahwa ia ada mewarisi nenekmu itu."

"Kalau ia nanti mendapat orang yang akan jadi saksinya, bahwa ia waris dari nenekku, apakah nanti yang akan kuperbuat?" tanya Sutan Baringin.

"Itu tiada mengapa; asal kita cari dahulu saksi kita yang memberi pengakuan, bahwa mereka itu tiada mengenal Baginda Mulia, dan dia itu tiada apa-apa dengan engkau," sahut pokrol bambu yang pandai itu.

"Dapatkah kita beroleh saksi serupa itu? Tapi ingat, mereka itu harus menahan sumpah," kata Sutan Baringin.

"Bersumpah? Apalah susahnya itu. Takutkah engkau dimakan sumpah? Akulah yang akan mencari orang itu sampai dapat asal engkau menyediakan ini ...." Ia berkata itu sambil mempergesekkan telunjuk dengan ibu jarinya yang maksudnya menyediakan uang.

"Pasal itu jangan takut, seratus dua ratus boleh kubagi sekarang," ujar Sutan Baringin dengan gembiranya. Demikianlah bodohnya itu; perkataan yang tiada beralasan, yang tersembur saja dari mulut seorang pokrol bambu, dipercayainya semua. Berapakah bagusnya kalau ia mengerti akan maksud orang yang hendak mengambil uangnya itu dengan tiada mempedulikan bahaya yang akan menimpa dirinya?

Kasihan, sebab dia menurut gerak lidah pokrol yang jahat itu! Kasihan, karena dia sendiri menggali lubang bagimu! Kasihan, sebab mereka yang tiada bersalah, terperosok juga kelak ke dalamnya!

Percakapan Sutan Baringin yang lain dari itu dengan sahabatnya Marah Sait, tiadalah guna dituliskan di sini supaya cerita ini jangan membosankan, karena semua perkataan pokrol yang pintar itu hanya yang tiada mungkin dan yang bukan-bukan saja. Tetapi sebab pandainya berkata-kata serta dengan petah lidahnya, dapatlah ia memperbodoh-bodohkan sahabatnya itu. Waktu Sutan Baringin hendak pergi, ia memasukkan uang kertas ke tempat rokok Marah Sait. Berapa banyaknya, tiadalah diketahui, hanya Sutan Baringin terdengar berkata, "Lepas dua tiga hari ini kita pergi ke Padang Lawas akan menjual kerbau barang lima enam ekor."

"Kalau tiada alangan yang menghambat, baiklah," jawab orang itu dengan girangnya. Mukanya berseri-seri, karena tahulah ia waktu itulah dapat menohok kawan seiring dan menggunting dalam lipatan.

"Kerbau enam ekor, tiada sedikit uangnya, sekurang-kurangnya empat-lima ratus rupiah," katanya dalam hatinya, sambil tersenyum- senyum melihat Sutan Baringin yang berjalan turun rumahnya.

Habis hari berganti minggu, habis minggu berganti bulan, habis bulan berganti tahun. Demikianlah berturut-turut sehingga lima tahun. Umur manusia itu pun demikian juga makin lama makin panjang, dan hari matinya pun makin dekat, meskipun seratus tahun sekalipun ia hidup di dunia ini. Mati itulah suatu "pekerjaan" jaan" banyak orang mengatakan "hal" yang harus kita lakukan. Segala yang hidup bernapas, makan dan akhirnya mati. Ketiga perkara itu harus kita lakukan, oleh sebab kita hidup, dan itulah tandanya suatu benda yang hidup. Manusia itu harus bernapas dan makan, oleh sebab itu harus pulalah ia mati. Akan tetapi beratus beribulah manusia pada zaman ini yang takut meninggalkan dunia ini. Sungguh heran, apakah gunanya ditakuti, karena yang mesti terjadi tak dapat tiada kejadian? Apalah gunanya bersusah hati, kalau matahari itu tenggelam ke sebelah barat, karena tahu jugalah kita, besok hari dia terbit pula di timur?"

Lima tahun genaplah sudah waktunya yang telah lewat; sejak daripada percakapan Sutan Baringin dengan Marah Sait. Apa yang sudah dikerjakan itu tentu tinggal begitu, tidak dapat lagi diulangulang, sebab sudah lewat, lewat dan lalu sebagai hari dan tahun yang silih berganti. Hari semalam itu tak guna ditunggukan lagi, karena telah lalu hari besok dapat disongsong. Demikian juga perbuatan kita. Apa yang telah kita perbuat, buruk atau baik, tak dapat diulangi lagi. Perbuatan yang baik menyenangkan hati. Kesenangan itu tiada hilang, meskipun bagaimana lamanya; kalau kita ingat terasa pula di hati kita. Perbuatan yang jahat mendatangkan sesal, karena tiada pernah lepas dari pikiran kita, sungguhpuu telah bertahun-tahun. Tetapi apalagi akan dibuat, yang sudah tinggal sudah, dan sesal kemudian tak berguna.

Oleh sebab itu sudah seharusnya tiap-tiap kita selalu berhati-hati melakukan pekerjaan waktu kita hidup di dunia ini. Di dalam hadis ada tersebut: "Rajin-rajinlah bekerja, bagaikan engkau akan hidup selamalamanya, tetapi kuat-kuatlah berbuat ibadat, bagaikan esok ajalmu akan sampai."

Cukuplah sudah lima tahun, sejak Sutan Baringin menghardik istrinya akan balas nasihat yang diterimanya. Apakah hasilnya sekarang? Sesal yang tiada berkeputusan sampai hari ini matinya.

Bagaimana keadaannya sekarang?

Setelah Baginda Mulia datang dari Deli, tiadalah pernah Sutan Baringin melawan dia bercakap, menyapa dengan sepatah kata pun tidak. Betapa herannya Baginda Mulia, tak usah dikatakan lagi; tiadalah mengerti ia akan sebabnya itu. Akan tetapi di belakang hari barulah diketahui maksud saudaranya yang pura-pura baik hati itu. Karena Baginda Mulia seorang yang tenang dan penyabar, tak sukalah ia menurut nafsu marah dan asutan orang luaran. Ia mengumpulkan kaum keluarga mereka itu akan memberi nasihat kepada Sutan Baringin dan memperdamaikan mereka itu. Di antara kaum keluarganya itu bapak Aminu'ddinlah yang tertua dan ialah yang lebih berkuasa mendamaikan perselisihan itu. Lagi pun ia seorang kepala kampung, lebih berderajat, tentu perkataannya lebih dihargai orang.

Sutan Baringin orang yang telah rusak binasa budinya dari kecilnya, tiada mempunyai hati yang baik, sedikit pun tidak. Loba dan tamak, dengki dan khianat, itu sajalah yang memenuhi pikirannya. Herankah lagi kita, kalau segala jerih payah bapak Aminu'ddin itu sia-sia belaka? Sutan Baringin tinggal bersitegang urat leher saja, perkataan siapa pun tiada diindahkannya, lain daripada asutan-asutan pokrol bambu yang cerdik itu.

Setelah dilihat Baginda Mulia saudaranya itu tiada terpujuk oleh kaum-kaum mereka lagi, maka ia pun memikirkan jalan yang lain akan menawari hati Sutan Baringin. Pada suatu malam sedang waktu amat dingin karena hujan datang rintik-rintik, pergilah Baginda Mulia ke rumah kakaknya itu. "Untung baik," pikirnya, "karena seorang pun tiada kawan dia di sini." Adapun maksudnya datang itu hendak melawan Sutan Baringin bermupakat.

Dengan taklimnya ia duduk bersila di hadapan kakaknya itu, tiadalah ditunggunya Sutan Baringin menegur dia dengan sepatah kata. Dengan suara yang lemah-lembut serta perlahan-lahan, ia pun berkata, "Adapun maksud adinda ini datang berjumpa dengan kakanda, yakni hendak menyerahkan badan diri adinda. Kakandalah yang menjadi ibu dan bapak bagi adinda yang sebatang kara ini. Kalau sekiranya ada kesalahan adinda, atau disebabkan adinda kurang hormat dan kurang bahasa kepada kakanda, besarlah harapan adinda, kakanda akan mengampuni kesalahan adinda itu semuanya. Tentang pusaka mendiang nenek kita tiadalah berapa adinda pikirkan, hanya adinda mengharap dapat bagian barang sedikit, sebagai tanda persaudaraan kita. Sekalikali tiadalah niat dan maksud adinda berperkara, sebagai asutan orang. Tentang banyaknya bagian adinda kakandalah yang maklum akan dia, bukanlah adinda minta seperdua. O, sekali-kali tidak, karena adinda pun maklum juga, kakandalah yang sulung. Apalah gunanya kita berselisih karena harta peninggalan nenek kita. Bukankah kebaikan antara orang bersaudara itu lebih berharga daripada emas dan perak? Itu pun haraplah adinda ini akan kemurahan kakanda, eloklah kita berdamai, supaya semangat mendiang nenek kita jangan gusar atas perbuatan kita itu."

Setelah itu maka ia pun diam menantikan jawab Sutan Baringin. Matanya tiada lepas dari muka saudaranya itu. Sutan Baringin duduk termenung, tiada berkata-kata. Entah disebabkan ia terkejut akan kedatangan adiknya itu, atau karena kekuatan perkataan Baginda Mulia itu. Maka tiada berapa lama antaranya, ia pun berkata, "Aku sudah mengerti tajamnya akalmu. Orang sedunia ini kaukumpulkan, kemudian engkau sendiri datang ke mari, akan tetapi aku takkan percaya akan orang yang bermulut manis."

Demikianlah dijawabnya akan perkataan saudaranya yang ke luar dari hati yang ikhlas itu. Akan tetapi apa boleh buat, siapa yang telah dimasuki setan itu tentu membenci kebaikan.

"Sampai hatikah kakanda menolak permintaan adinda itu? Lebih sukakah kakanda akan orang daripada kaum sedarah kakanda?" sahut Baginda Mulia yang putus asa itu.

"Diam, tak kukenal kau, engkau datang ke sini sebagai pencuri tengah malam, ayoh, nyah!" kata Sutan Baringin dengan suara kasar.

"Sarung yang bengkok dimakan pisau," sahut Baginda Mulia, sambil berdiri meninggalkan tempat itu.

Setelah lewat sebulan, sampailah perkara itu ke tangan pengadilan di Padangsidempuan, ibu negeri Pengadilan Angkola dengan Sipirok.

Pada masa itu Asisten-Residenlah yang menjadi kepala pengadilan itu. Hal itu acap kali kelihatan di negeri yang sunyi: jabatan pengadilan biasa ditempelkan kepada pegawai pemerintah. Hal itu tentu kuranglah baiknya. Syukurlah pada waktu ini sudah banyak yang diubah, dan pemerintahan serta jalan-jalan keadilan pun tentu jauh lebih baik.

Pada hari yang ditentukan dibukalah perkara Sutan Baringin dan Baginda Mulia itu. Amatlah banyaknya orang yang datang hendak menyaksikan, dan pokrol bambu pun datanglah dari segenap pihak. Adalah hal itu sebagai kebiasaan penduduk orang Sipirok. Mungkin di negeri-negeri lain begitu juga halnya. Bila tiada pekerjaannya yang perlu, umpamanya habis menyabit padi, datanglah mereka itu berkumpul- kumpul sekeliling pesanggrahan Sipirok[5]. Di situlah mereka mendengar bagaimana kesudahan perkara-perkara orang yang bermacam-macam. Pokrol-pokrol bambu mendengarkan orang bersoaljawab itu tentu dengan maksud belajar, supaya tahu ia nanti akan putarputar bicara. Perkara Sutan Baringin itu telah kebilangan ke manamana, oleh sebab itu amatlah banyaknya orang menonton. Sebagaimana kebiasaan, setelah orang yang beperkara sudah naik, maka Asisten-Residen yang menjadi kepala pengadilan itu, memberi nasihat kepada kedua mereka itu, Sutan Baringin dengan Baginda Mulia, supaya mereka itu suka berdamai.

"Tiadakah ada familimu yang menyelesaikan perselisihan ini? Bukankah lebih baik kamu berdamai saja? Berapa besarnya kerugianmu, kalau perkara diperiksa oleh hakim? Ongkos rapat, uang borong pasti dibayar, mana lagi waktu kamu yang terbuang; perseteruan makin dalam pula di antara kamu yang bersaudara."

Begitulah ujar kepala Pengadilan itu, tetapi tiadalah Sutan Baringin suka berdamai dengan Baginda Mulia. Jawabnya ringkas saja, "Orang ini tiada apa-apa kepada saya, Tuan."

"Kalau demikian, kamu jangan menyesal, rapat tentu melakukan keadilan, karena itulah kewajibannya. Dan ingat-ingatlah, orang yang beperkara itu amat susah: yang menang menjadi bara, yang kalah menjadi abu. Sekarang pemeriksaan dimulai," kata Kepala Pengadilan.

Yang busuk itu ketahuan juga. Sarung yang bengkok itu dimakan mata pisau, kata peribahasa orang tua-tua. Begitu juga halnya dengan perkara ini. Setelah tiga hari lamanya memeriksa perkara itu, keputusannya dibaca oleh garipir.

"Sebab sudah terang, Baginda Mulia saudara Sutan Baringin, yakni saudara senenek, maka rapat memutuskan Baginda Mulia menerima separuh daripada harta pusaka neneknya itu. Ongkos rapat dan uang borong harus dibayar oleh Sutan Baringin."

Keputusan sudah terjadi, kebenaran telah ke luar, yang bengkok sudah nyata, akan tetapi Sutan Baringin mendengar petuah pokrolnya lagi. la pun minta banding lagi ke Pengadilan Tinggi di Padang. Berapa ratus kerugian yang sudah-sudah tidak dipedulikannya. Pokrol bambu pun telah menerima bagiannya, mana lagi upah saksi palsu. "Akan tetapi tidak mengapa, asal menang juga kesudahannya. Bukankah di Padang pengadilan yang sebenarnya, di sana diperiksa sekalian perkara dengan teliti dan tenang," begitulah perkataan Marah Sait, yang mencelakakan Sutan Baringin yang bodoh itu.

Hati masih panas, bujukan Marah Sait amat manis. Pendek kisah Sutan Baringin minta banding lagi. Akan tetapi sekali ini haruslah mereka bersungguh-sungguh, yakni mereka itu berdua akan pergi sendiri ke Padang, supaya dapat menghadiri persidangan itu. Boleh jadi ia beroleh pengacara yang pandai di sana. Akan belanja dalam perjalanan yang sejauh itu sudah tentu berguna uang beratus-ratus pula, ya beribu-ribu lagi, asal ada, sudah tentu pokrol harus diberi upah yang cukup, di jalan pun naik kereta saja.

Waktu itu perjalanan ke Padang jauh lebih susah daripada sekarang. Jadi sudah tentu ongkos pun jauh lebih banyak.

Itu semua tiada dipikirkan Sutan Baringin; ya, kerbau di Padang Lawas masih banyak. Sekarang haruslah sekaliannya itu dijual, supaya ada penutup ongkos-ongkos perkara dan perjalanan.

Belanja di jalan, belanja di Padang, ongkos surat-menyurat, untuk ini itu lagi, semuanya mengosongkan kantung Sutan Baringin. Belanja pulang pun hampir tiada lagi, sedang yang dimaksud tiada dapat. Adakah manusia itu dapat membuat yang bengkok itu menjadi lurus, sungguhpun bagaimana kuatnya uang itu?

Ibu Mariamin yang duduk di rumah dengan masygulnya, ber oleh surat kawat, supaya ia menjual sawah lima piring dan uangnya harus dikirimkan dengan segera, supaya ada belanja pulang. Perempuan yang setia dan penyabar itu pun berbuat sebagai perintah suaminya itu. Betapa kedatangan Sutan Baringin kembali ke Sipirok, tak usahlah diceritakan lagi.

Dari Padang ia membuat rekes lagi ke Jakarta kepada Pengadilan Tertinggi di sana. "Semua ikhtiar haruslah kita perbuat, supaya kita jangan menyesal di belakang hari," kata pokrol yang cerdik itu. Akan tetapi ia berkata demikian itu akan mencari untung yang lebih banyak lagi; membuat rekes tentu mendatangkan upah baginya. Dan Sutan Baringin masih ada harapan lagi, sebagai orang yang berpenyakit sering menaruh harapan akan kesehatan, bila ia mendengar orang menceritakan kernujaraban suatu obat.

Ya, barulah tahu ia sekarang kebenaran perkataan istrinya yang baik hati itu, kebenaran nasihat kaumnya, kebetulan nasihat Kepala Pengadilan Sipirok. Akan tetapi sudahlah janjinya, bahwa yang kalah itu harus menjadi abu. Sekarang tiadalah terhingga sesalnya, karena ia menolak permintaan saudaranya dan mengusir dia pada malam itu. Tetapi apalah gunanya sesalnya itu, karena sudah terjadi.

Sekarang pulanglah ia ke kampung seorang diri, membawa malu, kehinaan, mendukung kemiskinan dan kemelaratan, karena harta telah habis musnah dalam waktu yang sekian pendek itu.

Memang seorang diri, karena Marah Sait telah mengambil jalan yang lain, akan menyisihkan Sutan Baringin. Ya, apakah yang dipedulikannya lagi; habis manis sepah terbuang, bukan?

Kini baiklah kita melayangkan pemandangan dahulu ke rumah Sutan Baringin di Sipirok, supaya dapat melihat hal si ibu anakberanak sebelum si bapak kembali.

Dengan hati yang gundah gulana si ibu menantikan suaminya pulang kembali. Malu, kemiskinan, kemelaratan tiada jauh lagi pada pemandangannya. Malu melihat orang banyak; miskin karena keadaan telah licin tandas, ada yang tinggal, harus dibagikan kepada Baginda Mulia; melarat, karena perbuatan suaminya itu. Akan tetapi apa boleh buat, semuanya itu harus ditanggung ibu yang malang itu dengan sabar juga; kepada siapakah akan dikeluhkan, kalau tangan kanan melukai tangan kiri?

Demikianlah ia berpikir-pikir pada suatu petang, ketika matahari hampir terbenam. Tatkala itu ia duduk di kebun, yang di belakang rumah mereka, sedang anaknya yang laki-laki bermain di tempat itu. Mariamin yang berumur dua belas tahun itu lagi mengerjakan pelajarannya, yang dibawanya dari sekolah.

Tengah ibu Mariamin duduk berangan-angan itu, nampaklah olehnya anak itu mengejar seekor kupu-kupu. Kupu-kupu itu hinggap pada sekuntum bunga melati. Anaknya itu mengambil sepotong kayu akan memukul binatang itu, karena amat inginnya hendak beroleh dia. Akan tetapi dengan sebentar itu juga ibu itu berlari, lalu menangkap tangan anaknya itu.

"Jangan dibunuh binatang itu, Buyung!" katanya, sambil merneluk dan memangku budak itu, lalu dibawanya ke tempat duduknya.

Anak itu menangis, seraya katanya, "Bukan, Mak, saya hendak menangkap kupu-kupu itu saja. Tengoklah, Mak, betapa elok sayapnya itu, berkilat kena sinar matahari. Tangkaplah, Mak! Saya ingin hendak memegang binatang itu."

"O, jangan!" sahut ibunya, "anakku tiada boleh menyakiti binatang."

"Bukan saya hendak menyakiti, hanya hendak memegang saja."

"Ya, Anakku, akan tetapi kalau engkau memegang sayapnya yang halus itu, tentu dia koyak. Dan binatang itu merasa sakit. Ah, jangan, Buyung; ia hidup di dunia hanya sehari saja."

"Kalau saya pegang sayapnya itu, ia merasa sakit, Mak? Adakah kupu-kupu itu mempunyai perasaan, seperti kita?"

"Ya, tentu. Tengoklah betapa riangnya binatang itu hinggap di atas bunga itu. Ia diayun-ayunkan angin yang lemah-lembut itu. Kalau ibu membuai-buaikan engkau, tentu hati anakku girang, bukan?"

Budak yang kecil itu berdiri mengamat-amati kupu-kupu itu. Ibunya berdiri juga dekat pohon bunga melati itu, tangan anaknya itu dipegangnya. Sejurus panjang lamanya budak itu pun bertanya, "Kalau demikian ada juga perasaan binatang itu, ya, Mak?"

"Ya, tentu dia merasa sakit dan senang sebagai kita juga."

"Perasaan saya ada juga, Mak?"

"Ya."

"Di manakah tempatnya?"

"Pada seluruh badanmu, dan di dalam hati. Tengok, kalau kau jatuh, engkau menangis, sebab kakimu sakit. Kalau hujan datang, anakku kedinginan. Jadi perasaan itu ada pada seluruh badan kita."

"Dalam hati ada juga, Mak?"

"Ya, Nak. Kalau Riam mengganggu engkau, engkau menangis. Sebab hati anakku sakit. Hati bunda pun sakit juga, kalau anakku nakal. Kalau anak manis, mak riang, karena hati mak senang melihatnya."

Budak itu mendekap ibunya, seraya berkata, "Ibu, jangan, saya tidak mau nakal."

Si ibu memeluk anaknya itu lalu diciumnya berulang-ulang, air matanya jatuh berlinang-linang, karena perkataan anaknya itu.

Kupu-kupu itu mengembangkan sayapnya yang permai itu, lalu terbang mencari makanannya.

"Selamat jalan, hai kupu-kupu yang riang! Engkau hidup sebentar di dunia, akan tetapi suatu pun tak ada yang kaususahkan. Berbahagialah orang yang serupa engkau," kata ibu yang baik hati itu, sambil menurutkan dengan matanya kupu-kupu itu terbang, sehingga lenyap dari pemandangannya.

"Mak! Bunga melati yang kembang itu halus juga. Adakah juga ia mempunyai perasaan?" tanya budak itu.

Si ibu tiada menjawab pertanyaan anaknya itu: barangkali tiada didengarnya, karena pada sekejap itu juga Mariamin datang berlari-lari mendapat mereka. Dari jauh ia telah berseru dengan riangnya, "Apa pekerjaan mak di sini?"

Setelah ia dekat, lalu berkata pula, "Sukakah ibu mendengar syair? Saya membawa Suluh Pelajar, yang kupinjam dari Engku Guru."

Si ibu pun duduklah di atas bangku, Mariamin membuka Suluh Pelajar itu lalu dibacanya syair yang di dalam itu. Meskipun perkataan dan kalimatnya terlampau tinggi bagi dia, akan tetapi dirasainya juga akan kenikmatan syair itu.

Beginilah bunyi syair itu:

Apabila bunda membuaikan kita,
Berapa banyak nyanyi dan kata:
"Besarlah buyung intan permata,
Buah hati permainan mata.

Buah hati pengarang jantung,
Tempat bunda mengatakan untung,
Dunia akhirat tempat bergantung,
Harapan bunda janganlah buntung.

Ya Allah, Tuhan sernesta!
Anak 'ku junjung bagai makota,
Akan pakaian permainan mata,
Pengganti gelang cincin permata.

Anakku kandung emas dan urai,
Biarlah sama terjun di ngarai,
Habis daging, tulang berkirai,
Tandanya bunda enggan bercerai.

Bunda tak suka cerai dan genggang,
Biar ke laut ke gunung kerang,
Meskipun dalam tohok dan perang,
Penghabisan kasih anakku seorang.

Jerat semata oleh bunda kandung,
Waktu panas tempat berlindung,
Waktu hujan keganti tudung,
Harapan bunda janganlah kudung.

Putus ... tak ada akan penghubung,
Ke langit rasanya bunda membubung,
Bak rumah tiris tidak berabung.
Bagaikan padi tak berlumbung.

Habislah bulan tahun berganti,
Besarnya anak dinanti-nanti,
Perintah bunda anak turuti,
Dari sekarang sampai 'ku mati.

Besarlah anak bundaku julang,
Anak mencari apa yang hilang,
Pada masa kurang tempat menyelang,
Yang jauh ia akan menjelang.

Haraplah bunda anaknda ingat,
Apa yang di dada bunda tersurat,
Biarpun tuan di dunia melarat,
Asal selamat dalam akhirat."

Pada waktu itu matahari yang menerangi alam itu pun sudahlah masuk ke balik Sibualbuali; rupanya telah payah, sedang makhluk yang mendiami bumi itu pun telah bercintakan hari malam, supaya ia berhenti melepaskan lelahnya. Angin gunung yang lemah dan sejuk pun bertiuplah membawa udara yang harum dan wangi serta dengan segarnya.

Sejurus panjang lamanya si ibu itu terdiam, karena hatinya terkena oleh bunyi syair yang dibacakan anak itu. Sayu dan rayu perasaannya mendengar suara anaknya itu dan dalam hatinya ia berkata, "Demikianlah harapan ibu, akan tetapi anakku ini sudah tentu melarat di belakang hari, meskipun mereka itu tiada bersalah. Ya, Allah, ya, Tuhanku, janganlah balas dosa orang tuanya kepada umat-Mu yang tiada bersalah ini."

Tabuh magrib berbunyilah di mesjid besar, si ibu dengan anaknya itu pun naiklah ke rumah, karena sudah mulai gelap.

Kota Sipirok suatu pun tiada perubahan, akan tetapi dalam rumah tangga Sutan Baringin sebagai siang dengan malam pertukarannya. Di manakah rumahnya, karena rumahnya yang dahulu itu telah didiami orang lain?

Itulah rumahnya, yaitu rumah bambu yang di pinggir sungai itu. Suatu perubahan yang tak mungkin rupanya, karena seminggu yang lalu mereka itu masih diam di rumah yang besar serta dengan bagusnya. Itu memang benar. Karena baru Sutan Baringin pulang dari Padang, segala hartanya yang tinggal sudah terserah kepada yang berhak. Rumah dan barang-barang sudah terjual akan pembayar utang.

Sekarang terpaksalah mereka itu anak-beranak membawa periuk, piring dua tiga buah, ke rumah kecil yang di tepi sungai itu. Sungguh amat kasihan. Dahulu tinggal di gedung besar, sekarang dalam pondok kecil dan bambu. Perkakas dan perhiasan rumah yang dahulu itu telah hilang, hanya yang buruk-buruk sajalah yang tinggal.

Sekarang baiklah kita masuk ke dalam pondok kecil itu, akan mempersaksikan pertukaran yang amat besar itu.

Seorang laki-laki tidur di atas sebuah tikar pandan. Bantal pengalang kepalanya hanya sebuah serta dengan kotornya, dan selimutnya pun telah koyak-koyak karena tuanya. Lihatlah bagaimana kurus dan pucatnya orang yang tidur itu. Sudah tentu dia itu orang sakit. Matanya ditutupnya, akan tetapi ia tiada tertidur. Dadanya turun naik, karena napasnya yang kencang itu, alamat orang itu sakit panas. Peluhnya mengalir di mukanya; sebentarsebentar dihapus seorang perempuan yang duduk dekat kepala si sakit, dengan sehelai sapu tangan. Dengan suara yang mengeluh si sakit meminta air akan memuaskan dahaganya.

"Diri kehausan, baiklah diri meminum obat ini, karena dia itu pun dingin juga. Kalau kakanda meminum air banyak-banyak, tentu tiada baik, karena badan kakanda masih hangat," sahut perempuan itu dengan suara yang lemah-lembut.

"Tak usah adinda lagi membagi kakanda obat, kakanda sudah jemu di dunia ini. Lagi pula penyakitku tak akan baik lagi. Baiklah adinda menyenangkan hatiku," kata orang sakit itu perlahan-lahan.

Perempuan itu tiada menjawab, hanya air matanya yang menitik ke atas bantal orang sakit. "Benarlah rupanya aku ini orang yang malang; kalau suamiku ini meninggal, apatah jadinya nasib kami anakberanak?" pikir perempuan itu dalam hatinya. Ia pun termenungmenung, tiada memandang ke kiri dan ke kanan. Matanya melihat ke arah dinding saja, akan tetapi suatu pun tak ada yang tampak olehnya, karena mata hatinya meninjau ke muka, ke tempat yang jauh, yakni halnya yang akan datang. Adalah ia melihat jalan kehidupannya makin lama makin sempit dan berbatu-batu pula. Sekarang temannya dalam perjalanan itu akan meninggalkan dia. Wah, betapakah jadinya dia anak-beranak, sedang tempat mengadu pun tiada lagi?

Sambil berpikir-pikir demikian itu, tiadalah diketahuinya air matanya jatuh bertitik-titik, sebagai air mayang enau baru dipancung.

Orang sakit itu membuka matanya, kesal serta sedih rasa hatinya, karena tahulah ia yang disusahkan istrinya itu. Melihat muka yang muram serta air mata yang berlinang-linang itu, hancurlah hati laki-laki yang keras kepala itu. Ia segan akan berkata. Matanya dipejamkannya kembali serta ia mengenangkan perbuatannya yang sudah-sudah itu.

Siapakah yang sakit itu, tak lain daripada Sutan Baringin, dan perempuan yang menjaganya ialah istrinya. Baru ia datang dari perjalanan dan sesudah harta bendanya jatuh ke tangan orang, ia pun jatuh sakit. Penyakitnya itu bertambah-tambah, meskipun istrinya, sudah bersungguh-sungguh mencarikan obat ke sana-sini. Asal mula penyakit Sutan Baringin itu mungkin karena dukacita yang sudah terlampau, sebagai katanya tadi, lebih sukalah ia mati daripada hidup menanggung malu dan kemelaratan yang besar itu. Sungguhpun obat diminumnya juga, akan tetapi tak adalah ia mengharap akan baik kembali. Ya, benarlah yang demikian itu, ia pun telah merasa ajalnya sudah dekat.

Sutan Baringin, amatlah sengsaranya! Dia seorang bangsawan dan hartawan, sekarang menjadi hina dan dina di mata orang. Semenjak dari kecil sampai besar hidup dalam kesenangan dan kekayaan, sekarang waktu akan mengembuskan napas yang penghabisan dalam azab dan sengsara. Sungguhlah hidupnya yang penghabisan itu penuh dengan kemelaratan!

Akan tetapi kepada siapakah akan disesalkan, karena sekaliannya itu kesalahannya sendiri. Pujuk dan rayu, dibuangnya ke belakang saja, tegur dan nasihat tak dipedulikannya. Di antara kaum keluarganya jauh dan dekat, seorang pun tiada yang bersalah. Ya, cuma seorang sajalah tempat dia menyesal, yakni ibunya, yang mendidik jadi anak manja. Kalau sekiranya ia tiada memanjakan semasa hari mudanya, barangkali dia tiada semelarat itu, tetapi ya, sudah telanjur. Besarlah tanggungan ibu dan bapak, kalau anak yang diserahkan Tuhan itu kepada mereka binasa budi pekertinya.

"Nuria," seru Sutan Baringin dengan suara yang hamper-hampir putus.

Perempuan itu terkejut serta memandang suaminya.

"Berilah aku air barang sedikit. Tiada tertahan olehku panasnya ini, kerongkonganku sudah kering dan lidahku pun rasa terbakar."

Dengan perlahan-lahan perempuan itu memberi minum suaminya. Si sakit itu pun berkumur-kumur, lalu minum. Matanya tiada lepas dari muka istrinya itu, tetapi sepatah kata pun tiada keluar dari dalam mulutnya. Kemudian ia pun menyapu air matanya; pilu rasanya hatinya melihat istrinya, kawan sepenanggungannya itu.

"Nuria, marilah adinda dekat-dekat, supaya adinda dengar suaraku dengan nyata!" kata suaminya kemudian.

Istrinya pun duduklah dekat bantal si sakit, seraya telinganya dipasangnya baik-baik, supaya segala perkataan suaminya itu dapat didengarnya dengan nyata.

"Sebelum kekuatanku habis," kata Sutan Baringin, "selama kakanda dapat berkata, kakanda hendak mengeluarkan apa yang terisi dalam dada kakanda ini, supaya adinda mendengar dia. Besok lusa, tak sempat lagi rasanya, karena ajalku sudah dekat. Keraskan hatimu Nuria, engkau jangan menangis, karena air matamu yang bercucuran itu memilukan hatiku. Tiadakah adinda menaruh kasihan kepada kakanda, hidupku tiada lama lagi? Sudikah adinda mendengar bicaraku ini dan maukah nanti adinda berkata benar menjawab pertanyaanku?"

Si ibu menganggukkan kepalanya, hendak berkata tak dapat lagi.

"Nuria, adakah adinda kasih akan kakanda ini?"

"Sejak mulai kita kawin sampai saat ini tiadakah kakanda merasa cintaku?" dengan air mata bercucuran. "Sekali lagi adinda katakan: Adinda ini amat kasih akan kakanda, sungguh amat kasih, lebih daripada yang lain. Aduh, betapakah melaratnya adinda anak-beranak kalau kakanda meninggalkan kami dalam keadaan sebagai ini. Siapakah lagi gerangan kawan adinda membagi susah dan duka? Siapakah orang yang mau mendengar keluh kami anak-beranak?"

"Adinda jangan berkata demikian. Sekarang kakanda mengucap syukur kepadamu. Tiadalah seharusnya bagiku menerima kasih dan sayang daripadamu, karena selama ini tiadalah kakanda mencintai adinda sebagaimana yang patut. Sungguh hatimu amat mulia, tiadalah berpadanan dengan kelakuanku yang hina ini. Oleh sebab itu haraplah kakanda, adinda mengampuni kesalahanku itu.

Kedua: barulah sekarang kakanda menyesal, sebab tiada mendengar nasihat adinda. Engkau sampailah rasanya menarik kita semua dengan sekuat-kuat tenagamu, supaya kita anak-beranak jangan sampai terjerumus ke lautan kemiskinan; akan tetapi kakandalah yang menenggelamkan kita sekalian. Itu sudah dengan takdir Allah. Kakanda orang celaka, itulah yang menyebabkan sengsara besar ini. Dan seharusnyalah itu akan membalas perbuatanku; akan tetapi adinda dan anak kita yang dua orang itu menanggung azab juga. Sungguh amat berat kesalahan kakanda itu. Pikiran yang demikian itulah yang menyakiti hatiku. Akan tetapi apa boleh buat, sesalku itu tak berguna lagi. Hanya satu sajalah sekarang yang dapat kuperbuat, yakni mohon kerahiman Allah yang rahmat, mudah-mudahan dosaku itu diampuni- Nya. Adinda yang tinggal pun kakanda doakan juga; mudah-mudahan Allah yang mengasihi makhluknya, memelihara adinda dari bencana dunia. Terimalah tanganku ini!" di sini Sutan Baringin mengangkat tangannya, istrinya menerima tangan itu. "Itulah tanda kasihku akan adinda. Bila kita nanti sudah bercerai, janganlah adinda berkata, "Ia sudah meninggal, laki yang tiada mengasihi istri. Karena meskipun dahulu adinda kurang kuindahkan, sekarang mengakulah kakanda, adindalah cahaya dan biji mataku, adindalah jiwa kakanda, sayang kakanda yang celaka ini tiada menurut nasihat adinda menuju jalan yang sempurna itu. Tapi sudahlah takdir Allah yang akbar demikian."

Di sini terhentilah katanya, karena napasnya makin kencang, ia pun tiada dapat berkata-kata lagi, matanya terbelalang dan ia pun pingsanlah. Sejurus lamanya sadarlah ia.

"Adinda Nuria," katanya pula, "makin lemah rasanya perasaanku, kekuatanku hampir tak ada lagi, pikiranku pun sudah jauh dari dunia ini. Sudah datangkah si Riam?"

Maka dipeluk dan dicium oleh Sutan Baringin anaknya itu berganti- ganti dan air matanya bercucuranlah. Sekaliannya menangislah tersedusedu.

"Selamat tinggal kepada kamu sekalian, adinda yang kucintai dengan anakku berdua yang malang. Tuhan-lah mengampuni dosaku yang besar itu!" ujar Sutan Baringin.

Kemudian ia memberi tanda, supaya istrinya pergi ke luar. Maka ia pun memutar kepalanya lalu tidur.

Berat rupanya beban yang dipikul si sakit itu, tetapi lebih berat lagi beban si ibu itu, karena suaminya hendak meninggalkan dunia yang fana ini. Akan tetapi bagi si ibu? Sekarang ialah yang menjadi ayah dan bunda budak yang dua itu. Ialah yang akan memikul segala tanggungan, baik di dalam atau di luar rumah. Akan tetapi ia tiada pernah putus asa. "Pada waktu kesukaan aku tak melupakan Tuhan, dan pada waktu kedukaan pun tidak. la tiada melupakan hamba-Nya," demikianlah perempuan itu berkata dalam hatinya. Syair puji-pujian pun keluarlah dari mulutnya, sedang ia duduk di rusuk rumahnya memandang ke arah sungai yang mengalir di tempat itu.

Adapun syair itu dipelajarinya tatkala ia anak-anak. Daripada ibunya, seorang perempuan yang kuat beribadat. Sayang sedikit syair itu dalam bahasa Batak. Bacalah, adalah kira-kira begini salinannya.

Isinya yang amat dalam dan berat itulah yang menyenangkan hati pembaca :

Dalam tanganmu, ya Allah, ya Tuhanku,
Terserah badan dan jiwa serta nasibku,
Engkau Tuhan sarwa sekalian alam,
Sekalian yang ada:
Bulan dan bintang, Manusia dan binatang,
Engkau pelihara dengan sempurna.

Dalam rahmat-Mu, ya Allah, ya Tuhanku,
Bergantung sekalian cinta harapanku,
Hebat dan keras gelombang memukul,
Haluan perahuku di tengah lautan,
Lautan kemiskinan dan kemelaratan,
Tetapi hambamu tiada masygul,
Karena Engkau-Lah yang memelihara,
Sekalian umat-Mu yang sengsara.

Betul hamba kerap kali tersesat,
Dari jalan yang lurus kebenaran,
Disebabkan ombak gelombang dunia,
Akan tetapi, meskipun hamba-Mu sarat,
Oleh karena bala pengajaran,
Tiada hamba berhenti mohon kurnia,
Karena Engkau-lah Tuhan kami sekalian,
Umat yang hina Engkau jadikan.

Keras ombak di lautan,
Angin topan bersiut-siut,
Perahuku hampir tenggelam-tenggelam,
Bulu romaku sudah seram-seram,
Akan tetapi badan dan jiwaku,
Engkau-lah memelihara, ya Tuhanku!

Meskipun ombak makin besar,
Laut bergelora sekuat-kuatnya,
Meskipun hidupku makin sukar,
Azab dunia menunjukkan bisanya,
Tiadalah dia kuindahkan,
Karena—lepas ajalku—
Engkau menerima jiwaku
Dengan Kurnia-Mu, ya Allah yang dermawan.

Hati siapakah yang tiada sayu? Matahari itu makin lama makin tinggi, akan tetapi cahayanya dihambat oleh awan yang bergumpalgumpal. Dataran tinggi Sipirok yang jongkat-jangkit itu tiada beroleh sinar raja siang, karena dilindungi oleh awan yang hitam itu. Angin pun tiada berembus dan daun kayu-kayuan pun tidak bergerak semuanya. Lengang dan sunyi rupanya kota Sipirok yang indah itu, sedang orang banyak pun telah pergi ke ladang dan kebun kopi mereka masingmasing. Dari mulut Gunung Sibualbuali yang berapi itu keluarlah perlahan-lahan asap yang bergumpal-gumpal naik lurus ke atas, karena udara yang memalut bumi ini tiada berjalan adanya.

Bunyi burung-burung, seperti balam dan tekukur pun tiada kedengaran, sedangkan murai yang biasa berkicau itu pun tiada kedengaran bunyinya. Semuanya diam dan termenung, seolah-olah perempuan janda yang berkabung. Hanya bunyi siamanglah yang kedengaran sekali-kali dalam hutan yang menutup lereng Sibualbuali itu. Bunyi siamang yang tiada pada waktunya itu, adalah sepanjang kepercayaan orang kampung alamat ada orang yang akan meninggal.

Hati siapakah yang tiada pilu melihat kejadian di dalam rumah miskin yang di pinggir Sungai Sipirok itu?

Sutan Baringin memberi isyarat, supaya istrinya menelengkan telinganya dekat mulutnya. Perempuan itu pun berbuat yang demikian itu.

Kemudian berkatalah Sutan Baringin, "Ajalku sudah sampai ... peliharakan anak yang ... dua orang itu. Selamat ..., selamat tinggal!" Ia pun menarik napas yang panjang. Anak dan istrinya duduk berkeliling, menanti-nantikan perceraian dunia itu. Kaki dan tangan si sakit itu tiada bergerak lagi, dadanya pun telah diam. Tiba-tiba ia membukakan matanya yang telah hilang cahayanya, seperti lampu yang malap. Sekali lagi ia menarik napas, dan matanya yang hidup itu memandang muka mereka yang berkeliling itu, mulai dari anak yang bungsu sampai kepada si ibu.

Itulah pandang yang penghabisan, karena sebentar itu juga ia pun menutupkan matanya. Arwahnya pun keluarlah meninggalkan jasadnya (tubuh), karena badan itu hendak kembali kepada asalnya.

Catatan kaki[sunting]

  1. Meletakkan tikar yang tengah dianyamnya. Biasanya perempuan-perempuan di kampung duduk bekerja, umpamanya menjahit, merenda; orang yang menganyam tikar itu pun duduk juga. Kakinya diulurkannya ke muka, tikar yang dikerjakannya itu diletakkannya di atas kakinya itu. Demikianlah perempuan itu bekerja. Menganyam tikar itu suatu kerajinan pula; biasanya dibuat dari pandan. Tikar yang halus berharga kadang-kadang sampai empat rupiah, karena amatlah perlunya bagi orang kampung. Jamu duduk biasanya di atas tikar, akan tempat tidur pun dipakai juga.
  2. Tempo dahulu sekolah rendah masuk pukul delapan.
  3. Kain Batu-Bara itu berasal dari negeri Batu-Bara. Kain ini terkenal ke mana-mana, karena tenunannya halus dan benangnya benang sutera; raginya pun amat indah-indah. Biasanya bertenun kain itu pekerjaan perempuan; boleh dikatakan itulah, pencarian mereka itu di sana. Tetapi bertenun itu amat lambat, kadang-kadang tiga minggu barulah siap sehelai. Harganya pun mahal, sampai dua puluh rupiah.
  4. Si Tongam, nama kecil Baginda Mulia. Arti perkataan itu: mulia (bahasa Batak). Biasanya nama pertama itu acap kali bersamaan artinya dengan gelar.
  5. Pesanggrahan di Sipirok, yakni gedung besar, kebiasaan tempat orang-orang Belanda bermalam, karena di sana tiada hotel seperti di negeri ramai, Pesanggrahan yang di Sipirok itu dipergunakan juga sebagian tempat persidangan, karena kantor pengadilan tak ada.